- Maling Pun Mengembalikan Televisi yang Dicuri
BOJONEGORO - SURYA- Selama puluhan tahun tak pernah ada tindak kejahatan di Kampung Samin, di Dusun Jepang, Desa-Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Apa rahasianya?
Kepala Dusun Jepang, Sukijan, kini berusia 45 tahun. Menurut Sukijan, sejak masih kecil hingga sekarang, dirinya tidak pernah tahu ada kejahatan berbentuk apapun di kampungnya.
“Pencurian, penganiayaan, atau apapun, tidak pernah terjadi. Bahkan kasus perkelahian saja tidak pernah ada,” kata lelaki kelahiran Dusun Jepang tersebut kepada Surya.
Beberapa sumber di kepolisian yang ditemui secara terpisah, Kamis (2/7), menyatakan hal senada. Selama bertugas di Bojonegoro, mereka belum pernah mendengar ada perkara hukum yang terjadi kampung yang juga dihuni Mbah Hardjo Kardi, keturunan ke-IV Samin Surosentiko itu.
Kapolsek Margomulyo, AKP Ridwan, menjelaskan, selama setahun lebih dirinya menjabat kapolsek, tak pernah ada kejadian menonjol di Dusun Jepang. “Bahkan laporan tindak kejahatan ringan saja tidak ada,” kata Ridwan, di Mapolres Bojonegoro, Kamis (2/7).
Demikian pula beberapa warga yang sejak kecil tinggal di Bojonegoro juga mengaku belum pernah mendengar ada kasus di Kampung Semin. Kampung di tengah hutan jati yang berjarak sekitar 65 kilometer di selatan kota tersebut dihuni 112 kepala keluarga (KK) atau 660 warga.
Penyebab tak adanya kejahatan di Kampung Samin diperkirakan lantaran ada kesadaran dari dalam hati para penduduk setempat terhadap sesama. Meski era modern, warga Jepang masih mengamalkan ajaran-ajaran wong Samin.
Ajaran-ajaran itu antara lain menyebutkan agar jangan pernah menyakiti orang lain kalau tidak ingin disakiti, harus saling hormat-menghormati sesama manusia di dunia, dan jangan pernah mengambil apapun yang bukan haknya, Juga, beberapa ajaran lain yang mengikat masyarakat agar tidak berbuat kejahatan.
Adanya ajaran-ajaran yang baik itu dibenarkan Kepala Dusun Jepang, Sukijan. Dia mengatakan, tepo seliro (rasa saling menghormati) dan tingkat kerukunan masyarakatnya memang tinggi. Mereka biasa selalu saling membantu dalam keadaan apapun. “Lagian, disini kan tempatnya berada di pelosok desa. Ngapain harus sampai terjadi kejahatan segala,” tandasnya.
Secara terpisah, Hardjo Kardi, 67 — trah terakhir Samin Surosentiko– menyatakan, kampungnya relatif aman dari kasus tindak pidana kriminal, terutama pencurian atau kasus kekerasan. Meski demikian, bukan berarti tidak pernah ada kejadian pencurian. Hardjo Kardi mengaku mengalami sendiri dua kali kejadian barang miliknya hilang, berupa dua buah TV berwana 21 inchi dan dua ekor ayam.
Kejadian setahun lalu tersebut tidak dilaporkan ke Polsek Margomulyo. Dia yakin, karena barang miliknya tersebut diperoleh dengan cara benar, maka tetap akan ada jalan keluar, sehingga melapor ke polisi dianggap bukan pemecahan.
Bahkan, kata dia, beberapa hari kemudian barang yang hilangi tu dikembalikan oleh si pencuri dengan dilengkapi surat yang intinya menyatakan televisi tersebut dikembalikan karena tidak laku dijual. “Sementara itu, orang yang mengambil ayam akhirnya tertangkap polisi,” ujarnya kepada Antara.
***
Hardjo Kardi menjamin, warga pendatang yang masuk ke komunitas Samin –baik yang membawa kendaraan roda dua, empat, maupun kendaraan lain– sangat aman dari kasus pencurian. “Kalaupun ada warga di sini mengambil kayu di hutan, itu hanya sebatas untuk kayu bakar karena nenek moyang kami dahulu ikut menanam pohon di hutan ini,” katanya.
Kapolres Bojonegoro, AKBP Agus Saripul Hidayat, yang diwawancara di tempat lain, berpendapat, kalau banyak kelompok masyarakat berperilaku sebagaimana para warga Samin, maka penegakan hukum tidak berjalan. “Memang aman, tetapi masyarakat kita sulit untuk maju karena tidak ada sama sekali proses penegakan hukum,” katanya, kemudian tertawa.
Nah, bagaimana kondisi terkini Kampung Samin? Pantauan Surya, Kampung Samin sudah mengalami kemajuan cukup signifikan jika dibanding kisah lama tentang Suku Samin yang ada disana. Meski berada di tengah hutan jati, akses jalan sudah beraspal dan mudah dilewati. Listrik, telepon, dan komputer –juga internet– pun sudah bisa diakses d isana. Termasuk di rumah Mbah Hardjo Kardi tersedia perangkat komputer dan peralatan modern lain.
Sebagian besar warga Jepang memang masih berprofesi sebagai petani tradisional, tetapi ada sebagian lain yang menjadi pedagang di luar daerah, menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan polisi. Penyebab berbagai kemajuan tersebut, antara lain karena daerah ini sering menjadi jujugan para pejabat tingkat kapupaten maupun provinsi. m taufik