Madura Tolak Nama Suramadu

Diusulkan Bernama Jembatan Trunojoyo atau HM Noer

SURABAYA | SURYA - Nama Jembatan Suramadu yang menghubungkan Kota Surabaya dan Madura ada kemungkinan akan tinggal kenangan. Pasalnya, tokoh masyarakat Madura yang tergabung dalam Dewan Pembangunan Madura (DPM) secara tidak langsung menyatakan menolak nama Jembatan Suramadu.

DPM bahkan sudah mengusulkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar nama jembatan sepanjang 5.438 meter itu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. “Kami sepakat nama Jembatan Suramadu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. Usulan ke Presiden telah kita sampaikan awal Februari lalu,” ujar Ketua Umum DPM H Achmad Zaini kepada Surya, Rabu (1/4).

Menurut Zaini, pentingnya mengubah nama Suramadu karena nama yang dipakai sekarang tak punya makna dan nilai historis apapun bagi masyarakat pulau Garam. Suramadu hanya kependekan Surabaya dan Madura. Padahal, sebagai jembatan terpanjang di Indonesia, juga di Asia Tenggara, mestinya nama yang dipilih harus mengadaptasi sejarah, tradisi, dan budaya lokal masyarakat setempat. Dan nama Trunojoyo dinilai tepat karena Trunojoyo adalah pahlawan masyarakat Madura.

Trunojoyo atau Taruno Joyo merupakan tokoh yang memimpin perjuangan masyarakat Jawa dan Madura terhadap campur tangan penjajah Belanda pada wilayah Mataram tahun 1652, ketika kekuasaan Mataram dipegang Susuhunan Amangkurat I. Dia putra bangsawan Madura, Pangeran Malujo – yang masih keturunan bangsawan Majapahit.

Karena sangat pentingnya kepahlawanan Trunojoyo bagi masyarakat Madura, forum Musyawarah Besar Masyarakat Madura ke-3 pada 2007 lalu juga sepakat mengubah nama Suramadu jadi Trunojoyo. Meski hingga kini, negara belum mengakuinya sebagai pahlawan nasional.

Kata Zaini, tokoh-tokoh Madura yang mendukung perubahan nama itu, seperti HM Noer (mantan Gubernur Jatim), Jenderal Pol (Pur) Roesmanhadi (mantan Kapolri), Laksamana Achmad Sutjipto (mantan KSAL), Letjen Ari Sudono (mantan Kabais), KH Nuruddin dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikam Bangkalan, KH Warist Ilyas dari Ponpes Guluk-guluk Sumenep, Prof Sudarso Joyonegoro (mantan Rektor Unair), dan sejumlah tokoh penting lainnya.

“Meski sejumlah tokoh sudah sepakat, keputusan akhir ada pada presiden. Tapi kami berharap, sebelum 12 Juni nanti, kepastian nama Suramadu diubah atau tidak, sudah ada,” tegas Ketua Tim Pengawas Independen Pembangunan Jembatan Suramadu ini.

Bahkan sebagai upaya menjadikan Trunojoyo sebagai ikon Madura, tokoh-tokoh Madura tersebut, kata Zaini telah berhasil mengusulkan perubahan nama Universitas Bangkalan menjadi Universitas Trunojoyo (Unijoyo).
Pernyataan sama juga dilontarkan tokoh Madura HR Ali Badri Zaini.

Menurutnya, nama Suramadu sudah bagus, namun lebih bagus lagi diganti dengan nama tokoh Madura seperti Trunojoyo. Atau kalau tidak, jembatan yang bentang tengahnya berhasil disambung pada Selasa (31/3) tengah malam itu diberi nama Jembatan HM Noer, karena prakarsa pembangunan jembatan itu dilakukan oleh mantan gubernur Jatim tersebut. “Saya kira dua nama itu cukup cocok untuk dipertimbangkan sebagai nama jembatan tersebut,” jelasnya.

Di luar soal nama, Ali Badri mengharapkan terhubungnya Surabaya-Madura itu lebih meningkatkan pembangunan kawasan Madura. RH Nasir Zaini, Ketua Forum Madura Bersatu (Formabes) ketika dihubungi terpisah juga mengharapkan hal sama.

Keduanya mengimbau seluruh masyarakat Madura jangan hanya jadi penonton dalam pembangunan Madura, tetapi harus menjadi pelaku. Keduanya menyatakan tidak rela apabila pembangunan Madura diikuti kehadiran panti pijat dan tempat hiburan yang mengarah pada maksiat.

Tergantung Presiden
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V, Departemen Pekerjaan Umum, AG Ismail membenarkan adanya usulan dari DPM agar nama Jembatan Suramadu diubah menjadi Jembatan Trunojoyo. “Usulannya sudah disampaikan langsung ke Presiden. Dan semuanya tergantung pada sing mbaurekso (Presiden), setuju atau tidak,” ujarnya.

Kata Ismail, pihaknya selaku pelaksana di lapangan akan melaksanakan apapun keputusan dari pemimpin tertinggi di negeri ini.

Masih terkait nama jembatan, Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD Jatim Bambang Suhartono meminta semua pihak bersikap lebih arif. “Jembatan itu aset nasional. Tidak perlu dipaksakan untuk seolah-olah itu menjadi milik masyarakat Madura saja atau Surabaya saja,” jelas Bambang Suhartono, Rabu (1/4).

Nama Suramadu, menurut Bambang Suhartono sudah menasional. Bagusnya lagi nama itu bersih dari ikon dan klaim daerah, baik Surabaya atau Madura. Nama Suramadu itu lebih mencerminkan fungsi jembatan, yaitu penghubung pulau Jawa, Surabaya dengan Madura, disingkat Suramadu. “Jangan sampai fungsi jembatan tidak bisa maksimal hanya karena ribut urusan nama,” kata Bambang.

Mantan Ketua DPRD Gresik ini lalu mengingatkan tentang fungsi dan cita-cita pembangunan proyek prestisius yang menelan biaya Rp 4,5 triliun tersebut. Menurutnya, proyek yang dicanangkan sejak 2001 silam itu dicita-citakan bisa menjadi tonggak kebangkitan Madura, utamanya aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. “Jadi, yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang adalah bagaimana membuat program-program percepatan pembangunan dan peningkatan ekonomi di Madura. Kalau ini tidak dirumuskan dengan baik, investasi mahal berupa jembatan akan menjadi kurang berguna,” tuturnya.

Bambang berharap kelompok-kelompok di masyarakat, utamanya di Madura, mencari rumusan kongkret tentang arah pengembangan Madura. “Rumusan itu saya kira penting diberikan kepada empat pemkab di Madura dan pemprov. Sebab keempatnya paling bertanggung jawab untuk membuat skema pembangunan, utamanya tentang masa depan investasi di sana,” tegasnya. uji/jos/ian

Dibaca: 983 kali

  • Editor : yul

Komentar anda

  1. agusta Kamis, 2 April 2009 - 11:27:34

    Kenapa ya masih banyak orang - orang atau sekelompok masyarakat yang menonjolkan dan mengutamakan icon - icon kedaerahannya? kenapa tidak mengutamakan sesuatu yang bersifat umum, dalam tataran nasional?. Rasanya SURAMADU adalah lebih pas, ketimbang TRUNOJOYO. Mohon di ingat dan dihargai juga kebanggaan is Abuy yang ada di pedalaman Irian Jaya sana, Si Abuy begitu bangganya karena Indonesia mempunyai sebuah bangunan jembatan yang begitu megah dan mengagumkan seperti Suramadu, terus si Abuy juga bisa menjelaskan keteman-temannya bahwa suramadu adalah jembatan yang menghubungkan antara dua pulau yaitu JAWA dan MADURA. sedang suramadu sendiri diambil dari nama SURABAYA dan MADURA. Kenapa sih bukan pertimbangan seperti yang dipikirkan, kok malah mentingin kebanggan daerahnya. Tokoh - tokoh yang terlibat dalam usaha perubahan nama tersebut saya pikir benar - benar tidak punya rasa nasionalisme sama sekali.

  2. Mia Hernawati Kamis, 2 April 2009 - 12:26:11

    Aneh…kenapa dulu saat proses pembangunan jembatan nama Suramadu diterima/dibiarkan saja,sehingga menjadi nama yang telah dikenal…sekarang setelah jembatan tersambung…nama Suramadu menjadi konflik…hmm…oalah

  3. rency rengga Kamis, 2 April 2009 - 12:28:45

    wah sepakat sekali dengan nama jembatan trunojoyo
    karena lebih menunjukkan identitas dari rakyat madura.
    dan saya senang sekali akhirnya jembatan tersebut sudah tersambung.
    semoga perekonomian madura bisa meningkat

  4. Aris sandro Kamis, 2 April 2009 - 12:52:38

    oalah… apa arti sebuah nama, saya sempet berpikir dulu, kok yg dibangun jembatan tidak Ketapang-Gillimanuk yang potensinya lebih besar. Sekarang sudah sambung, tidak bersyukur eee malah berkonflik. Aneh memang, kok gak dari dulu2 diusulkan nama untuk jembatan itu. Indonesia memang tak lepas dari konflik, coba liat ntar 1-2 tahun dikawasan sekitar jembatan ntar banyak berdiri gubug liar, satu2 akan muncul, liat aja ntar.

  5. Mohammad Zairosi Jumat, 3 April 2009 - 08:19:18

    memang sepatutnya kalau jembatan yang menghubungkan jawa dan madura namanya diadopsi dari tokoh yang mempunyai nama yang mengharumkan bangsa dan negara. Negara NKRI ini ada bukanlah atas pengorbanan dan perjuangan mereka yang tanpa pamrih apapun mereka mempertaruhkan harta bahkan jiwa dan raga sekalipun demi negara yang kita semua nikmati ini dan semoga bangsa ini mengerti dan memahami

  6. andrew Selasa, 28 April 2009 - 09:45:41

    duh..duh..jujur..sebenarnya saya orang yg paling tidak setuju klo nama jembatan SURAMADU diubah menjadi nama jembatan TRUNOJOYO..karna yg pertama:seolah2 jembatan itu diakui sisi oleh masyarakat madura saja,trus yg kedua:jembatan itu adalah jembatan nasional,aset nasional bukan aset suatu daerah..jadi bukan milik madura maupun surabaya(meskipun uang pembangunannya jg dari kantong kita asalnya:P:P)tapi tolong donk..ini bukan jamannya lagi yg saling berebut seperti itu..kita tetapkan saja itu jembatan milik nasional dengan nama SURAMADU karna kok kesannya lebih merakyat ya…lebih nasionalis gt..penghubung JAWA DAN MADURA..daripada TRUNOJOYO yg ama negara juga lom diakui sebagai pahlawan nasional..iya kan??ngapain coba pake nama TRUNOJOYO yg blm diakui ama negara?,bearti kan indikasinya mengarah ke “pemilikan”jembatan oleh suatu daerah itu sendiri..hehe..udah pak SUSILO BAMBANG YUDHOYONO saya sangat mendukung nama SURAMADU saja..karna netral dan tidak berbau “kepemilikan oleh 1 sisi” gbu.

  7. Excel SoEnGeNeP Senin, 8 Juni 2009 - 21:52:17

    Jujur……..aj ya aku tidak setuju dengan diberinya nma jembatan SURAMADU coz nama trsbut asing bgt bwt COM(Comunite Oreng madhure).kita ank madura tdak klah dengan pulau2 laennya,alam,kekayaan,infrastruktur,ekonomi,msih asl.lebih baek SURAMADU ganti nma ja dech jdi TRUNOJOYO coz dya adlh tokoh bangsawan madura,aku dri suemenep berharap madura itu mempunyai arti yang indah,
    bangkalan,sampang,pamekasan and sumenep ingan jembatan tersebut berubah nama TRUNOJOYO.smpai kapan pun TRUNOJOYO tak kn trlupakan,buat bapak Presiden dan bapak Gubernur mengertilah dengan COM(Comunite Oreng Madhure)berikan nma jembatan tersebut yang penuh arti buat masyarakat madura.

  8. ahyon Selasa, 9 Juni 2009 - 11:35:44

    Dengan ini saya resmikan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura dengan nama “Jembatan” saja.

  9. SAKARMUT Selasa, 9 Juni 2009 - 15:37:32

    diganti CUI LAN SENG ATAU YOK YAN karena yg bikin orang cina (TIONGKOK ) untuk menghormati jasa warga cina di INDONESIA

  10. hedeye Kamis, 11 Juni 2009 - 01:55:20

    oalah………… nama aja kok di ributkan…!!!
    kenapa orang madura bersi keras ingin merubah nama jembatan itu, emangnya jembatan itu punya orang madura aja ta…!!!

    meduro2x… dari dulu kok aneh sih…!!!!
    apa sih arti sebuah nama………………………………….

    ingat jembatan sudah jadi, buat warga madura, jangan membuat bangunan liar ya…!!!

  11. hendro P.T Kamis, 11 Juni 2009 - 09:57:35

    dengan adanya jembatan tsb, bukan berarti Surabaya menjadi bagian dari madura ! Kalau madura punya Trunojoyo, Surabaya juga punya pahlawan nasional yaitu BUNG TOMO ! Nama SURAMADU aku kira lebih netral, tapi kalau oreng madhure ngotot pakai nama Trunojoyo, ya nggak apa-apa, asal ujung jembatan jangan di Surabaya pindahkan ke Pasuruan/Probolinggo sana atau diputus ditengah-tengah !!!!!

  12. samsuri Kamis, 11 Juni 2009 - 11:29:05

    saya setuju nama jembatannya diganti ” jembatan trunojoyo gajahmada diponegoro kartini untungsuropati suharto habibi gus dur megawati sby-jk”

  13. ALGADRI Kamis, 11 Juni 2009 - 12:16:37

    DEMI NAMA RAKYAT MADURA AKAN TENTRAM………….

    UBAH AJ NAMANYA ” JEMBATAN JOKOTOLE”

    ATAU

    “JAWARA”JAWA MADURA…………………..

    ATAU KAN YANG MEMBUAT ITU ORANG CINA YA KSIK NAMA AJA

    “TOO KANG CHONANG”

    OKEY……………………………………..

  14. cah smi Senin, 15 Juni 2009 - 14:41:26

    sbg kitorang broneo. kitorang stuju jembatan dikasi namo “belon ado namo”

  15. brodienz maxdell Rabu, 17 Juni 2009 - 00:55:27

    Walah…..kok mempermasalahkan nama SURAMADU yang sudah kadung jadi jembatan? sudah basi kali ye.. nggak lucu deh kalo Jembatan Suramadu diresmikan untuk yang kedua kalinya. Nanti kita bikin jembatan yang lainnya gimana? nanti kita pakai nama yang lebih oke. Menurut aku nggak cukup satu jembatan untuk memenuhi kebutuhan transportasi jawa madura sebab kalo kita melihat jauh kedepan, prospek kemajuan ekonomi jawa timur khususnya di pulau Madura sangat menjanjikan, dan itu bukan tidak mungkin kalo kita bakalan membangun jembatan suramadu yang kedua kalinya.

  16. Mr.budi Rabu, 17 Juni 2009 - 10:39:31

    saya tidak setuju kalau jembatan suramadu diganti nama kayak trunojoyo,joko tole atau yg lain.saya lebih srek kalau nama tetap SURAMADU,karena apa ? menurut saya itu akan mudah di ingat di seluruh penjuru dunia,kerena identik dengan kota yg terhubung yaitu SURABAYA & MADURA He3 jangan tersinggung ya cak. saya juga lebih suka kalau nama SURAMADU tidak dipermasalahkan.

  17. Tengku Andre Pratama Rabu, 17 Juni 2009 - 11:44:56

    Kenapa mesti diganti namanya. Biarkan saja tetap memakai nama JEMBATAN SURAMADU.
    Karena lebih terkenal dan sudah terkenal di seluruh Indonesia.
    Emangnya jembatan tersebut hanya milik masyarakat di Madura saja?
    Saya yang berasal dari Provinsi Lampung saja merasa bangga sebagai bangsa Indonesia karena juga merasa memiliki Jembatan Suramadu yang terletak di antara Jawa dan Madura.
    Bahkan, nanti bila Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Kota Lampung dan Kota Jakarta/Banten dibangun, kami mau mengusulkan agar memakai nama JEMBATAN JATRA saja, yang artinya Jembatan Jakarta-Sumatera atau Jawa-Sumatera.

    TENGKU ANDRE PRATAMA
    Desa Neglasari Kec.Pagelaran
    Kab.Pringsewu, Lampung 35375

  18. muby Rabu, 17 Juni 2009 - 13:37:20

    wkwkwkwkwkwkwkwk…. opo2an iki rek…. ngene ae kok rame…. pake nama “shark honey bridge a.k.a jembatan hiu manis” piye cak..?? mending mikir kenapa lampu n baut bisa ilang..??
    salam damai.. v (O_O) v

  19. jama (jawa - madura) Rabu, 17 Juni 2009 - 15:48:15

    oalah…nama kok jd masalah seh…
    tp g popo namanya juga usul…
    btw q jg usul..
    untuk mengenang jasa” transportasi laut yg sebelumnya jg satu”x akses menuju madura, gmn klo namanx jadi ” JEMBATAN ANTARA KAMAL DAN PERAK ”
    seruuuuu…kan???????
    apapun namax yg tidak berkenan ya harus Legowo…….
    org legowo di Sayang Tuhan loh…

  20. agung setiadi Kamis, 18 Juni 2009 - 02:03:53

    sura bisa diartikan tantangan, bila merujuk dari akar istilah surabaya dari kata sura ing baya yaitu tantangan dalam bahaya, cura dan bhaya sementara trunojoyo setelah marak dari cengkeraman kekuasaan mataram bergelar madu-retno jadi mungkin saja falsafah suramadu sudah menarik karena bisa diartikan sebagai tantangan trunojoyo….atau bagian timur yang tak pernah gentar…

  21. dhany Kamis, 18 Juni 2009 - 09:01:46

    pakai nama SURO MENGGOLO aja…

  22. Tedi pratama Kamis, 18 Juni 2009 - 09:25:25

    Kenapa sibuk memikirkan mengganti nama, Jembatan Ampera yang ada di Palembang tidak diganti jadi Jembatan Sultan Mahmud Badaruddin II, Atau Jembatan Barelang di Batam juga tidak diganti. Sudahlah tidak usah mementingkan kedaerahan. Lagian Jembatan itu menghubungkan dua daerah, dan masing2 daerah punya pahlawan masing-masing. Kalo diganti Jembatan Trunojoyo warga Surabaya pasti keberatan, karena Surabaya punya Bung Tomo, yang jelas lebih dikenal di Nusantara. Yang penting jembatan itu harus dijaga, jangan seperti sekarang yang mulai di”rombeng”. Atau kita ganti namanya jadi Jembatan Rombeng.

  23. jalu Kamis, 18 Juni 2009 - 11:14:31

    saya orang surabaya asli tak pernah ribut masalah nama SURAMADU itu namayang baik yang artinya SU= INDAH,SURABAYA RA= MADURA MADU= MADURA,MADU YANG ARTIYA MANIS artinya HUBUNGGAN TERBAIK,TERMANIS SURABAYA MADURA saya rasa nama itu baik sip selangkong.

  24. ceapot melpostil Kamis, 18 Juni 2009 - 13:51:26

    wah…wah…wah…madure2.cek senenge toh cak2 tolek sensasi.jarno ae.jembatanya bernama SURAMADU biar nama itu yang mampererat hubungan persaudaraan masyarakat SURABAYA-MADURA.ok piiizzzzzzzzzz

  25. matahari15 Jumat, 19 Juni 2009 - 11:30:00

    ass…
    maaf semuanya bagi para kementar ,etika berbicara harus dijaga jangan sampek menimbulkan efek negatif,yang sekiranya omongan yang mendidik tidak perlu diomongkan,belum tentu yang ngomong bisa memberikan ide ide yang baik,alangkah baiknya dalam berbicara punya sopan santun tidak seperti preman yang masih ingusan.
    Apalagi masalah nama jembatan menjelek jelekkan orang madura itu merupakan tindakan yang diluar norma norma adat madura,apakah seperti itu ,masalah nama jembatan tidak layak diributkan apalagi saling menjatuhkan satu suku madura yang tidak twu asal usulnya ……
    bagi penulis anda jangan hanya pinter ngomong kejelekan orang madura
    buktikan kalo nda bisa…takutnya yang ngomong ngak bisa apa apa ,,itulah ciri ciri orang munafik..atau penghianat bangsa yang senang ngadu domba….
    wslm….orang madura

  26. Shincan Sabtu, 20 Juni 2009 - 14:55:44

    Kok ngeributin jembatan. Nggak penting banget sich…
    Mendingan ngurusin kerjaan aja.
    Waktu kok dibuang-buang buat ngeributin jembatan?
    Tau mau pada ribut, mendingan dulu gak usah dibikin jembatan aja sekalian.

  27. Herbal Minggu, 21 Juni 2009 - 21:30:09

    Dari pada ngeributin nama, mendingan berfikir cara merawatnya. belom apa2 aja bautnya pada ilang.. saya pikir pemerintah harus studi banding ke china, cos d sana jembatan yg besar2 ada banyak, dan terawat dengan baik semua.

  28. poppy febrian Rabu, 1 Juli 2009 - 19:33:26

    yang terpanjang tu di asia tenggara adl jembatan penang malaysia, jgn ke GR an

  29. Lin chiang ho Kamis, 2 Juli 2009 - 08:54:22

    Saya setuju diganti dengan nama ” jembatan MADTOT ” singkatan dari Madura Ngotot ngganti nama ! hi hi hi hi…..puyeng punya kepala pak Sakerah ?…

  30. Dedi Suhandi Jumat, 3 Juli 2009 - 16:19:38

    Sebaiknya nama jembatan “SURAMADU” tetap dipertahankan karena lebih mendunia, seperti nama jembatan “GOLDEN GATE” tdk menggunakan nama orang. Klo diganti namanya nanti masyarakat dunia tdk tahu jembatan “TRUNOJOYO” ada di negara mana ya…?!!

  31. mat nor Selasa, 7 Juli 2009 - 11:33:36

    KALO TIDAK RIBUT BUKAN MADURA TAK IYEEEEEEEEE

  32. Ahmad Turmudzi Kamis, 9 Juli 2009 - 11:19:53

    Bapak ibu yang Budiman,

    Jembatan SURAMADU , bukan milik Putra Daerah aja Madura,TETAPI milik Bangsa Indonesia, mengenai ganti nama, sebtulnya ngak usah diganti dengan Jembatan Trunojoyo, melainkan tetap berawal dari nama awal aja, SURAMADU, Jangan ribut-ribut masalah ganti nama, lebih baik fokus ke MAINTANACE/PERAWATAN jEMBATAN AJA, belum apa-apa sudah banyak yang lepas masalah BAUT/MUR di tepi Jembatan, Lampu Peneraangan juga banyak yang Sudah Hilang, maklum sich rakyat Madura susah diajak maju, ke depan damn banyak penduduknya yang masih berpendidikan rendah, ok.

    Salam,

    Turmudzi

  33. seto Kamis, 9 Juli 2009 - 14:49:18

    lebih baik yang sudah ada di syukuri dong , dan dirawat tu h jembatan suramadunya

  34. rahmat santoso Jumat, 10 Juli 2009 - 09:16:19

    Gimana kalau pake nama Jembatan “Juet” ^_^ (buah kecil-hitam kebiru-biruan_ dulu banyak orang medunten jualan di SBY). biar agak gimana…. gitu.

  35. sugar Jumat, 10 Juli 2009 - 10:17:07

    orang madura sebaiknya bersyukur dengan dibangunnya jembatan suramadu, bukannya malah banyak tingkah. di tempat aku saja nyebrang sungai masih pake sampan.

  36. siswanto Jumat, 10 Juli 2009 - 12:43:51

    sebagai warga negara yang sadar akan kemakmuran negerinya , kita sebagai bangsa seharusnya bangga dengan apa yang telah kita hasilkan, bukan berebut ingin menunjukkan golongan ini itu atas apa yang telah dihasilkan , tetapi bagaimana kita bersama menunjukkan rasa kekeluargaan sesama bangsa . jembatan SURAMADU sebagai penghubung telah menyatukan warga Surabaya dan Madura agar bisa lebih mempererat silahturahmi antar bangsa , menjalin kerjasama yang lebih baik , kita semua yang merasa bangsa Indonesia , jembatan bukan milik orang lain , tapi milik bangsa Indonesia

    salam ,
    anak negeri

  37. KIKI Jumat, 10 Juli 2009 - 16:09:42

    Diganti nama SURO MENGGOLO atau SURO GENTOLET saja ,..ha ha ha tak iye cak ?

  38. todus Rabu, 26 Agustus 2009 - 00:25:43

    memangnya pak zaini nyumbang berapa buat bangun jembatan kok seenaknya aja minta ganti nama..

    malu-maluin….

  39. Doni Setiawan Selasa, 29 Desember 2009 - 16:23:49

    Harusnya orang madura itu bersyukur dan berterimakasih sudah dibangun jembatan Suramadu yang bisa meningkatkan perekonomian madura,bukannya malah pengin mengganti nama jembatan.nggak usah ngeyel dan keras kepala.

Kirim Komentar