JAKARTA | SURYA Online - Penjabat Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Nurhabri menyatakan, keributan yang sempat terjadi di dalam kompleks Batalyon 751 Sentani, Papua, tidak mempengaruhi situasi keamanan dan ketertiban di luar kompleks. Bahkan situasi di dalam komplek asrama tentara itu juga sudah kondusif.
“Keributan terjadi antaranggota saja. Suasananya sudah kondusif,” kata Nurhabri yang dihubungi dari Jakarta, Rabu (29/4).
Mengutip laporan yang diterima dari jajaran kepolisian di Sentani, Nurhabri yang sedang berada di Merauke menyatakan, keributan antaranggota itu terjadi sekitar pukul 12.45, di mana sempat terjadi 10 kali letusan senjata api.
“Pemicunya ketidakpuasan anggota kepada komandannya,” katanya. Menurut dia, keributan itu dipicu oleh kematian salah satu anggota Kompi E bernama Pratu Joko. Atas kematian itu, komandan Batalyon membebankan biaya pemulangan jenazah kepada keluarga dan teman-teman seangkatan.
Kebijakan itu membuat anggota tidak puas. Puncaknya pada hari ini mereka berunjuk rasa. Dalam unjuk rasa itu mereka juga menyatakan ketidakpuasannya atas kebijakan atasan soal makanan dan kesejahteraan prajurit.
Menjawab pertanyaan, Nurhabri menyatakan, Pratu Joko meninggal karena sakit pada hari Selasa kemarin, bukan seperti informasi sebelumnya yang menyebutkan jenazah korban ditelantarkan sampai lima hari.
Nurhabri juga membantah informasi yang menyatakan kalau anggota sempat memblokir jalan raya Sentani. “Keributan hanya di dalam Batalyon,” katanya. msh/kcm
Editor : Sugeng Wibowo