SURABAYA | SURYA Online - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, mengusulkan penanggulangan meluasnya wabah penyakit flu babi di daerahnya dengan menggunakan anggaran darurat.
“Sekarang kami sedang menunggu usulan mengenai besaran penggunaan anggaran itu dari Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan, selanjutnya kami akan berkirim surat kepada DPRD,” kata Soekarwo saat ditemui di Gedung Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Selasa (28/4).
Ia meminta usulan dari Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan tersebut, paling lambat dua atau tiga hari mendatang sebelum wabah tersebut benar-benar sampai di Jatim.
Anggaran darurat yang tercatat dalam APBD Jatim 2009 mencapai Rp 58 miliar. “Nanti berapa yang dipakai untuk penanggulangan flu babi, biar kami yang mengusulkan penggunaannya sebelum PAK (perubahan anggaran keuangan) diputuskan,” ucap Soekarwo.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta semua pihak, terutama petugas bandara dan pelabuhan turut serta melakukan pencegahan masuknya wabah penyakit mematikan itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Sigit Hanggono, mengingatkan balai karantina, baik di Bandara Juanda maupun di Pelabuhan Tanjung Perak untuk memperketat pengawasan terhadap daging atau binatang ternak yang keluar-masuk.
“Penyebaran wabah flu babi sangat cepat. Buktinya dalam waktu tiga hari saja wabah itu sudah bisa masuk Selandia Baru dari Meksiko,” katanya.
Selain oleh peredaran daging dan binatang ternak, penyebaran wabah itu juga didukung oleh tingginya mobilitas manusia. “Penularan virus itu pun relatif cepat, satu hingga dua jam. Jadi tidak sampai satu hari,” katanya menjelaskan.
Ia menyebutkan, populasi babi di Jatim pada tahun 2007 telah mencapai 48.203 ekor, dan berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) populasi itu bertambah menjadi 75.019 ekor pada tahun 2008.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Pawik Supriadi, mengemukakan, hingga saat ini wabah penyakit flu babi itu belum masuk ke wilayah provinsi paling timur Pulau Jawa itu.
“Tapi masyarakat tetap harus mewaspadainya, sebelum wabah itu sampai di sini,” katanya saat ditemui di Grahadi untuk menyaksikan penandatanganan kerja sama bidang kesehatan antara Pemprov Jatim dengan Pemkab Gresik dan Pemkot Kediri itu.
Namun, dalam menghadapi masuknya wabah flu babi itu, Dinas Kesehatan Jawa Timur tidak memiliki persediaan yang cukup obat-obatan seperti Tamiflu. ant
Dibaca: 87 kali