- Motif Belum Jelas
Trenggalek - Surya- Tarao Inagaki, 50, bos perusahaan penangkaran mutiara ditemukan tewas di atas batu kerang depan mess perusahaan, di Pantai Pulau Ngrembang, Dusun Karang Goso, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, Sabtu (27/6) malam.
Tewasnya lelaki asal Jepang itu hanya satu jam setelah terjadi ledakan di areal perusahaannya tersebut. Saat ditemukan sekitar pukul 20.00 WIB, kondisi Tarao Inagaki sudah tidak bernyawa dengan tubuh penuh luka dan ceceran darah di sekitarnya.
Inagaki diduga menjadi korban pembunuhan. Belum jelas, apakah meledaknya genset di perusahaan itu satu jam sebelumnya, yang diikuti padamnya listrik, merupakan rangkaian dari skenario upaya pembunuhan misterius ini.
Kapolres Trenggalek AKBP Desmawan Putra melalui Kasat Reskrim AKP Wajib Santoso membenarkan bahwa penemuan mayat Inagaki hanya beberapa saat setelah kejadian meledaknya genset di gudang perusahaan penangkaran mutiara CV Gunung Utara Mutiara itu. Lokasi perusahaan berjarak sekitar 25 km selatan Pantai Prigi.
“Waktu itu korban bersama anak buahnya sedang makan malam sekitar pukul 18.30 WIB. Setengah jam kemudian terjadi insiden meledaknya genset di gudang hingga mengakibatkan listrik padam,” kata AKP Wajib Santoso, Minggu (28/6).
Mendengar ledakan tersebut, anak buah Inagaki dan karyawan lainnya berlarian untuk memadamkan kobaran api. Sebagian di antara mereka juga ada yang memindahkan jeriken berisi solar agar tidak tersulut kobaran api.
Setelah kebakaran itu, Inagaki tiba-tiba tidak terlihat lagi di kerumunan para karyawannya. Takut terjadi sesuatu, para karyawan pun berusaha mencari lelaki yang di negara asalnya beralamatkan di 4794-12 Katada Shima Cho, Shima Shi Miken, ini.
Satu jam kemudian, ternyata Inagaki ditemukan sudah tak bernyawa lagi. Ia tergeletak di atas batu karang di pantai depan mess perusahaan, dengan kondisi penuh luka dan ceceran darah di sekitarnya.
Para karyawan langsung melaporkan hal itu ke polisi. Sabtu malam itu juga jasad Inagaki dievakuasi ke RSUD Dr Soedomo Trenggalek.
Diungkapkan AKP Wajib, petugas rumah sakit hanya melakukan otopsi luar, karena untuk melakukan otopsi dalam diperlukan persetujuan dari pihak keluarga Inagaki. Dari visum luar ditemukan adanya luka robek di teliga kiri dan kanan, di kepala bagian belakang juga ditemukan benjolan memar, juga terdapat lebam pada punggung serta luka di beberapa bagian tubuh lainnya.
Pergoki Pembunuh
Sementara itu menurut Sutari, 35, salah satu pekerja yang juga anak buah Inagaki, sebelum kejadian tersebut bosnya bercerita kalau dia sempat memergoki seseorang ingin membunuhnya dengan cara memukulnya saat berada di kamar. “Tapi sempat diteriaki oleh Pak Inagaki, akhirnya orang itu kabur,” tutur Sutari.
Apakah wajah orang tersebut sempat dikenali, Sutari mengaku tidak menanyakan hal tersebut kepada Inagaki.
Kapolsek Watulimo AKP Hariyanto juga menduga kuat korban dibunuh. Berdasarkan pemeriksaan saksi dan olah TKP, korban diduga dibunuh oleh dua orang yang memiliki ciri-ciri badan kurus dengan tinggi badan sekitar 170 cm. “Diduga pelakunya orang luar perusahaan atau bukan karyawan perusahaan itu. Sekarang masih kita perdalam untuk menangkap pelakunya,” tegasnya.
Minggu (28/6) siang, jenazah Inagaki dibawa ke RSU Dr Soetomo Surabaya untuk proses pengawetan hingga keluarganya datang. Jenasah Tarao tiba di kamar mayat RSU Dr Soetomo sekitar pukul 16.10 WIB dengan diantar petugas dari Polres Trenggalek.
Salah seorang petugas mengatkan pihaknya hanya menitipkan jenazah, karena belum ada keluarga yang datang menjemput. “Minta bantuan untuk diawetkan sambil menunggu keluarganya atau perwakilannya datang,” ujarnya.
Informasi dari petugas kepolisian yang mengantar jenazah kepada penjaga kamar mayat, disebutkan bila korban diduga tewas akibat penganiayaan oleh orang lain. “Tapi apa motif dari penganiyaan itu, polisi belum tahu, apakah perampokan, pembunuhan, atau dendam pribadi,” ungkap petugas tersebut. ais/rie
Editor : jps