Seperti yang sudah diduga berbagai pengamat pendidikan, aturan baru dalam sistem penilaian SNMPTN, memancing pro kontra berbagai pihak. Salah satunya, kalangan guru.
Abdul Tedy, guru senior SMAN 3, mengatakan sistem baru ini membunuh mereka yang jenius di satu bidang mata pelajaran. ”Bisa jadi, ada anak jenius yang pintar di ilmu terapan, tapi lemah di ilmu bahasa, atau hapalan. Meski pandai, anak seperti ini bisa saja tidak lulus,” ujar Tedy, Rabu (1/7).
Guru Biologi yang juga koordinator program RSBI di SMAN 3 ini, juga mengeluhkan tidak adanya sosialisasi aturan baru ini ke sekolah-sekolah. Dalam situs resmi SNMPTN, peraturan baru tersebut dicantumkan secara gamblang per 1 Juni 2009. Menurut Tedy, ini percuma saja, karena saat itu, rata-rata siswa kelas III sudah tidak aktif di sekolah.
Pihak Universitas Negeri Malang (UM), selaku salah satu penyusun kebijakan SNMPTN tahun ini, mengatakan, aturan baru ini lebih baik dibanding sistem sebelumnya. Menurut Rektor UM, Prof Dr H Soeparno, sistem penilaian ini dibuat agar tiap peserta bisa berkompetisi secara komprehensif. ”Nyatanya, PTN tidak menginginkan calon mahasiswa yang cakap secara parsial,” ujar Soeparno, Kamis (2/7).
Soeparno juga menilai, ada tidaknya sosialisasi, tidak akan mempengaruhi hasil akhir peserta. Justru, aturan ini akan mengukur kemampuan alamiah seorang peserta. Meski demikian, Soeparno mengakui, sistem ini mengundang pro-kontra, karena punya kelemahan dan konsekuensi sendiri. ”Tim perumus sudah memikirkan hal ini bakal picu pro kontra. Tapi, sistem kompetisi berbasis multi intelejensi ini dinilai tetap punya banyak kelebihan,” ungkap Soeparno. k3
Dibaca: 489 kali