JAKARTA| SURYA Online - Meskipun pemerintah telah menyediakan kertas suara khusus berhuruf Braille, pemilih tunanetra sulit menentukan pilihan saat mengikuti pemungutan suara, .
“Kami khawatir mengganggu warga lain kalau saya lama-lama dengan kertas suara itu,” kata Nasihin dari Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin, Jakarta, Kamis (9/4).
Nasihin adalah salah seorang dari 18 pemilih tunanetra yang ada di sebuah TPS di Kelurahan Cawang, Jakarta. Ia harus memilih dengan bantuan pengasuh dengan memakan waktu sekitar tujuh menit.
Walau kertas suara lebih bagus dari kertas suara biasa, namun huruf Braile harus diraba dengan cermat, padahal dengan 38 partai dan berpuluh nama caleg yang mesti diraba, pemungutan suara pun menjadi lebih lama.
“Saya sulit dengan susunan nama calegnya dan melipat kertasnya yang terlalu lebar. Jadi saya masih memerlukan bantuan orang lain supaya cepat memilih,” terang Nasihin. ant
Dibaca: 45 kali