Noordin Bisa Tertawa Nonton TV

* Media Dinilai Jadi Alat Teroris
* KPI Akan Tegur 2 Stasiun TV
Jakarta-Surya
-Gencarnya pemberitaan media tentang ledakan bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott dinilai telah menganggu aparat keamanan dalam upaya mereka mengejar para tersangka teroris yang melakukannya.

Lebih ironis lagi, pemberitaan media yang kurang bijak malah bisa menguntungkan para tersangka teroris, karena sebagian keinginannya tercapai lewat perantaraan media, yakni tersebarnya rasa takut di masyarakat.

Seorang pengamat media menyebut, mungkin saja dedengkot teroris yang kini dicari-cari, Noordin M Top, merasa gembira atau tertawa menonton pemberitaan bom di media massa di Indonesia, terutama televisi. Sebab, bukan tidak mungkin justru tayangan media malah mengungkap sesuatu yang merupakan informasi berharga bagi para teroris untuk menghindar dari kejaran aparat keamanan.

Karena itu, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Mabes Polri, Irjen Pol Nanan Soekarna mengatakan secara tak disadari media kini telah menjadi alat bagi teroris.
“Pemberitaan tentang ledakan bom itu ditayangkan 24 jam, dari pagi sampai pagi lagi. Teroris itu (memang) berharap media mempublikasikan apa yang ia kerjakan sehingga menakuti. Dengan tidak langsung kita (media) terpakai. Itulah maunya teroris, menakut-nakuti masyarakat,” terang Nanan dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (24/7) kemarin.

Nanan mengungkapkan hal tersebut terkait maraknya penayangan gambar-gambar para korban ledakan bom pada 17 Juli lalu di Jakarta.

Gencarnya pemberitaan itu, lanjut Nanan, juga membuat aparat kepolisian merasa terganggu. “Kalau ada pidana (terkait tayangan seperti itu), saya (akan kenai) pidana,” terang dia.

Lebih jauh Nanan menerangkan, terkadang polisi dirugikan oleh pers, karena akhirnya suatu informasi tersebar luas. Hal tersebut membuat buronan melarikan diri. “Teman-teman wartawan mengejar terus, jangan sampai kita terpancing. Saya jangan sampai terpancing mengeluarkan informasi yang ada. Ada hal-hal yang harus kita pending,” terangnya.

Secara terpisah, anggota Dewan Pers Divisi Pengaduan, Abdullah Alamudi mengatakan bahwa media massa telah melakukan pelanggaran kode etik jurnalistik (KEJ) terkait penayangan gambar-gambar para korban ledakan bom.

Ia menuturkan, dalam KEJ gambar luka-luka yang diderita korban tidak boleh disorot secara dekat. “Media elektronik menampilkan bahkan di-zoom (disorot dari dekat, red) wajah berdarah-darah para korban. Itu melanggar kode etik,” ujar Abdullah yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Jumat (24/7).

Padahal, imbuh Abdullah, penonton tayangan itu bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Gambar-gambar tersebut akan melekat dalam ingatan anak dan dapat menimbulkan dampak traumatik.
“Di mana rasa nurani ketika menampilkan itu. Gambar-gambar itu seharusnya bisa diganti dengan sketsa kasar,” urainya.

Selain gambar, lanjutnya, laporan reporter di lapangan juga memperparah gambar yang ada. Reporter seringkali terbawa emosi sehingga mengatakan kalimat-kalimat yang berlebihan.
“Mayoritas reporter mengucapkan narasi dengan kalimat `inilah potongan kepala…`. Kalau anak saya mendengar itu, saya kira mereka akan kaget dan menimbulkan rasa ngeri,” terangnya.

Selain itu, dalam mewawancari narasumber, seringkali reporter berlaku seperti penyidik. Intonasi-intonasi yang digunakan justru menyudutkan dan bahkan membuat takut nara sumber.
“Saat mewawancarai istri tersangka pelaku, wartawan lebih galak dari polisi, padahal orang itu bukan tersangka. Dia sudah menderita karena keluarganya dicari polisi. Menggali info itu bukan dengan cara membentak tapi tunjukkan empati,” kata dia.

Stasiun TV Ditegur
Terkait dengan tayangan-tayangan yang dianggap tidak etis tentang peristiwa pengeboman itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyatakan pihaknya akan melayangkan teguran. Teguran akan ditujukan kepada dua stasiun televisi namun tidak disebutkan siapa saja.

“Ada dua stasiun TV yang akan dipanggil,” ujar Ketua KPI, Sasa Djuarsa Sendjadja, dalam jumpa pers di kantor KPI, Jakarta, seperti dikutip detikcom, Jumat (24/7).

Menurut KPI, kedua stasiun TV itu melanggar standar program siaran yang tertuang dalam peraturan KPI Nomor 3 Tahun 2007 pasal 30 dan 31. Isi kedua pasal tersebut mengatur mengenai larangan bagi TV untuk menayangkan gambar tertentu yang berkaitan dengan unsur kekerasan maupun korban bencana dan kecelakaan.

Pasal 30 mengatur, lembaga penyiaran tidak boleh menayangkan adegan kekerasan secara eksplisit, berlebihan dan vulgar. Gambar luka dan korban kekerasan, kecelakaan, tidak boleh disorot dekat. Penggunaan senjata tajam dan senjata api juga tidak boleh disorot dari dekat.

Gambar kekerasan tingkat berat dan potongan organ tubuh korban dan genangan darah yang diakibatkan tindakan kekerasan, bencana dan kecelakaan harus disamarkan. Durasi dan frekwensi penyorotan korban yang terang-terangan harus dibatasi.
Sementara pasal 31, menyatakan lembaga penyiaran tidak boleh memberikan gambaran secara eksplisit dan rinci tentang cara membuat dan mengaktifkan bahan peledak.

Labih lanjut Sasa menjelaskan, saat ini KPI tengah menyoroti stasiun TV yang menayangkan potongan kepala yang ditemukan di lokasi ledakan bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott.

Pengamat komunikasi dari Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo mengakui bahwa tayangan beberapa stasiun TV tentang bom akhir-akhir ini telah berlebihan. Semestinya, jelas Suko, jika sudah menyangkut keselamatan dan keamanan negara (termasuk liputan terkait aksi bom teroris), media bisa menahan diri. Maksudnya, agar pemberitaan media tidak justru menyebarkan ketakutan bagi masyarakat di satu pihak, dan di pihak lain malah menguntungkan para tersangka teroris.

“Penayangan informasi atau gambar yang tidak menunjukkan empati pada kerja kepolisian atau korban ledakan, justru bisa menguntungkan pihak teroris. Masyarakat malah jadi takut oleh pemberitaan tak empatik itu, dan bukannya tercerahkan. Bisa jadi, Noordin M Top tertawa-tawa melihat tayangan TV kita karena malah dapat bocoran informasi kerja kepolisian,” jelas Suko.

“Perlu kreativitas lebih dari insan media dalam memberitakan peristiwa seperti bom di Jakarta baru lalu, tanpa harus tergelincir menjadi sensasi semata.”kcm/ant/sko

Dibaca: 875 kali

  • Editor : jps

Komentar anda

  1. yudhi buleng Sabtu, 25 Juli 2009 - 09:52:48

    orang buta aja cari tongkat kalau gak ada media elektronik maupun cetak mau jd apa bangsa kita semua tinggal yg menyikapi aja. Pak you gak usah pusing mikirin media tugas anda aja urusin we suport dari belakang oyi !

  2. Drs.Fathur Rohman Ms.MH. Minggu, 26 Juli 2009 - 12:33:36

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Damai saja ya Mas Nordin, nggak apa-apa kok kalau anda berkomunikasi dengan aparat, insyaallah anda dilindungi secara profesional dan proporsional oleh pak polisi, percayalah, kita sesama muslim tak akan saling berbuat dholim. Semoga nggak terjadi lagi ledakan bom semacam yang sudah-sudah. Nggak enak lho kita beribadah di tengah-tengah tangisan sesama kita, kalau ngebom dianggap ibadah.. gimana ya ???

  3. yantono Minggu, 26 Juli 2009 - 18:03:11

    Pengebom adalah orang-orang yang tidak bahagia jiwanya. Tidak ada hubungan sama sekali dengan agama, suku dsb. Disetiap belahan bumi ada orang seperti mereka. Kebetulan mereka ada di Indonesia, negara mayoritas muslim. Maka patutlah kita bertanya, kenapa ini terjadi? Kemana larinya semua nilai2 cinta kasih yang ditanamkan dalam keluarga? Jangan2 keluarga kita adalah keluarga tidak bahagia? Dimana kontrol lingkungan, masyarakat, kekerabatan, dsb. Sehingga menghasilkan orang-orang semacam itu. Sesungguhnya, Bahkan lingkungan yang baik pun bisa menghasilkan individu buruk, apalagi lingkungan kita sekarang? Individualisme, kapitalisme dimana2. Benahi diri kita dulu, baru para pengebom tersebut akan hilang dengan sendirinya. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, tetangga, sampai seluruh bangsa menyemai benih cinta dan ukhuwah.

  4. somad Kamis, 30 Juli 2009 - 12:48:53

    Marilah kita bersama sama menjalani hidup yang berdamai. Walaupun tidak bisa, tidak perlu kita melakukan pengeboman, karena kita hanyalah merusak, menghancurkan dan membinasakan negara kita. Korban dan kehancuran akibat bom ada di negara kita sendiri, dengan kata lain yang hancur dan merana adalah negara kita sendiri.

  5. gondul Rabu, 5 Agustus 2009 - 13:07:06

    setuju?

  6. Abdullah Kamis, 6 Agustus 2009 - 14:33:14

    Mau semua selesai dan aman.
    Tegakkan Syariat Islam dalam diri kita dan bangsa ini.
    Allah sudah berjanji di Al Qur’an, Kalau kita mau Taqwa maka Allah akan memberikan Rahmat dan barakahnya. Oke!
    Atur bangsa dan dunia ini dengan cara yang telah ditentukan oleh penciptanya.

  7. DWI YULIANITA Senin, 10 Agustus 2009 - 12:10:51

    lanjutkan pak polisi!!! hancurkan terorisme!!!

  8. Anto Rabu, 12 Agustus 2009 - 21:58:49

    harus berilmu sebelum beramal! Menegakkan jihad perlu ilmu bukan sandal!
    lempar sandal sembunyi…lempar bom…mati syangit….Mari kembali mempelajari Islam…

  9. juju kuraesin Sabtu, 15 Agustus 2009 - 02:36:43

    kalau mau berjihad ,ke Palestin saja..! bantu rakyat Palestin untuk mempertahankan

    masjid al aqso…{masjid kebanggaan islam } dari jajahan israel yahudi syoni…!!!

  10. antokpriyanto Senin, 17 Agustus 2009 - 23:02:48

    mrk (teroris) itu berbuat kan ada sebabnya,nga’ mungkin berbuat tanpa sebab,,sebaiknya apa penyebabnya mrk berbuat begitu, terlebih di indonesia,dan masalah apapun hrs diselesaikan dg syuro ( musyawarah ) krn agama mengajarkan itu,,semua bs diatasi ini ujian Allah,toh peneror ,kita semua beragama dan ini zaman nabi pun ada,,marilah kita sama2 menyelesaikan dg secara arif dan bijak dg mengedepankan agama..dan apapun urusan didunia ini dg mengesampingkan agama akan kacau / rusak…marilah kita kembali kehukum agama baik sejarah, maupun cara mengatasi masalah dalam sejarah tsb..

  11. Matre(Manis Trendy) Kamis, 20 Agustus 2009 - 15:03:41

    He..he..he…Kang Noordin….damai yuuk…

  12. endang sutanti Jumat, 21 Agustus 2009 - 10:28:21

    kang noordin jan kurang asem la koe,apakah masa kecil anda kurang bahagia ?masa masih mainan melulu.boleh mainan asal jangan mainan BOM lah!maksudnya apa cih jan(mumet2 geli+gregetan mikirnya nih).AGAMA di bawa2 lagi,saru amat.masa sih ngebunuh sesama adalah ibadah?yg bener aja lah kang?(kayak mbunuh pitik aja)x otagmu ada kangkernya x ya?sekarang….damai aja nyerahin diri ktimbang d kejar2 pak polisi.toh KEBIJAKAN itu pasti ada deh pada mereka yg berwenang urusin kekonyolanmu itu.smoga kang noordin lebih bisa nglihat dengan mata hati kecilmu sbagai manusia yg akan bisa MATI(jk saatnya tiba nanti tentunya atas garis yg maha Menciptakan hidupmu kang noor)<<<<>>>

  13. Drs.Fathur Rohman Ms.MH. Senin, 24 Agustus 2009 - 03:26:18

    pak polisi, kalau ngancurin teroris jangan terlalu hancur deh, nanti jadi abon teroris yang bisa dijual di supermaket… pokoknya pak polisi jangan kelewat batas kewajaran ya… dan mohon jangan semua yang mirip dianggap teroris, ngaji,dakwah, berjenggot, berjubah, bercadar dlsb. jangan diteror ya pak!!!!! kasihan deh.. mereka ikhlas dan damai, hanya budaya ibadahnya yang membawa demikian, bukan mengebom dan ngaji bom lho… kok ngeri yang bukan teroris kok diteror… Kabarnya rumah pak Gorries Mere diancam bom… jangan akh… salah apa beliau itu… selamat ya Mas Gorries… semoga anda nggak lupa deh sama saya, kita punya kenangan khusus dulu waktu anda di Pamekasan sebagai Kadalop Polwil Madura, kita sama-sama mencari tikus dengan Mas Untung Darsono dan Haji Manshur…. ingat nggak tahun 1984, lalu kita berpisah deh… anda ke Jakarta dan aku ke Pasuruan…

  14. Abdul Mufid Selasa, 1 September 2009 - 21:56:48

    Untung keluarga kami membatasi nonton TV. TV banyak nggak mendidik, ngabisin waktu, pasif hanya duduk, nonton, mlongo, ngaplo, lama-lama ngantuk, tidur, bangun tidur, nonton, ngantuk, tidur lagi, tanpa olahraga, cepet ko’it. Favoritku paling nonton Harun Yahya, adventure, Jalan-jalan (pariwisata), budaya, dunia dalam berita, Mr. Bean, Toloooong, Bedah rumah, nada dan dakwah. Intinya yang mengandung hikmahlah, motivasi, inspirasi, kemanusiaan, pengetahuan. Pokoknya, begitu selesai tayangan dapat pengetahuan dan wawasan baru. Yang paling tidak kusuka : sinetron, horor, klenik, paranormal, nyanyi & hiburan, action para bencong, humor yang konyol, iklan, sulap, hipnotis, tinju, film india, kuis, gosip, isu, berita apapun tentang selebriti. Pokoknya tidak mendidik en tidak bikin Indonesia tambah maju.

  15. wira darma Kamis, 10 September 2009 - 12:31:34

    Menanggapi comment Pak Abdullah:
    G bs bgitu dunk, Pak. Negara kita dari awal terbentuk bukanlah negara agama, tp republik yg berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Yg berkwajiban menegakan Syariat Islam adalah individu para kaum muslim itu sendiri, bkn seluruh bangsa. Ingat dengan perjuangan para pahlawan kita dulu! Perbedaan itu indah lho…! Daripada smuanya pd seragam. Cb anda bayangkan klo di Indonesia bahkan di dunia ini cuman ada cowok smua, ato cewek smua, ato bahkan muslim smua? Aneh khan…?!

  16. Khairun Rahman Senin, 14 September 2009 - 16:06:44

    Teroris emang cari mati (syahid ktnye), gak bisa jd satu ama kita yg nyari kehidupan, walau kita sama-sama muslim. Kita sukses kalo hidup dg terhormat & mulia, dia sukses kalo mati dg yakin pd tuhanNya. {Aneh gak aneh, coba aja pikirin}. Selamat menikmati kehidupan yg penuh berkah di bulan suci, mohon maaf ya pak teroris 1430H, kami bukanlah musuhmu…..

  17. icHie wulanDarI Kamis, 24 September 2009 - 10:54:23

    alhamDUlillAH AKhirNY dy kETANgKAP……………..
    kiTa aman.?????!!!
    janAN ADA lAGI teroRIs yANG BarU!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    AMiN…………………

  18. Yudistira Putra Minggu, 27 September 2009 - 09:52:37

    Saya juga heran sama teroris ini. Katanya musuh saya adalah Amerika, Ingris, Australia. Liat lagi dalam persatuan negara bekas jajahan Ingris ada Commonwealth, dan Malaysia atau Singapore termasuk didalamnya sedangkan Indonesia tidak termasuk. Kenapa para teroris melakukannya diIndonesia bukan di Malaysia ato negara lain? Termasuk gembongnya Noordin, tidak berani diIndonesia. Sedangkan para muslim yang sealiran dengan Noordin. Dimana rasa nasionalis-mu? Negara ini didirikan dengan linangan air mata dan darah pengorbanan, serta doa. Diantara darah itu ada darah kakek kita. Malaysia yang Merdeka gratisan aja, bangga mengatakan MERDEKA, apalagi kita yang jauh, susah payah mewujudkan satu kata M E R D E K A!!!!!!!

  19. sandra irawan Senin, 5 Oktober 2009 - 11:56:07

    Meski nurdin dah tewas, aparat harus tetap waspada. konkrit: segera ubah baliho yang memapang wajah nurdin dengan buron lain yang masih DPO, mumpung ijinnya masih panjang. mengejar momentum nih!

  20. Isty Minggu, 11 Oktober 2009 - 18:54:14

    Saya setuju, tolong media jangan melebih2kan para penjahat2 itu, ya mereka bukan teroris mereka adl para penjahat yang pengecut, hanya pemberani yang mencuci otak orang2 dan membom mereka yang tidak bersalah

  21. Dodi Jumat, 16 Oktober 2009 - 11:17:47

    @ Abdul Mufid: gak pernah nonton…tapi tau acara2 TV…

    kalau menurut saya…kita semua adalah warga dunia, tidak hanya warga Indonesia…jadi hentikan fanatisme dan nasionalisme semu…
    Gak peduli islam, gak peduli kristen, Yahudi, Amerika, Negro, Jepang, Cina, India, Arab…kita semua warga dunia…jadi mari sama-sama bergandeng tangan dan hidup di dunia tanpa adanya dogma2 yang saling menjatuhkan golongan2 tertentu…dan Insya Allah hidup kita akan damai…

  22. vicky S. lutor Selasa, 15 Desember 2009 - 16:22:13

    jangan ada benci diantara sesama kita.kita adalah bangsa yang kuat , yang besar…kapan kita akan berkembang ……jika ada teroris di negara kita ini…

  23. yusrin mohammad Kamis, 21 Januari 2010 - 17:51:40

    teroris itu salah dalam menafsirkan agama. mereka sebenarnya dangkal kok

  24. aslie Senin, 1 Februari 2010 - 15:55:51

    biarin aja ketawa,toh nurdin juga sudah mati ,

Kirim Komentar