Home » Jatim Raya

Giliran Nurul Tewas di Tempat Ponari

JOMBANG | SURYA-Cukup lama tak muncul kabar tentang Ponari setelah dukun cilik itu buka praktik kembali, 14 Maret lalu. Kini, dua pekan kemudian, terjadi heboh lagi karena salah satu pasien Ponari meninggal dunia saat dibawa keluarganya berobat kepada ‘bocah ajaib’ tersebut.

Pasien itu adalah Nurul Cahyono, 17, anak pasangan suami- istri Sugianto, 40, dan Aminah, 35, warga Desa-Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso. Pemuda lumpuh tersebut tewas di tempat praktik Ponari, Dusun Kedungsari, Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Minggu (28/3) dini hari.

Saat itu, Nurul dan keluarga masih menunggu pengobatan di mobil pribadi mereka. Mereka hendak berobat saat praktik pengobatan dibuka, Minggu pagi.

Meninggalnya Nurul Cahyono melengkapi daftar orang tewas di tempat Ponari sejak buka praktik 17 Januari lalu. Sampai kini ada lima orang yang meninggal, yaitu Nurul Niftadi, 42, warga Megaluh. Jombang; Rumiadi, 58, warga Purwoasri, Kabupaten Kediri; Mukhtasor, 59, warga Kanigoro, Kabupaten Blitar; Marwi, 56, warga Ngronggot, Perak, Jombang; dan Nurul Cahyono.

Marwi adalah penjual kacang yang tewas terinjak-injak massa pasien Ponari. Adapun tiga lainnya meninggal dunia akibat berdesak-desakan menunggu giliran memperoleh pengobatan menggunakan air yang dicelup ‘batu sakti’ milik Ponari.

Mengetahui anaknya meninggal, Aminah tak henti menangis, dan sesekali histeris. Sedangkan ayah korban, Sugianto, termangu dengan mata sembab menahan tangis. Dugaan sementara, penyebab kematian korban adalah kelelahan setelah perjalanan jauh.

“Mereka (orangtua Nurul, Red) masih syok, tidak bisa ditanyai,” ujar Syaiful, paman korban, yang ikut menemani di kamar jenazah RSD Jombang, Minggu (29/3) sekitar pukul 01.30 WIB.

Saiful mengungkapkan, Nurul menderita lumpuh sejak lulus SD, sekitar empat tahun lalu. Nurul, yang sedang persiapan masuk SMP, mendadak sakit panas yang berujung kelumpuhan. Berbagai upaya pengobatan dilakukan namun belum juga membuahkan hasil pada anak tunggal itu. Keluarga ini akhirnya mencoba pengobatan Ponari.

Karena mendengar Ponari membuka praktik pengobatan lagi, suatu hari Sugianto –tanpa membawa Nurul– menyempatkan datang ke tempat praktik dukun cilik itu. Pengusaha tembakau tersebut meminta air yang dicelup ‘batu ajaib Ponari’ untuk pengobatan Nurul.

Setiba di rumah, air dari Ponari diminumkan kepada Nurul, dan sebagian diioleskan ke kaki Nurul Cahyono yang lumpuh. Karena belum menampakkan hasil, Sugianto memutuskan membawa Nurul ke lokasi praktik Ponari agar bisa ditangani langsung si dukun cilik.

Dengan mobil pribadi, keluarga berangkat dari Bondowoso, dan tiba di Dusun Kedungsari, tempat praktik Ponari, Sabtu (28/3) sekitar pukul 19.00 WIB. Karena pengobatan sudah tutup, Nurul menunggu di mobil ditemani dua orangtua dan kerabat lain. Mereka berencana menunggu praktik dibuka, Minggu.

Selama menunggu, menurut Syaiful, Nurul sempat diberi air yang dicelup batu sakti Ponari, pemberian salah satu warga setempat. Air itu diminum sedikit demi sedikit oleh Nurul, sambil sesekali dioleskan ke kedua kakinya.

Semakin Lemas

Tetapi kondisi Nurul bukannya membaik, justru sekitar pukul 23.00 WIB badan Nurul lemas. “Dia akhirnya, meninggal di tempat itu juga,” ujar Syaiful.

Kejadian ini dilaporkan kepada petugas Polsek Megaluh. Selanjutnya, polisi dan keluarga Nurul membawa jenazah korban ke kamar mayat RS Jombang. Setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga, akhirnya jasad Nurul dibawa ke Bondowoso untuk dimakamkan.

Kapolsek Megaluh AKP Sutikno mengungkapkan, dugaan sementara korban meninggal kelelahan. “Jadi bukan karena berdesak-desakan tapi memang karena sudah menderita sakit, kemudian kelelahan akibat menempuh perjalanan jauh,” kata Sutikno, Minggu (29/3).

Dari Bondowoso dilaporkan, jenazah Nurul Cahyono tiba di rumah duka Minggu (29/3) sekitar pukul 05.00 WIB, dan dimakankan sekitar pukul 10.00 WIB di tempat pemakaman desa setempat. Sampai Minggu siang, ayah Nurul masih syok, dan mengurung diri di dalam kamar dengan penjagaan ketat beberapa anggota keluarga yang khawatir akan terjadi sesuatu.

“Sudahlah, Mas, jangan diperpanjang urusan kematian anak saya. Biar dia merasa tenang di alamnya,” ujar Aminah, ibu Nurul Cahyono, kepada Surya di rumahnya, Minggu, (29/03).
Aminah menjelaskan, kematian anaknya sudah merupakan takdir dari Allah SWT. “Saya sudah ikhlas atas kematian itu,” tuturnya. st8/st6

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "