Malang - SURYA-Suara Pistol Tukang Batu Itu Masih Terasa di Antara Puing-puing Reruntuhan
9 November 2005. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.15 WIB. Namun tak seperti biasanya, hari itu udara terasa begitu panas. Mendadak terdengar sebuah ledakan keras. Blaarr… Suasana hening sesaat. Tiba-tiba, sejumlah ledakan kecil pun menyusul diikuti rentetan letusan suara mirip petasan menggema di kaki bukit Flamboyan.
Ny Mudayah spontan menghentikan aktifitasnya membuat kue. Ia membersihkan tangan dan sejenak melihat keluar jendela. “Le, ojo kurang ajar, nyumet mercon ngarep garasi (anak-anak, jangan kurang ajar, menyalakan petasan di depan garasi),” katanya dari balik dapur.
Tak ada yang mendengar suara Ny Mudayah. Rentetan letusan yang ternyata berasal dari senapan dan pistol para anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri itu masih saja menggema. Ia pun keluar. “Ada apa ini, kok banyak tukang batu bawa pistol,” ujarnya spontan.
Seorang pria berbadan tegap yang mengendap di selokan sebelah rumahnya segera memberi isyarat. “Ibu masuk, ini bahaya!,” katanya singkat bernada membentak.
Ny Mudayah pun menurut saja. Rasa bingung campur takut menyeruak di benaknya. Ia heran, mengapa anak-anak muda yang tinggal di depan rumahnya, yang biasanya ia sapa saat mencari makan pagi, mendadak ditembaki para tukang batu yang ia kenal sejak sebulan lalu.
Tapi ia mendadak diam. Telinganya terasa sakit sekali mendengarnya kuatnya sebuah ledakan diakhir proses penyergapan. Dan, wanita paro baya ia pun ‘terdiam’ hampir selama setahun lamanya.
Inilah sepenggal kesaksian Ny Mudayah, saksi mata penyergapan Dr Azahari oleh angota Densus 88 Mabes Polri di Perumahan Flamboyan Blok A1-7, 9 November 20005 silam. Cerita itu kini mengalir keluar, setelah beberapa tahun dirinya ikut menjadi ‘korban’ dari proses penangkapan itu. Ia stres dan menderita gangguan pendengaran karena kuatnya ledakan yang ikut merusak kaca-kaca jendela rumahnya itu.
“Kejadiannya begitu cepat. Saya sama sekali tak menyangka, para tukang batu yang saya kenal itu, ternyata para polisi yang menyamar untuk menangkap anak-anak muda yang mereka sebut teroris,” kenang Ny Mudayah.
Peristiwa penyergapan Dr Azahari di Kota Batu memang menyisakan sedikti taruma bagi sejumlah warga yang melihat langsung peristiwa itu. Maklum, saat kejadian, hampir semua yang ada di rumah adalah para wanita.
Ny Mudayah sendiri, yang rumahnya berada di depan sebelah kanan kontrakan Dr Azahari, yang menjadi salah satu lokasi baku tembak paling dekat polisi dan geng Dr Azahari ikut merasakannya.
***
Menurut istri dari Basuki ini, keberadaan Dr Azahari dan anak buahnya sama sekali tak diketahui warga. Yang mereka ketahui, rumah milik Soepomo, seorang warga Surabaya itu, dihuni tiga bulan sebelum peristiwa itu.
“Di sana dihuni lima orang. Namun saat kejadian hanya ada Dr Azahari dan Budi atau Arman. Cholily sudah keluar jam 04.0 pagi, begitu juga dengan Noordin dan Teddy, ia sudah keluar sebelumnya,” cerita dia.
Begitu penyergapan, rumah itu hancur. Persis seperti yang terlihat saat ini. Kaca jendela tak ada lagi, atap rumah jebol, dan sebagian tembok rusak parah. “Bagaimana tidak hancur, mereka saling melempar granat nanas dan saling tembak, ” katanya.
Kini, rumah yang dulu menjadi kontrakan Dr Azahari itu, rumah yang digunakan untuk merakit bom untuk Bali, rumah yang digunakan untuk membaiat para anggota jaringan Azahari dan Noordin tinggal puing-puing. Tak ada yang tersisa, kecuali sisa onggokan bangunan dan sampah serta ilalang tak bertuan yang tak pernah lagi ditengok si empunya.
***
“Rumah itu sebenarnya enak. Saat saya masuk, dua kamarnya sudah ada sofa. Tapi saya akhirnya keluar karena airnya sering macet. Maklum, saat itu saya punya anak kecil sehingga harus sering mencuci. Makanya saya keluar,” kata Dewi Ambarwati, warga Batu yang mengontrak rumah Soepomo sebelum ditempati Azahari dan Cholily.
Menurut Dewi, ia sempat tinggal di rumah kontrakan Dr Azahari ini mulai 2002 hingga 2004. Lantaran kesulitan air itulah, ia keluar dan memilih di tempat yang baru, yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah yang sekarang.
“Setelah saya pindah, rumah itu kosong lima bulan. Setelah itu, masuklah Cholily, Budi dan Teddy, serta dua orang yang akhirnya menurut polisi adalah Dr Azahari dan Noordin,” kata salah satu saksi kunci yang dibawa dalam persidangan Cholily di Bali ini.
Dewi menceritakan, proses kontrak kelompok Dr Azahari mendapatkan rumah itu sangat mudah. Tidak seperti dirinya yang harus menggunakan notaris. “Setahu saya, mereka sangat mudah. Sedangkan saya, sulit prosesnya. Saat keluar saja saya sampai menyurati Pak Pomo karena tak pernah menengok,” kata dia.
Menurut dia, dalam pertemuan terakhir dengan Soepomo di Bali sewaktu menjadi saksi persidangan Cholily, Soepomo menyatakan bila dirinya telah berjuang untuk mendapatkan ganti rugi atas rumah yang rusak itu kepada Pemkot Batu (saat itu) dan Pemprov Jatim. Bahkan juga polisi. Namun, ia tak mendapatkan apa-apa. “Mungkin karena rumah itu juga belum bersertifikat hak milik. Jadi tidak bisa diganti,” katanya.
Sebagai pemilik rumah, kata Dewi dan juga Ny Mudayah, Soepomo jarang sekali mengunjungi rumah yang dikontrakkan tersebut. Kunjungan terakhir diperkirakan adalah sepekan setelah penyergapan Azahari itu. “Saya tahu, waktu itu Bu Pomo ke sini sambil membawa pendeta. Mereka kemudian menyiramkan sesuatu ke rumah itu. Setelah itu, kami tak bertemu lagi sampai sekarang,” ujarnya.
Dewi yang juga putri seorang petinggi di Brimob di Kelapa Dua ini mengatakan, rumah yang pernah ia tinggali menyisakan kenangan sendiri. “Saya memang tak sempat melihat wajah Dr Azahari. Tapi setelah pindah ke sini, saya masih sempat ke sana menengok anak-anak itu. Ternyata, tidak seperti waktu saya, dua sofa di kamar saat mereka tempati sudah tidak ada,” ujarnya.
“Kata Choliliy, saat datang mereka memang tidak mendapatkan. Saya kasihan juga. Mereka kemudian minta saya agar tak mengambil beberapa almari dan meja milik saya. Akhirnya itu saya tinggalkan untuk mereka,” sambung Dewi.
Saat dia hendak melihat satu kamar yang selalu tertutup, Dewi mengaku dihalangi Budi alias Arman. Budi berdalih temannya (Dr Azahari sedang keluar) dan kamarnya dikunci. Padahal, setahu saya dua kamar itu tak ada kuncinya,” ujarnya.
Beruntung Dewi tak sempat membuka kamar Dr Azahari. Karena pascapeledakan, saat menjadi saksi di Bali, ia diberi tahu anggota Densus bila di ujung setiap sudut pintu kamar itu sudah terpasang bom. “Sekali dibuka, akan langsung meledak,” katanya.
Di kamar yang pernah ia huni, Dewi mengakutak menemukan keanehan, selain sebuah peta Kota Batu dengan beberapa lokasi bangunan yang diberi titik-titik hitam. Ia tidak tahu apakah itu target pengemboman atau tidak.“Saya sendiri juga diingatkan polisi, mas agar tak terlalu masuk. Data-data saya saja juga dibawa ke polda,” katanya.
Dewi memang salah satu saksi kunci selain Ny Salamun yang rumahnya berada persis berhadapan dengan kontrakan Dr Azahari. Pada Desember 206 lalu, keduanya bersama enam warga lainnya dibawa ke Bali guna menjadi saksi persidangan.
Dewi memang tahu banyak soal rumah itu. Ia mengaku juga sempat melihat detk-detik akhir sebelum terjadi penyergapan. “Saya sudah tahu siapa yang tertangkap dan tidak saat itu. Sejak pagi, Noordin dan Teddy kan sudah keluar. Jadi kalau sampai saat ini belum tertangkap, pasti ya sama Teddy. Wong mereka itu pasangan-pasangan,” katanya.
Baik Dewi maupun Ny Mudayah mengharapkan, semestinya saat ini ada pihak yang ikut membersihkan rumah itu. Sekalipun tidak dijadikan monumen, sebagaimana yang pernah digagas almarhum mantan wali kota Batu Imam Kabul, hendaknya tempat itu menjadi pengingat, bahwa di sini pernah terjadi sebuah penyergapan atas gembong teroris.
Pemkot Batu, menurut Kabag Humas Drs Eko Suhartono tidak berani mengambil kebijakan terkait rumah tersebut. Apalagi, pemilik rumah juga membiarkan begitu saja.
“Pemilik tidak pernah berkoordinasi dengan kami. Jadi, tentu kami tidak bisa berbuat seperti yang warga inginkan,” katanya.
***
Jumat, 24 Juli 2009. Kevin, 10 dan adiknya, Devi, 4, tampak sangat ceria. Usai pulang sekolah, kKeduanya bermain sandal kelompen di depan bekas reruntuhan kontrakan Dr Azahari yang berada persis di rumahnya.
Tak ada trauma atau ketakutan yang membekas di wajah Kevin, bocah kecil yang terakhir diajak bermain oleh Cholily ini. “Lupa-lupa ingat, Mas. Saat itu kan saya masih kecil, tapi sekarang sudah aman. Nggak ada hantunya,” katanya.
Erin, ibunda Kevin menuturkan, putranya hanyalah bagian kecil dari drama cerita penyergapan Dr Azahari karena kebetulan ia pernah sekali diajak bermain oleh Cholily. Karena itu, kejadian itu tak banyak menyita perhatiannya.
“Yang lebih merasakan sebenarnya, ibu (Ny Salamun). Sebab, beliau yang setiap hari negobrol dengan mereka. Ibu juga yang paling sering kontak dengan Pak Soepomo. Tapi ibu sekarang sedang ke Semarang, jadi nggak bisa menjelaskan,” urainya.
Asnan, Ketua RT 1/RW 09 Kelurahan Songgokerto Kecamatan Kota Batu mengatakan, siapa pun tidak ada yang pernah menduga bila kawasana perumahan itu bakal menjadi pelarian Dr Azahari. “Kawasan di sini memang sepi. Dulu, perumahan ini dibangun untuk karyawan PT Wastra Indah (pabrik tekstil grup Texmaco, red). Namun dalam perkembangannya banyak yang dijual dan dipindahtangankan,” ujarnya.
Hingga saat ini, kata Asnan, rumah yang pernah ditinggali Azahari selama tiga bulan itu memang tak pernah dijenguk lagi oleh pemiliknya. Tak ada yang mau membersihkan, sehingga terkesan kotor. Sebagai warga, mengharapkan pemkot berinisiatif agar pemerintah setempat membersihkan bangunan tersebut, entah dijadikan simbol atau sekedar dibersihkan agar tidak mengganggu pemandangan sekitar.
“Warga di sini memang sempat resah, tapi semua kami serahkan ke pemkot. Yang pasti, dalam waktu dekat kami akan mengumpulkan warga untuk kembali menertibkan administrasi. Selama ini, warga masuk keluar silih berganti tanpa melapor. Mungkin akan lebih baik kalau ke depan, warga yang tidak mau melapor akan kami coret dari status sebagai warga perumahan ini,” tandasnya. tof/stf4
Dibaca: 19 kali