JEMBER - SURYA-Virus flu H1N1 –yang lebih dikenal dengan flu babi atau flu Meksiko– ternyata pernah berjangkit di Kabupaten Jember, Banyuwangi dan Lumajang. Virus tersebut telah mengenai 11 orang warga tiga kabupaten itu pada tahun 2006 dan 2007 lalu.
Hal ini terkuak dalam skripsi milik mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej), Ramadhoni Finsa, yang berjudul Karakteristik Penderita Influensa di Unit Pantauan Surveilans Influenza Global Rumah Sakit Paru Jember. Skripsi Dhoni –panggilan Ramadhoni Finsa– diuji di kampusnya, Rabu (10/6).
Data skripsi yang dihimpun dari Rumah Sakit Paru (RSP) Jember, pada tahun 2006 ada enam pasien di sana yang positif terkena flu babi, sedangkan pada 2007 ada lima orang pasien. Enam pasien pada 2006 itu berasal dari Kabupaten Jember (empat pasien), Lumajang (satu) dan Banyuwangi (satu). Sedangkan pada 2007, empat orang dari Jember dan satu dari Banyuwangi.
“Dari penelitian saya memang ada yang positif H1N1 atau flu babi,” ujar Dhoni, seusai ujian skripsi, Rabu (10/6).
Diwawancara terpisah, Direktur RSP Jember, Arya Sidemen, membenarkan adanya penelitian Dhoni. Kata Arya, jenis flu babi yang ditemukan adalah H1N1, H1N1 Shanghai, dan H1N1 Caledonia. “Semuanya positif A H1N1,” ujar Arya.
Sekadar mengingatkan, wabah flu babi adalah epidemi galur (garis keturunan) virus influensa baru yang baru dikenali pada April 2009 setelah meledak di Meksiko, dan merenggut nyawa 103 orang.
Virus flu babi ini lebih ganas berlipat-lipat daripada flu biasa.
Galur virus ini diperkirakan sebagai mutasi empat galur virus influensa A subtipe H1N1: dua endemik pada manusia, satu endemik pada burung, dan dua endemik pada babi.
Tiga Tahun
Dhoni menjelaskan, penelitian dilakukan kepada para pasien penderita influenza di RSP Jember. Pada tahun 2005 - 2007, RSP menjadi tempat pemantauan influenza global. Dalam rentang tiga tahun tersebut, ada 1.076 orang penderita influenza yang memeriksakan diri ke RSP.
Pada tahun 2006 dan 2007 ternyata ditemukan penderita influenza yang positif terkena flu babi. Hal itu diketahui dari pemeriksaan cepat Quick Vue Flu.
Dhoni mengakui temuan adanya pasien flu babi tersebut sebenarnya di luar dugaannya. Sebab, ketika melakukan penelitian, ia lebih tertarik dengan latar belakang banyaknya kasus unggas mati mendadak pada tahun 2007 di Jember, yang diduga karena flu burung.
“Ternyata flu burungnya tidak ada, artinya tidak ada yang mengenai manusia. Malah nemu flu babi,” tegasnya.
Sedangkan menurut Direktur RSP Jember, Arya Sidemen, jenis flu babi yang ditemukan pada pasen-pasiennya adalah H1N1, H1N1 Shanghai, dan H1N1 Caledonia. “Semuanya positif A H1N1,” ujarnya.
H1N1 golongan A, jelas Arya, berarti tempat hidup virus itu berasal dari binatang. Reservoir atau tempat hidup Virus H1N1 golongan B adalah manusia, sedangkan golongan A adalah hewan.
“57 persen pasien influensa yang dirawat di RSP tertular dari binatang,” tegas Arya.
Menurut Arya, satu pasien terkena jenis varian H1N1 Caledonia, yang kemungkinan berbeda dengan H1N1 di Meksiko. Temuan atas H1N1 tersebut, tidak satupun yang menyebabkan kematian. Gejala yang dialami sejumlah pasien H1N1, kata dia, hampir sama dengan influensa biasa yakni demam, pilek dan batuk.
RSP Jember, lanjut Arya, memang menjadi pemantauan influenza global yang diselenggarakan oleh WHO bekerjasama dengan penelitian dan pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) dan NAMRU-2 di Jakarta.
“Setiap sampel pasien influensa di RS Paru selalu dikirim ke Jakarta dan laboratorium WHO untuk diketahui jenis virus flu yang diderita oleh pasien di RS Paru Jember,” imbuhnya.
Hasil rekam medis dari WHO dan NAMRU-2 selalu disampaikan kembali ke RS Paru Jember. Seluruh analisis rekam medis pun menjadi objek penelitian oleh mahasiswa FK Unej.
Dengan demikian, lanjut Arya, sebenarnya virus H1N1 sudah ada sejak dulu di Kabupaten Jember. Namun, apakah jenis variannya berbeda dengan H1N1 yang melanda Meksiko, hal itu belum ada analisisnya.
“Namun virus H1N1 yang ditemukan di RS Paru Jember tidak menyebabkan kematian,” tegasnya.
Tetapi, Arya meminta agar ketiga kabupaten –Jember, Banyuwangi, dan Lumajang– waspada, karena ternyata virus flu babi telah ditemukan di ketiga daerah tersebut sejak tahun 2006 lalu. “Agar semua pihak waspada, dan warga yang terkena influenza setelah kontak dengan binatang sebaiknya segera memeriksakan diri,” tegasnya. st9
Teridah Ernala Ginting said on Kamis, Juni 11, 2009, 11:42
Kepada Dr Dhonie sebagain penulis skripsi, Dr Arya sebagai direktur RSP and peliput berita, harap jangan menimbulkan kepanikan dengan menimbulkan istilah flu babi.
H1N1 ditemukan dimana2 dan merupakan salah satu penyebab common flu pada manusia. Penemuan H1N1 tidak sama dengan flu babi. Flu babi memang juga influenza A subtipe H1N1, tapi memiliki genetik yang sama sekali berbeda dengan H1N1 flu biasa. Hal ini hanya dapat ditentukan dengan sequencing atau PCR menggunakan primer spesifik.
Skripsi tsb juga menyebutkan bahwa H1N1 yang ditemukan adalah strain Caledonia. Strain itu sudah jelas merupakan virus H1N1 manusia biasa, yang mudah ditemukan dimana2. Bahkan strain ini juga merupakan strain vaksin.Harap jangan membuat kegegeran. Silahkan memberitakan penemuan H1N1, tapi jangan menyebutkan flu babi apabila belum pernah dikonfirmasi dengan sequencing.
Jember, East Java ::: University of Jember medical student reports study of H1N1 patients of Jember Lung Hospital « Bird Flu Information Corner said on Kamis, Juni 11, 2009, 11:51
[...] Source: Indonesia newspaper, Surya. http://www.surya.co.id/2009/06/11/11-warga-jember-sudah-kena-flu-babi.html [...]