Bayi Mungil Ditelantarkan, WCC: Tiap Satu Jam Lahir Empat Bayi di Malang

BLIMBING - SURYA-Seorang bayi laki-laki mungil yang diperkirakan berusia tujuh hari, Kamis (21/5) malam ditemukan tergeletak di sebuah ruko di kawasan Rampal, Kota Malang. Bayi dengan berat 3 kg dan tinggi 49 cm itu ditemukan dalam keadaan menangis oleh Andinna Putri, 21, dan adiknya Andre, 18, sekitar pukul 23.30 WIB.

Bayi berhidung mancung berambut hitam tebal itu diletakan dalam sebuah kardus coklat. Tidak ada keterangan apa pun dalam kardus itu, selain sebuah selimut dan sebotol susu yang sudah dingin.
Saat ini, bayi malang tersebut diasuh pasangan Priyono-Sukmawati yang tinggal di Jl Marsose Blok H.

Keluarga yang tak punya momongan ini bersedia merawat bayi tersebut sekaligus mengadopsinya sebagai anak. “Ini adalah jawaban dari doa saya, yang selalu minta kepada Allah,” ucap Sukmawati, Jumat (22/5), sembari mendampingi bayi barunya yang hingga saat ini belum diberi nama.

Menurut Priyono, bayi tampan yang akan diadopsinya itu ditemukan Andin dan adiknya dalam perjalanan menuju Kesatrian. Andin yang sedang mengendarai mobil tiba-tiba mendengar suara bayi menangis keras dari deretan parkir salah satu ruko.

Melihat kondisi bayi yang menangis karena kedinginan dan lapar, Andin membawa bayi itu pulang dan merawatnya. Keesokan harinya, barulah ia melaporkan temuan itu ke polisi. “Kami akan menyelidiki siapa ibu dari bayi yang ditemukan mereka,” kata AKP Kusworo Wibowo, Kasat Reskrim Polresta Malang.

Baby Boom
Kasus penelantaran bayi yang baru lahir memang sering terjadi di Kota Malang. Dalam dua bulan terakhir, sedikitnya tiga bayi malang ditemukan ditelantarkan orangtuanya.

Menurut pemerhati sosial, Sri Wahyuningsih SH MSi, ini dampak terjadinya ledakan bayi atau disebut baby boom. Menurut ketua Woman Crisis Center (WCC) Malang ini, setiap satu jam ada empat bayi lahir baru. ”Banyak pasangan usia subur menikah muda, namun tidak siap menghadapi kelahiran. Mereka memilih jalan pintas dengan menelantarkan bayi hasil perkawinan tersebut,” ujar Sri.

Perkawinan usia muda terjadi karena beberapa sebab. Di antaranya faktor ekonomi, kehamilan yang tidak diinginkan, serta pergaulan bebas. ”Malang sebagai kota pendidikan sangai kondusif, karena setiap tahun terjadi pertambahan mahasiswa baru sekitar 70.000. Setiap tahun yang lulus hanya sekitar 30.000, sisa inilah yang kemudian menumpuk dan mendorong terjadinya perkawinan muda,” tuturnya.

Untuk mengatasi hal ini, semestinya pemerintah daerah kembali menggalakkan KB bagi masyarakat secara murah. Pemerintah tidak bisa tutup mata bahwa banyak warga tidak mampu mendapatkan alat kontrasepsi karena kemiskinan. why/tof

Dibaca: 259 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar