SURABAYA - SURYA-Pemerintah daerah (pemda) dituding lambat dalam merespons kredit sindikasi (pembiayaan bersama) perbankan. Buktinya, sejak 2007 serapan kredit yang dikucurkan masih sangat minim. Padahal, menurut Direktur Bisnis Umum PT BRI Sudaryanto Sudargo, dana stand by dan bisa langsung dikucurkan.
“Apabila pemda mau bersikap partisipatif tentu sektor-sektor yang kita garap cepat terealisasi,” tandas Sudaryanto, usai pemberian penghargaan SIPK (Sistem Insentif Pengembangan Kegiatan) pada unit-unit BRI di Empire Palace, Selasa (28/4).
Tiga sektor yang dilirik dan akan dikembangkan yakni, agribisnis, infrastruktur, dan power plan (energi pembangkit). BRI fokus di agribisnis mengingat sektor ini adalah intiplasma masyarakat pedesaan. “Kreditnya bisa dalam bentuk cash maupun pemberian tanah untuk usaha. Sayangnya, serapan kredit di sektor ini paling minim,” kata Sudaryanto.
BRI menyediakan dana kredit sindikasi sektor agribisnis Rp 12 triliun, namun baru terserap Rp 2 trilun sejak 2007 sampai sekarang. Padahal, perjanjian pembiayaan kredit berakhir sekitar Desember 2010.
Salah satu kendala yang kerap dijumpai di sektor agribisnis ini, terkait perizinan dan sertifikasi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). “Izinnya sangat lama dan berbelit. Akibatnya, realisasi pengucuran kredit ikut terhambat,” jelasnya.
Kucuran kredit sindikasi agribisnis terbesar untuk perkebunan kepala sawit dan kakao di Kalimantan. Sementara, kredit sindikasi power plan dialokasikan Rp 10 triliun, sedangkan kredit sindikasi infrastruktur (pembangunan jalan tol) sebesar Rp 6 trilun. “BRI juga akan menambah alokasi dana kredit mikro di pedesaan. Tahun ini diharapkan ada pertumbuhan kredit sampai 32 persen,” sambung dia.
Untuk kredit umum pedesaan (kupedes) secara nasional telah disalurkan Rp 42,756 trilun. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan 2008 yang hanya Rp 32,602 triliun dan Rp 27,284 triliun (2007). “Harapannya penyaluran tahun ini ada tambahan sampai Rp 11 triliun,” ucapnya.
Terhitung Maret 2008, penyaluran kupedes mencapai Rp 21 trilun, sedangkan sampai dua minggu pertama April baru Rp 18,5 triliun. Targetnya, untuk setiap bulan kredit bisa tumbuh sampai Rp 4 triliun. Suku bunga yang dipatok turun dari 28 persen menjadi 24 persen/tahun.
Sepanjang 2009, BRI akan membuka unit-unit baru di beberapa pelosok daerah di Jawa maupun luar Jawa. “Kita akan buka 200 unit BRI lagi dan 200 teras BRI. Jadi, sampai akhir tahun secara nasional BRI bisa memiliki 4.600 unit (741 unit di antaranya di Jatim) dan 400 teras BRI,” pungkasnya. ame
Editor : jps