Perpanjangan Impor Bisa Pukul Harga Beras

SURABAYA | SURYA-Perpanjangan kontrak impor beras dikhawatirkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Pasalnya, langkah itu bisa dinilai sebagai bukti ketidakpercayaan pemerintah terhadap hasil produksi beras nasional.

Ketua DPD HKTI Jatim Herry S Arjo mengatakan, seharusnya jika pemerintah percaya terhadap hasil produksi beras nasional, tidak perlu memperpanjang kontrak impor beras. Selain itu, pelaksanaan impor beras sangat bertolak belakang dengan kegiatan ekspor beras yang mulai dilaksanakan Mei nanti.
“Terus terang, impor beras meski dalam tahap perpanjangan kontrak patut dikhawatirkan petani karena bisa menjatuhkan harga beras. Untuk itu kami dengan tegas menolak perpanjangan kontrak itu,” kata Herry S Arjo, Senin (27/4).

Herry mengungkapkan, hasil produksi beras petani khususnya di Jawa Timur tahun ini diprediksi akan mengalami over produksi. Adanya ekspor beras mendatangkan harapan bagi petani untuk mendapatkan harga yang lebih menguntungkan. “Apapun alasanya perpanjangan kontrak impor itu bisa mengancam harga beras produksi petani,” ucapnya.

Tetapi, di sisi lain Nurrahman, Sekretaris Persatuan Penggilingan dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi) Jawa Timur pernah mengatakan, selayaknya pemerintah mempertimbangkan terlebih dahulu ekspor beras tahun ini. Pasalnya, stok beras yang ada belum mencapai dua kali lipat dari kebutuhan konsumsi rakyat.

“Artinya, stok beras nasional sebetulnya masih cukup rawan karena sewaktu-waktu mengalami kekurangan. Tetapi entah mengapa kok nekat ekspor,” kata Nurrahman.

Ia menambahkan, selayaknya Indonesia meniru pola ekspor beras yang dijalankan Vietnam dan Thailand. Beras yang diekspor merupakan cadangan selama 2 tahun. Itu karena produksi mereka jumlahnya dua kali lipat dari kebutuhan nasional.

“Dengan demikian, meski melakukan ekspor, cadangan beras mereka masih cukup besar untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya selama 2 tahun. Sangat berbeda dengan kondisi Indonesia. Baru sedikit mengalami over produksi, tetapi sudah ekspor. Pedagang yang repot karena diminta untuk ikut menyediakan beras kualitas ekpor,” tutur Nurrahman. aru

Dibaca: 207 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar