Home » Berita Terkini

Soekarwo: KLB Flu Babi Tak Menguntungkan Psikologi Masyarakat

SURABAYA | SURYA Online - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo, belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) terhadap wabah penyakit flu babi (H1N1) meski 36 pasien dinyatakan positif.

“Belum ada KLB karena yang paling penting saat ini adalah menyiapkan semua komponen medis dan berbagai peralatannya untuk menangani wabah flu babi itu,” katanya seusai rapat koordinasi penanganan flu babi di rumah dinas gubernur, Jalan Imam Bonjol, Surabaya, Kamis (30/7).

Menurut Soekarwo, jika pihaknya menentapkan KLB dalam kasus itu, justru sangat tidak menguntungkan dari sisi psikologi masyarakat. Untuk penanganan wabah tersebut, pemerintah provinsi ini telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 3 miliar.

Pihaknya juga telah meminta seluruh komponen di bidang kesehatan memberikan pelayanan ekstra untuk mengatasi flu babi.

Penanganan flu babi akan menjadi prioritas utama dibandingkan dengan penanganan permasalahan kemiskinan. “Oleh sebab itu, meningkatkan pelayanan kesehatan pada pasien flu babi lebih penting ketimbang menetapkan status KLB,” kata mantan Sekretaris Dewan Provinsi Jatim itu.

Saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim telah melakukan koordinasi dengan seluruh rumah sakit di kabupaten/kota. Bahkan saat ini juga dibentuk tim yang melakukan penanganan pasien flu babi secara menyeluruh.

“Tim itu tidak sekadar menunggu pasien di rumah sakit, tetapi juga siap jemput bola pada satu komunitas yang diduga terjadi ’suspect’ flu babi,” kata Soekarwo menjelaskan.

Ia meminta masyarakat untuk menjaga kebersihan dan sanitasi di lingkungannya. “Kebersihan dan sanitasi menjadi salah satu acuan untuk mengurangi penularan virus flu babi ini,” teranganya.

Tersebar di 12 Daerah
Kepala Dinkes Jawa Timur (Jatim), dr Pawik Supriyadi mengungkapkan, hingga saat ini flu babi sudah menyebar di 12 daerah di Jatim. Berdasarkan data Dinkes Jatim, hingga saat tercatat 89 orang terjangkit, sebanyak 36 di antaranya dinyatakan positif.

“Meskipun demikian, hampir semuanya bisa disembuhkan dan pasien diperbolehkan pulang,” katanya.
Sebanyak 12 daerah yang menjadi wilayah penyebaran virus tersebut, yakni Banyuwangi, Lumajang, Surabaya, Nganjuk, Malang, Sidoarjo, Jember, Ponorogo, Mojokerto, Probolinggo, Jombang, dan Lamongan.
Akan tetapi, lanjut dia, tidak semua daerah itu ditemukan pasien positif terjangkit virus H1N1.

Menurutnya, penanganan flu babi ini akan menyertakan Dinkes di setiap kabupaten/kota. “Kalau ditemukan pasien yang mengalami flu, akan ditangani oleh puskesmas setempat. Jika nanti di antara pasien itu ditengarai ada yang ’suspect’, akan langsung ditangani rumah sakit terdekat. Dan jika kondisinya cukup berat, langsung dirujuk ke rumah sakit pemerintah Jatim,” kata Pawik.

Pihaknya sudah menyiapkan delapan rumah sakit pemerintah di Jatim yang akan menampung pasien flu babi. “Soal biaya, akan diusulkan kepada Departemen Kesehatan,” katanya.

Namun, karena anggaran di pusat terbatas, pihaknya juga mengajukan anggaran dalam perubahan APBD mendatang. “Sebelumnya kami anggarkan Rp 1 miliar, khusus untuk flu babi. Karena saat ini kondisinya lebih serius, kami mengajukan anggaran Rp 2,5 miliar, ditambah Rp 500 juta untuk menyiapkan ruang baru penanganan flu babi di RSUD dr. Soetomo,” jelas Pawik.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Soetomo, Surabaya, dr Slamet R Yuwono, mengimbau masyarakat tidak perlu panik dalam menyikapi wabah itu. “Yang penting, saat terjangkit penyakit flu segera datang ke institusi kesehatan terdekat,” katanya.

RSUD dr Soetomo sudah berpengalaman menangani wabah penyakit menular. Sebelumnya, RSUD dr Soetomo beberapa kali menangani pasien akibat merebaknya wabah flu burung dan wabah “Severe Acute Respiratpry Syndrome” (SARS) beberapa waktu lalu. ant

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "