Home » Regional

150 Anggota TNI Ngamuk, Dipicu Pemotongan Uang Makan

Jakarta-Surya-Karena dianggap melalaikan hak-hak prajurit dengan memotong uang lauk-pauk, Komandan Batalyon (Danyon) Infanteri 751/BS Sentani, Letkol Inf Lambol Sihotang, didemo oleh sekitar 150 prajuritnya, Rabu (29/4) kemarin.

Aksi protes yang diselingi amukan dan kemarahan itu membuat suasana markas Batalyon Infanteri (Yonif) 751 di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, menjadi mencekam. Dalam aksi usai apel pagi itu, terdengar beberapa kali letusan senjata serta terjadi pengrusakan sejumlah fasilitas di markas.
Dikabarkan pula, terjadi pengambilan senjata di gudang, dan pengejaran terhadap Danyon serta sejumlah perwira oleh para prajurit, yang menyebabkan satu perwira bocor kepalanya.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Christian Zebua ketika dikonfirmasi kantor berita Antara di Jakarta, membenarkan adanya aksi protes yang disertai pengrusakan itu.

Namun demikian, tadi malam ketegangan sudah mereda dan tak sampai meluas ke luar markas. Sebab, tak lama setelah insiden itu, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Azmin Yusri Nasution segera ke markas Yonif 751/BS Sentani untuk berdialog dengan para prajurit dan menenangkan situasi.
“Aksi itu dipicu oleh prosesi pemakaman salah satu prajurit satuan setempat yang meninggal dunia. Kita akan dalami terus kasus ini, termasuk kemungkinan adanya hak-hak prajurit yang tidak diberikan,” kata Christian.

“Komandan berusaha menjelaskan perihal prosesi pemakaman itu, namun prajurit keburu kesal dan marah, hingga komandan melarikan diri,” tambahnya.
Untuk mendalami kasus tersebut, Makas Besar (Mabes) TNI AD akan membentuk tim investigasi yang dipimpin langsung oleh Pangdam Cenderawasih.

Christian mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan tentang adanya korban meninggal atau prajurit yang mengalami luka-luka akibat aksi tersebut.
Sementara itu, di Sentani, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Susilo, menjelaskan bahwa insiden di markas pasukan pemukul itu terjadi karena ada komunikasi yang tersumbat antara prajurit dengan komandannya.

Menurut dia, sekitar 150-an prajurit marah sebab uang makan dan uang-uang lainnya yang seharusnya menjadi hak mereka dipotong oleh Danyon.

“Kasus pemotongan hak-hak anggota ini sudah terjadi beberapa lama dan hari ini puncaknya. Mereka melampiaskan kekesalannya,” katanya.

Selain itu, penyebab lain adalah kasus meninggalnya seorang prajurit, Pratu Joko, akibat sakit beberapa hari lalu. Keluarganya di Nabire (sekitar 500 km dari Jayapura) menghendaki dia dimakamkan di sana.

Karena alam Papua yang bergunung-gunung, membawa jenazah ke Nabire harus dengan pesawat terbang. Namun, biaya sewa pesawat ke Nabire sangat mahal yakni Rp 90 juta, sehingga Danyon tidak sanggup untuk membiayai sepenuhnya.

Ratusan prajurit, khususnya rekan-rekan seangkatan Pratu Joko, lalu ikut menanggung dengan mengumpulkan dana secara sukarela hingga tercapai Rp 40 juta, dan sisa kekurangan ditutup Danyon.
Kendati jenazah prajurit itu sudah dimakamkan di Nabire, namun ratusan prajurit Yonif 751 tetap tidak puas karena merasa selama ini hak-haknya sering dipotong.

“Mereka melampiskan kekesalan kepada Danyon karena akumulasi persoalan sebelumnya,” ujarnya.
Karena persoalan tempat pemakaman tersebut, jenazah Pratu Joko dikabarkan sampai membusuk di markas. Namun, kabar ini dibantah oleh Brigjen TNI Christian Zebua.

“Tidak ditelantarkan. Mungkin hanya perlu waktu untuk persiapan dan carter pesawat,” katanya.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Azmin Yusri Nasution berjanji akan memproses secara hukum Danyon Infanteri 751/BS Sentani, Letkol Inf Lambol Sihotang, terkait kasus amukan prajurit tersebut. Janji itu disampaikan Pangdam setelah berdialog dengan ratusan prajurit Yonif 751.

“Pangdam berjanji akan memproses Danyon sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Susilo.
Sementara itu, kompas.com melaporkan, sejumlah wartawan yang kebetulan saat kejadian berada tak jauh dari lokasi peristiwa dan berusaha meliput, diusir. Sejumlah kamera milik mereka direbut serta dirusak oleh oknum tentara.

Seorang wartawan yang demi keamanannya minta disembunyikan identitasnya, ketika dihubungi, membenarkan bahwa kameranya direbut oleh para oknum tentara. Saat itu, ia baru saja meliput kegiatan menjelang 1 Mei (hari Penentuan Pendapat Rakyat Papua Barat) dan mampir ke warung makan di depan markas batalyon.

Saat makan terdengar ribut-ribut demonstrasi di halaman batalyon sehingga menarik perhatian wartawan. Para jurnalis mengeluarkan perekam gambar dan mengabadikannya.

Hal ini diketahui para oknum tentara yang sedang berdemonstrasi sehingga kamera langsung direbut. Mereka lantas merazia rumah makan dan menyita kamera wartawan yang tak ikut meliput.
Seorang wartawan lain mengatakan, oknum itu kemudian membanting kamera di jalan.ant/kcm

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "