Jakarta - surya-Posisi cadangan devisa Indonesia selama Juni berpeluang turun jika dibandingkan saldo cadangan devisa bulan sebelumnya. Penyebabnya, selama Juni pemerintah banyak melakukan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono mengatakan, saat ini cadangan devisa Indonesia berkisar 57,93 miliar dolar AS. “Saya perkirakan (bulan ini) akan terjadi penurunan (cadangan devisa). Karena bulan ini, Mei dan Juni 2009, pembayaran utang luar negeri pemerintah yang paling besar,” kata Hartadi, usai rapat kerja dengan komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (29/6).
Bank Indonesia (BI) menilai perlunya penatausahaan data utang pemerintah, terutama utang luar negeri, karena merupakan bagian penting pengelolaan cadangan devisa. Dengan demikian, posisi valuta asing senantiasa tersedia tepat waktu dan dalam jumlah cukup untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok maupun bunga utang luar negeri pemerintah.
Mengenai utang luar negeri swasta, Hartadi mengatakan, pencatatannya sudah sangat baik. Dari sekitar 4.000-an responden peminjam, hampir 95 persen di antaranya peminjam yang tercatat di bursa efek. “Sekarang posisi utang luar negeri swasta mencapai 14 miliar dolar AS. Itu utang yang jatuh tempo. Untuk utang yang outstanding saya tidak hafal,” beber Hartadi.
Menurut dia, BI tidak khawatir dengan pembayaran utang luar negeri swasta meskipun awal tahun ini sempat muncul kekhawatiran terjadi keterlambatan pembayaran akibat dampak krisis finansial global. “Tapi ternyata kita lihat di kuartal pertama tahun ini, kekhawatiran itu tidak terjadi. Jadi swasta tetap bisa recover utangnya. Sekitar 40 persen perusahaan swasta yang berutang itu mempunyai afiliasi dengan perusahaan induknya di luar negeri, baik berupa bank maupun perusahaan nonbank,” jelasnya. jbp/aco
Editor : jps