Home » Berita Terkini » Medika

Pengasapan Tak Efektif Berantas Nyamuk

SEMARANG | SURYA.CO.ID - Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, menilai, pemberantasan nyamuk dengan cara pengasapan atau “fogging” dinilai tidak efektif dan banyak sisi negatifnya.

“Selain mahal, dengan cara fogging justru polutan yang ditumbulkan dapat membahayakan paru-paru jika dihirup secara langsung,” katanya di Semarang, Minggu (28/6/2009). Menurut dia, pemberantasan dengan cara fogging memerlukan koordinasi dan waktu yang banyak untuk persiapan dan pembersihan, lagi pula hanya bisa membunuh nyamuk dewasa saja, dan yang lebih riskan adalah mencemari lingkungan. “Cara ini hanya bisa mengurangi, tetapi tidak bisa memberantas secara efektif,” katanya.

Ia mengatakan, cara efektif untuk mengurangi demam berdarah dengue (DBD) sebenarnya adalah dengan cara pemberantasan sarang nyamuk. Selain murah, praktis, juga dapat memutuskan siklus nyamuk dari telur, jentik dan kepompong. Kelebihan lain adalah mengurangi penularan penyakit demam berdarah. “Tetapi dengan cara ini perlu rutinitas, sehingga masyarakat perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak,” katanya.

Menurut dia, rumah yang difogging punya risiko ada jentiknya tujuh kali lipat dibandingkan dengan rumah yang tidak difogging, dan mengantung pakaian mempunyai risiko terkena demam berdarah pada keluarganya tiga kali lipat.

Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kekurangan dan kelebihan menggunakan fogging.  Sebagian besar masyarakat beranggapan fogging adalah cara terbaik untuk membasmi perkembangan Aedes aegypti. Teknik tersebut memang bisa membunuh nyamuk dewasa tetapi kelemahannya tidak bisa membunuh jentik-jentik calon nyamuk.

“Sebaiknya fogging digunakan sesuai kebutuhan dan jangan berlebihan. Ketika penyemprotan, menjauhlah dari lokasi, lindungi makanan dan minuman dari asap fogging. Kalau dirasa perlu, cuci kembali perabotan makanan yang tidak terlindungi saat fogging berlangsung. Ini mencegah terjadinya keracunan,” katanya.

Selain itu, kata dia, bila terlalu sering, fogging membuat nyamuk resisten atau kebal. Akibatnya ketika disemprot, ada nyamuk dewasa yang tidak mati. Menurut dia, alasan itulah yang membuat Semarang  masih endemis demam berbarah dari tahun ke tahun, sebab  metode fogging lebih familiar untuk masyarakat metropolis.

“Nyamuk yang mengalami adaptasi dan mutasi genetik karena fogging menjadi lebih kuat dan menciptakan virus baru yang lebih berbahaya bagi manusia,” katanya. Ia mengatakan, fakta itu terlihat  dari banyaknya pasien demam berdarah yang mengaku tidak muncul bintik merah dikulit, padahal bintik merah adalah gejala khas DBD. “Karena tidak ada bintik merah, dikira sakit panas biasa, padahal telah masuk tahap DSS ( dengue shock syndrome, Red),” katanya.

Ia mengimbau, masyarakat agar menerapkan pemberantasan sarang dan jentik Nyamuk (PSNJN) dengan cara cara 3M Puls. Yaitu menguras bak Mandi, menutup wadah penampung air jernih, dan mengubur bahan-bahan yang bisa menampung air. Plus, menggalakkan perilaku bersih dan jangan sampai digigit nyamuk. “Kesadaran untuk hidup bersih inilah kunci utama mencegah penyakit demam berdarah,” katannya. ant

Editor : yul

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "