Home » Malang Raya

Nenek Tewas Dilalap Api, Korban Tertidur Saat Rumahnya Terbakar

NGANTANG - SURYA
Kejadian memilukan menimpa Pariyem, 55, warga Dusun Maron, Desa Mulyorejo, Kecamatan Ngantang. Korban yang selama ini hidup sebatangkara ini tewas terpanggang api bersamaan dengan rumahnya yang ludes terbakar.

Kebakaran itu diperkirakan berlangsung pada Senin (29/6) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB namun baru diketahui warga setempat dua jam kemudian. Akibatnya, rumah sederhana yang terbuat dari bambu berukuran 3 x 4 meter itu tak bisa diselamatkan.

Selain rumah yang hangus terbakar, tubuh korban juga demikian. Saat ditemukan, korban sudah tak bisa dikenali lagi karena kondisi tubuhnya sudah gosong.

“Posisi tubuhnya meringkuk di atas tempat tidur. Diperkirakan, saat api melalap rumahnya, korban sedang tertidur sehingga tak sempat menyelamatkan diri. Apalagi, kondisi fisiknya sudah tua renta dan sulit jalan,” kata Ajun Komisaris Indro Sujiad, Kapolsek Ngantang didampingi Aiptu Sutrisno, Kanit Reskrim.

Hasil penyelidikan sementara, api diperkirakan berasal dari lampu minyak tanah (teplok) yang selama ini digunakan korban untuk penerangan rumahnya. Maklum, rumah korban juga belum dialiri listrik.

Lampu teplok itu diperkirakan jatuh dan minyaknya tumpah. Api pun langsung menjalar. Kejadian itu tak cepat diketahui para tetangganya karena jarak rumah korban dengan rumah lainnya cukup jauh.

Kebakaran baru diketahui warga setelah api sudah mengecil sehabis melalap bangunan rumah gedek tersebut. “Yang mengetahui kejadian itu pertama kali, Pak Misiyar, 60, tetangga korban. Namun saat kejadian itu diketahui, kebakaran sudah hampir selesai dan tinggal kepulan asap saja,” ujarnya.

Begitu mengetahui rumah korban terbakar, sejumlah warga pun langsung berdatangan. Mereka berusaha mencari dan menyelamatkan korban. Namun saat ditemukan, tubuh korban sudah dalam posisi hangus di atas tempat tidurnya.

Sulaiman, warga setempat mengatakan, selama ini korban tinggal sebatangkara. Untuk makan setiap hari, Pariyem lebih banyak menerima pemberian tetangganya. “Bu Pariyem setiap hari mengumpulkan plastik atau barang bekas dari tempat sampah tetangga. Barang rongsokan itu tak dijual, hanya dikumpulkan di luar rumahnya,” terangnya.

Sedangkan rumah sederhana yang ditempatinya selama ini, adalah hasil gotong royong warga yang kasihan melihat keadaan korban yang sudah tak memiliki saudara sama sekali. st12

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "