KISAH pilu penganiayaan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di luar negeri membuat cemas. Dari segunung cerita sedih itu, terselip segelintir serial sukses TKW. Wahyu Andriana, 29, menjadi salah satu TKW yang beruntung.
JOSEF SINTAR
SURABAYA
Dengan tegas, Wahyu menyatakan tidak malu menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di Hongkong. “Saya tidak malu jadi TKW yang terpenting pekerjaan itu baik dan menghasilkan banyak uang,” ujarnya. Pikiran pragmatis ini karena dia tidak melihat peluang mendapat pekerjaan di rumahnya Desa Babadan, Kelurahan Wlingi, Kecamatan Wlingi, Blitar.
Justru karena nekat, kini ibu satu anak ini memiliki sebidang sawah, tanah, lima kerbau, empat rumah, dan membuka peternakan ayam di Blitar. Ini hasil menyapu, belanja ke pasar, memasak, dan menjemput anak majikannya di Hongkong selama 10 tahun. Jika ditotal, seluruh hasil keringatnya mencapai Rp 800 juta.
Lulus dari SMEA Arjuna I Malang, pada 1997, anak pertama dari enam bersaudara ini tak melihat kemungkinan kuliah. Ayah-ibunya, Sumali dan Hartati, hanya petani miskin. Niat memiliki banyak uang membuatnya menerima tawaran menjadi PRT di Hongkong dengan gaji Rp 4,5 juta sebulan. Meski gajinya sempat turun dua kali akibat krisis yang melanda Hongkong, Wahyu tetap bisa menabung.
”Ketika pertama datang di rumah Louise Chan, majikan saya, menggaji utuh. Tetapi setelah dua kali kena krisis sempat turun jadi Rp 4 juta dan Rp 3,6 juta. Waktu kontrak terakhir kembali Rp 4 juta,” tutur Wahyu. Setiap bulan dia mengirim Rp 4 juta ke desanya karena seluruh kebutuhannya sudah ditanggung majikan. Oleh keluarganya, uang itu dikelola supaya bisa menghasilkan berlipat ganda.
Selama empat bulan pertama dia harus mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan oleh agen yang mengirimkan ke Hongkong. Sebelum berangkat, ibunya berpesan agar tetap jujur, sopan, dan ulet. Ternyata ini membuat Louise Chan terkesan hingga terus memperpanjang kontrak lima kali. Sekali kontrak dua tahun. Selama 10 tahun dia hanya pulang sekali sebelum kontraknya habis dan Wahyu kembali ke Blitar.
Di Blitar, istri Agus Siswanto ini dikenal sebagai orang kaya baru. Dari usaha yang dijalankan keluarganya, setiap bulan Wahyu mendapat keuntungan Rp 15 juta. Tetapi ketika ditemui Selasa (7/7) Wahyu sudah ada di PT Prima Duta Sejati milik Mexie Mantowa. Ini penyalur tenaga kerja yang sama dengan saat dia berangkat kali pertama ke Hongkong.
”Saya ingin kembali ke Hongkong. Saya ingin menghasilkan lebih banyak uang,” kata Wahyu. Kini, jejak Wahyu juga diikuti Erwin, adiknya. ”Dia bekerja di Jepang. Gajinya Rp 17 juta sebulan.”
Dibaca: 678 kali