Banyak Caleg Belum Bayar Utang, Pedagang Atribut di Pasar Senen Trauma

JAKARTA | SURYA Online - Sejumlah pedagang dan pembuat atribut kampanye di Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengaku merasa trauma karena banyaknya caleg yang berutang pada Pemilu Legislatif April 2009 hingga kini belum membayarnya.

“Kami merasa trauma karena banyaknya caleg yang berutang. Oleh karenanya, kami akan lebih berhati-hati untuk menerima pesanan pada Pilpres ini,” kata salah seorang pedagang atribut kampanye, Rudi Tivano, di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (3/6).

Menurutnya, banyak para pedagang dan pembuat atribut kampanye merasa tertipu oleh tingkah laku caleg yang terlihat ‘perlente’, sehingga banyak pedagang yang percaya begitu saja dengan ucapan ‘manis’ sang caleg.

Rudi menjelaskan, dengan bujuk rayuan si caleg, akhirnya banyak pedagang dan pembuat atribut kampanye di Pasar Senen berani menanggung resiko untuk memberikan layanannya sesuai pesanan para caleg.

“Saya pun tertipu dengan gaya dan penampilan caleg yang terlihat kaya. Hingga kini masih ada beberapa caleg yang belum membayar utangnya, dengan total sebesar Rp 50 juta,” katanya menjelaskan.

Rudi mengaku, tidak yakin caleg-caleg yang berutang itu akan membayarnya, pasalnya caleg-caleg yang kebanyakan dari luar Jakarta itu tidak lolos pada Pemilu Legislatif 2009 lalu.

“Mereka akan membayar dengan apa, bila mereka tidak lolos menjadi anggota legislatif,” kata Rudi yang tidak banyak berharap para caleg akan membayar utangnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, lanjut Rudi, saat ini pihaknya membuat aturan baru yang tidak bisa ditawar lagi oleh para pemesan, yakni para pemesan harus membayar uang mukanya (DP) terlebih dahulu minimal 75 persen dari total harga barang yang dipesan.

“Sebelumnya, kami hanya memberikan DP sebesar 50 persen dari total harga barang. Namun saat ini, para pemesan harus membayar DP-nya 75 persen. Hal ini dilakukan agar para pedagang tidak rugi besar,” tuturnya.

Pedagang lainnya, Ferri Yanto, mengatakan, banyak caleg dari beberapa daerah yang belum membayar utangnya, seperti caleg dari Papua, Medan, Lampung Selatan dan daerah lainnya.

“Akibat caleg yang bertingkah laku buruk itu mengakibatkan usahanya merugi sekitar Rp 100 juta. Kendati demikian, kerugian masih bisa tertutupi dengan jumlah pesanan yang cukup banyak pada Pemilu Legislatif lalu,” ujarnya. ant

Dibaca: 131 kali

  • Editor : Sugeng Wibowo

Kirim Komentar