Home » Bisnis

Bisnis Asuransi Jiwa Memburuk Tergantung Kinerja Pasar Modal

JAKARTA-SURYA-Performa perusahaan asuransi jiwa (AJ) di Indonesia selama 2008 terus menurun. Kondisi ini dipicu hasil investasi perusahaan itu di produk unit link yang memburuk. Tren ini diperkirakan bakal berlanjut di sepanjang 2009.

Direktur Biro Riset InfoBank Eko B Supriyanto, dalam paparan Rating 126 Asuransi Versi InfoBank menyatakan, memburuknya kinerja asuransi jiwa dipicu keserakahan dalam memburu hasil investasi dengan menempatkan investasi mereka dari premi nasabah ke dalam instrumen yang berisiko tinggi.
“Performa industri asuransi jiwa secara umum tidak sebaik kinerja industri asuransi kerugian umum yang terus membaik. Hal itu pada akhirnya justru menghancurkan industri asuransi jiwa sendiri,” ujar Eko, di Jakarta, Senin (29/6)

Berdasar catatan InfoBank, rata-rata industri asuransi jiwa di 2008 hanya tumbuh 8,88 persen berdasar pendapatan premi brutonya. Investasinya melorot 1,3 persen dan perolehan laba juga anjlok 29,13 persen. Padahal sebelumnya, asuransi jiwa mencapai masa keemasan dengan pertumbuhan 67 persen.

“Asuransi jiwa gagal meningkatkan hasil investasi untuk para pemegang polis, tertama pada produk unit link. Nasabah diarahkan mendapat polis sekaligus berinvestasi, padahal itu berisiko. Pada saat pasar saham anjlok, mereka pun ikut rugi,” bebernya.

Menurut Eko, 2008 merupakan tahun terburuk bagi asuransi jiwa dalam 10 tahun terakhir ini. Ia juga menilai, industri asuransi jiwa di Indonesia saat ini sudah sangat tergantung pada kondisi pasar modal. Sepanjang pasar modal baik, maka kinerja mereka ikut membaik. Sebaliknya, jika kinerja pasar modal memburuk, mereka ikut ‘batuk-batuk’.

“Karena gairah berasuransi di Indonesia bukan semata-mata untuk melindungi risiko, tetapi bagaimana membiakkan investasi lewat asuransi. Dalam jangka panjang, ini justru akan menjadi risiko sistemik bagi asuransi,” tandas Eko.

Dalam penilaian InfoBank, hanya ada dua perusahaan AJ yang memiliki modal besar, Rp 200 miliar ke atas, dan meraih predikat sangat bagus. Keduanya, AJ Manulife dan AJ Sinarmas.

Lalu, tiga perusahaan dengan modal menengah Rp 50 miliar-Rp 200 miliar yang kinerjanya sangat bagus, Asuransi Cigna, Central Asia Raya dan Wintertur Life. Untuk yang bermodal di bawah Rp 50 miliar, yang kinerjanya sangat bagus Pasaraya Life Insurance, Ace Life Assurance dan AJ Nusantara.
Praktisi asuransi Alberto Tobago menilai selama 2008 memang terjadi penurunan kinerja AJ. Meski demikian, dia memperkirakan, penurunan itu disebabkan krisis ekonomi yang cukup merata. “Semuanya kena, jadi seluruh asuransi jiwa pun terkena dampaknya,” sebut Alberto.

Dia menegaskan, perlunya pengawasan ketat dari regulator terhadap kinerja asuransi terutama pada produk unit link yang dipasarkan. “Selama ini produk-produk itu kurang dipantau pemerintah. Harus ada pengawasan agar tidak semua AJ mesti memiliki unit link. Besarannya harus dibatasi, sehingga apabila saham anjlok tidak berpengaruh besar,” imbuh Alberto. jbp/ewa/ol

Data Industri Asuransi Per Desember 2008
(Dibandingkan Desember 2007)
- Total Aset Asuransi Jiwa : Rp 102,4 triliun, naik 0,08 persen
- Total Aset Asuransi Umum : Rp 33,4 triliun naik 15,75 persen
- Premi Bruto Asuransi Jiwa : Rp 49,5 triliun, naik 8,88 persen
- Premi Bruto Asuransi Umum: Rp 21,9 triliun naik 24,46 persen
- Laba Sebelum Pajak Asuransi Jiwa: Rp 2,1 triliun, naik 29,13 persen
- Laba Sebelum Pajak Asuransi Umum:Rp 2,7 triliun, naik 22,26 persen
(fin/sumber: biro riset infobank, 2009)

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "