SIGLI - SURYA- Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN), Aceh merupakan lumbung ganja terluas di Indonesia. Hal ini terbukti keberhasilan petugas menemukan ladang ganja seluas 25 hektare dan 7 hektare, di pergunungan Aceh Besar kurun waktu tahun ini. Hal itu dikatakan Ketua BNN, Ketut Setyawan pada seminar kampanye anti narkoba, Rabu (27/5) di Oprom Bupati Pidie.
Seminar tersebut dibuka oleh Bupati Pidie Mirza Ismail dan dihadiri Wakil Bupati Nazir Adam, Waka Polres Pidie Kompol M Ali Kadhafi SIK, Kasat Reskrim Polres Pidie, AKP Erlin Tangjaya dan unsur Dandim 0102 Pidie, dan sejumlah camat dan kadis. Ia menjelaskan, BNN melalui pogram berlanjut alternative development (AD) mencoba merubah pola hidup masyarakat Aceh, khususnya Pidie yang gemar menanam ganja akan disulap dengan tumbuhan lain, bukan ganja.
Karena berdasarkan penelitiannya, faktor masyarakat berkeinginan menanam benda haram itu, akibat diterpa kemiskinan. Sehingga mereka tergiur dengan bujuk rayu bandar narkoba, untuk menanam ganja. Meski keuntungannya yang diperoleh dari hasil penjualan ganja sangat kecil. “Tidak ada masyarakat kaya raya, dengan hasil penanaman ganja,” kata Ketut.
Dikatakan, pogram AD ini telah pernah dipraktekkan kepada masyarakat Thailand. Di mana sejak tahun 1998 negara tersebut dikenal dengan penghasil opium paling besar. Tak heran pada waktu itu masyarakat berlomba-lomba menanam tanaman opium tersebut. Namun, ketika pogram AD diperkenalkan kepada masyarakat Thailand, lokasi yang dulunya sebagai lokasi lahan opium, berubah menjadi tempat parawisata.
“Ini yang ingin kami praktekkan di sini, merubah lahan ganja dengan menanam tubuhan lain yang mendatangkan nilai ekonomis pada masyarakat,” katanya yang menyebutkan secara historis Aceh memiliki tanah yang subur, karena curah hujan lebih tinggi. Kalakhar BNP, Moh Tahya Hidayat menjelaskan, sebenarnya ganja digolongkan kepada narkoba dan sabu. Di mana kejahatan narkoba pengaruhnya sangat spesifik dalam mengincar pelakunya. Juga narkoba mampu mempengaruhi korban yang tidak bisa dihitung dengan jari. Dan ketika mereka terkena narkoba, membutuhkan dana yang cukup besar untuk mengobatinya.
Untuk itu, kata Moh Tahya, penghentikan siklus mata rantai ganja di pasaran, salah satunya masyarakat harus menyetop menanam ganja. Ladang ganja akan digantikan dengan tanaman lain seperti kedelai, karet, dan tanaman bermanfaat lainnya. “Kita semestinya malu, jika daerah Serambi mekkah sebagai lubung ganja serta diiendentikkan dengan daerah ganja,” kata Moh Tahya.
Perusak generasi
Bupati Pidie, Mirza Ismail menegaskan, ganja merupakan jenis narkotika, hingga kini peredarannya telah masuk pada tahap yang mencemaskan. Sebab, ganja begitu mudah beredar luas di Aceh. Tak heran, kata bupati, Aceh sekarang ini dijuluki dengan ladang penghasil ganja terbesar di Asia. “Ini bukan sebuah kebanggan bagi kita penghuni tanah Iskandar Muda. Namun, kita harus mencari solusi alternatif untuk memadamkan perendaran ganja di Aceh. Sayang generasi muda kita, sebagai pemegang tongkat estafet, harus rusak akibat pengaruh ganja,” kata Mirza.(naz/serambi indonesia)
Editor : jps