MALANG | SURYA - Bagi Dewi, salah-satu saksi kunci dalam peristiwa penyergapan Dr Azahari, rumah yang pernah ia tinggali dan kemudian dikontrak oleh gembong teroris itu, menyisakan kenangan sendiri.
“Saya tak sempat melihat wajah Dr Azahari setelah pindah kontrakan ke tempat lain. Tapi, saya masih sempat ke sana, sekadar ingin tahu orang-orang yang baru mengontraknya dan menengok perabot saya yang masih tertinggal. Ternyata, tidak seperti waktu saya tempati, dua sofa di kamar saat mereka tempati sudah tidak ada,” ujar Dewi yang berpindah ke rumah lain di kompleks yang sama, yakni Perumahan Flamboyan, Kota Batu.
Penghuni baru ada lima orang. Yakni Azahari, Cholily, Budi, Noordin M Top, dan Teddy. Dua nama terakhir hingga kini masih diburu polisi terkait kasus dugaan pengeboman di sejumlah tempat di Indonesia –termasuk di Ritz Carlton dan JW Marriott, Jakarta, 17 Juli lalu.
“Kata Cholily, mereka memang tidak mendapatkan perabot. Saya kasihan juga. Mereka kemudian minta saya agar tak mengambil beberapa almari dan meja milik saya. Akhirnya itu saya tinggalkan untuk mereka,” sambung Dewi.
Saat hendak melihat satu kamar yang selalu tertutup, Dewi mengaku dihalangi Budi alias Arman. Budi berdalih temannya yang menempati kamar itu, yakni Azahari, sedang keluar dan kamarnya dikunci. “Padahal, setahu saya dua kamar itu tak ada kuncinya,” ujarnya.
Beruntung Dewi tak sempat membuka kamar Azahari. Karena pasca penyergapan, saat menjadi saksi sidang Cholily di Bali, Dewi diberitahu anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri bahwa di ujung setiap sudut pintu kamar Azahari itu sudah terpasang bom. “Sekali dibuka, akan langsung meledak,” katanya.
Di kamar yang pernah ia huni, Dewi mengaku tak menemukan keanehan, selain sebuah peta Kota Batu dengan beberapa lokasi bangunan yang diberi titik-titik hitam. Ia tidak tahu apakah itu target pengeboman atau tidak.
“Saya sendiri juga diingatkan polisi agar tak terlalu masuk. Data-data saya saja juga dibawa ke polda,” katanya.
Dewi memang salah satu saksi kunci selain Ny Salamun, yang rumahnya persis berhadapan dengan kontrakan Azahari –yang diserbu Densus 88 pada 9 November 2005. Azahari, doktor lulusan Inggris yang ahli merakit bom, tewas dalam penyergapan itu.
Pada Desember 2006 lalu, Dewi dan Ny Salamun bersama enam warga Perumahan Flamboyan dibawa ke Bali guna menjadi saksi persidangan terhadap Cholily, yang didakwa sebagai kurir Azahari dan Noordin.
Dewi memang tahu banyak soal rumah itu. Ia mengaku juga sempat melihat detik-detik akhir sebelum terjadi penyergapan Azahari. “Saya sudah tahu siapa yang tertangkap dan tidak saat itu. Sejak pagi, Noordin Top dan Teddy kan sudah keluar rumah. Jadi kalau sampai saat ini Noordin belum tertangkap, pasti ya sama Teddy. Wong mereka itu pasangan-pasangan,” kata Dewi.
Baik Dewi maupun Ny Mudayah mengharapkan, semestinya saat ini ada pihak yang ikut membersihkan rumah bekas kontrakan Azahari di Perumahan Flamboyan Blok A1-17, Kota Batu, itu.
Sekalipun tidak dijadikan monumen, sebagaimana pernah digagas almarhum mantan Wali Kota Batu Imam Kabul, hendaknya tempat itu menjadi pengingat atau tetenger bahwa di sini pernah terjadi penyergapan gembong teroris. Ya, semacam obyek wisata sejarah untuk pembelajaran atau kewaspadaan bahwa teroris bisa berada di mana-mana.
Namun Pemkot Batu, menurut Kabag Humas Drs Eko Suhartono, tak berani mengambil kebijakan terkait rumah tersebut. Apalagi, pemilik rumah juga membiarkan begitu saja.
Dari penelusuran Surya, rumah kontrakan Azahari itu milik Soepomo, warga Surabaya. Namun, Soepomo agak sulit ditemukan karena ketika Surya mengunjungi rumah yang dulu ditinggalinya di kawasan Menur Pumpungan, Surabaya, rumah tersebut ternyata kini sudah dikontrakkan. Si pengontrak mengaku tak tahu di mana alamat pemilik rumah.
“Pemilik rumah yang pernah dikontrak Azahari itu tak pernah berkoordinasi dengan kami untuk membicarakan bagaimana sebaiknya memperlakukan rumah yang pernah ditinggali teroris. Apakah akan dijadikan semacam tetenger atau apa. Karena itu, kami tidak bisa berbuat seperti yang warga inginkan,” kata Eko Suhartono, Kabag Humas Pemkot Batu.
***
Jumat, 24 Juli 2009. Kevin, 10, dan adiknya, Devi, 4, tampak sangat ceria. Usai pulang sekolah, keduanya bermain sandal klompen di depan bekas reruntuhan kontrakan Azahari yang berada persis di rumahnya.
Tak ada trauma atau ketakutan yang membekas di wajah Kevin, bocah kecil yang terakhir diajak bermain oleh Cholily ini. “Lupa-lupa ingat, Mas. Saat itu kan saya masih kecil, tapi sekarang sudah aman. Nggak ada hantunya kok,” katanya.
Erin, ibunda Kevin menuturkan, putranya hanyalah bagian kecil dari drama cerita penyergapan Azahari karena kebetulan ia pernah sekali diajak bermain oleh Cholily. Karena itu, kejadian itu tak banyak menyita perhatiannya.
“Yang lebih merasakan sebenarnya, ibu (Ny Salamun). Sebab, beliau yang setiap hari ngobrol dengan mereka. Ibu juga yang paling sering kontak dengan Pak Soepomo. Tapi ibu sekarang sedang ke Semarang, jadi nggak bisa menjelaskan,” urainya.
Asnan, Ketua RT 1/RW 09 Kelurahan Songgokerto Kecamatan Kota Batu mengatakan, siapa pun tidak ada yang pernah menduga bila kawasan perumahan itu bakal menjadi pelarian Azahari. “Kawasan di sini memang sepi. Dulu, perumahan ini dibangun untuk karyawan PT Wastra Indah (pabrik tekstil grup Texmaco, -Red). Namun dalam perkembangannya banyak yang dijual dan dipindahtangankan,” ujarnya.
Hingga saat ini, kata Asnan, rumah yang pernah ditinggali Azahari selama tiga bulan itu memang tak pernah dijenguk lagi oleh pemiliknya. Tak ada yang mau membersihkan, sehingga terkesan kotor.
“Dalam waktu dekat kami akan mengumpulkan warga untuk kembali menertibkan administrasi kependudukan di sini. Kini, mulai terjadi lagi warga masuk keluar silih berganti tanpa melapor,” tandasnya. agus setiawan, taufiq zuhdi
Dibaca: 256 kali