Malang | Surya-Semalam berada dirawat di ruang ICU RSSA Malang kondisi Abdul Qodir alias Adeng terus membaik. Dari keterangan istri korban, Hj Dian Prayuni, diketahui Adeng bisa berkomunikasi dengan lancar, Minggu (29/3).
Hj Dian Prayuni mengungkapkan, sejak dirawat di RSUD Waluyo Jati Krakasan, Adeng sudah bisa berbicara lancar. Namun guna mendapatkan perawatan yang lebih maksimal, suaminya itu dirujuk ke Malang.
Menurut Dian, suaminya dibawa berangkat dari rumah sakit Krakasan sekitar pukul 21.00 WIB dan sampai di RSSA sekitar pukul 00.30 WIB. Selama dirawat, suaminya sudah bisa makan dan bicara dengan normal.
“Sengaja mas Adeng saya bawa ke Malang agar saya lebih tenang merawat. Banyaknya keluarga saya membuat saya lebih nyaman,” ujar Dian, yang terlihat tenang kepada Surya, Minggu (29/3). Selain banyak sanak-saudara di Malang, Dian juga memiliki rumah di Jl Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Di RSSA, Dian dan sekitar 14 kerabat yang menunggu di ICU mendapat pengawalan ketat dari aparat Polresta Malang. Meskipun demikian, ia masih belum tenang. Setiap orang yang mau membezuk suaminya dan belum dikenal pasti, selalu ditanya detil mengenai identitas.
Dari keterangan dokter, Dian mengatakan kondisi Adeng mulai membaik. “Senin (30/3) kemungkinan Mas Adeng sudah bisa dibawa keluar dari ruang ICU ke kamar rawat inap,” ujarnya.
Apakah suaminya akan dioperasi, Dian mengaku belum tahu. Sebab, menurutnya, dibekas luka tembak itu tidak ditemukan proyektil peluru. Tetapi kepastian apakah Adeng perlu dioperasi atau tidak baru akan diketahui seusai pemantauan malam ini (kemarin, red) di ruang ICU.
Terlepas rasa senang kondisi Adeng yang terus membaik, peristiwa penembakan itu membuat Dian was-was. Sebab sebelum penembakan ini, beberapa waktu lalu suaminya juga pernah nyaris celaka karena dilempar bom bondet.
“Saya tidak mau berburuk sangka terhadap siapapun, semoga yang menyakiti suami saya diampuni Allah, yang menembak suami saya memakai helm teropong. Suami saya ketika bercakap-cakap pun tidak mengenali suaranya,’ ujar Dian.
Dian menganggap penembakan ini sebagai takdir. Sebab selama ini suaminya tidak pernah ke warung kopi tempatnya ditembak.
Peman korban Nur Hasan yang turut menunggui Adeng mengaku bersyukur. Meski terluka mulai parah di bawah mata sebelah kiri hingga tembus belakang, kemenakannya masih sadar. Melihat kondisi Adeng, dia yakin tidak lama lagi kemenakannya itu akan segera sembuh.
“Meski sudah lancar berkomunikasi Adeng mengaku tidak mengenali siapa penembaknya itu,” kata Nur Hasan.st5
Editor : jps