Home » Nasional & Politik

Aktivis LSM Ditembak Pipinya, Getol Soroti Kasus Korupsi

Adeng 2 tahun lalu

Probolinggo | Surya- Seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antikorupsi di Kabupaten Probolinggo, Abdul Qodir, 34, ditembak pria misterius sekitar pukul 21.00, Sabtu (28/3). Peristiwa yang diduga sebagai percobaan pembunuhan itu terjadi di kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.

Dugaan sementara kepolisian, pelakunya profesional. Indikasinya, penembakan terhadap korban dilakukan di depan toko yang cukup ramai, dan hanya berjarak sekitar 40 meter dari rumah korban di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan.

Selain itu, pelaku hanya memerlukan sekali tembakan dalam waktu tak sampai 1 menit untuk melumpuhkan korban di bagian vitalnya, yakni kepala. Adeng, panggilan akrab Abdul Qodir, langsung tersungkur oleh tembakan itu dan dalam keadaan kritis. Namun nyawanya masih bisa diselamatkan. “Yang jelas, pelaku sudah terbiasa memegang senjata api,” ungkap Wakapolres Probolinggo, Komisaris Polisi Mudjito, kepada Surya di sela-sela pengamanan kampanye akbar PKB, Minggu (29/3), di Kraksaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Surya, pelaku mengendarai sepeda motor yang ditengarai Yamaha RX King warna hitam. Dari arah selatan kawasan ponpes Genggong, dua pelaku yang berboncengan itu tiba di toko milik Herman. Pria yang dibonceng lantas turun. Saat itu, Adeng yang ditemani Herman dan seorang warga bernama Samsul, mengira pria misterius yang masih mengenakan helm teropong itu, hendak membeli rokok atau minuman.

Namun, hanya beberapa detik setelah turun dari motor, pelaku melintas di depan Adeng dan mengeluarkan pistol serta menodongkan moncongnya ke arah kepala Adeng. “Hanya ada satu tembakan,” ujar Herman kepada wartawan.

Adeng tidak sempat menghindar. Dia hanya sedikit memalingkan wajahnya sehingga peluru mengenai sekitar pipi, tepatnya di bawah mata sebelah kiri dan tembus di bagian bawah daun telinga. Usai menembak Adeng, pelaku langsung melarikan diri kembali ke arah selatan jalan kawasan ponpes Genggong.

Akibatnya, Adeng tersungkur dan harus dilarikan ke UGD RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Karena kondisinya parah, dia dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Di RSUD Waluyo Jati, Adeng ditemani istri keduanya Hj Dian Prayuni, yang terlihat gelisah mengetahi kondisi suaminya itu.

Dian Prayuni, istri kedua Adeng yang juga mantan istri Bupati Probolinggo, Hasan Aminuddin.

Keluarga korban, di antaranya ayahanda Adeng, Sukarjo, juga tampak histeris. Sukarjo mengatakan, dua hari sebelum kejadian, ada dua orang tak dikenal datang ke rumahnya dengan tujuan mencari Adeng. Padahal, sejak beberapa bulan lalu, Adeng tinggal bersama Dian Prayuni di sebuah perumahan di Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

“Sebenarnya pada Sabtu siang, dia akan kembali ke Pasuruan, tapi mendadak dibatalkan,” tutur Sukarjo kepada wartawan.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Sunardi Riyono, mengungkapkan bahwa penembakan tersebut dilakukan secara terencana. Saat ini, polisi sudah mengamankan barang bukti berupa selongsong peluru yang ditembakkan pelaku ke arah kepala korban. Untuk pengusutan kasus penembakan ini, tim Labfor (Laboratorium Forensik) Polda Jatim dilibatkan dalam olah TKP (tempat kejadian perkara) pada Minggu (29/3) kemarin.

“Kedatangan tim Labfor untuk mencari proyektil,” ujar Sunardi. Namun, pencarian proyektil tidak membuahkan hasil. “Sejauh ini, belum dapat diketahui, jenis peluru dan jenis pistolnya. Nanti yang lebih berhak menjawab adalah tim Labfor untuk soal itu. Tapi kami optimis akan bisa menangkap pelakunya,” kelit Sunardi.

Dikawal Polisi di RS
Sebelum penembakan terhadap Adeng terjadi, pada 15 November 2008, Adeng pernah menerima teror berupa ledakan mercon besar saat akan turun dari mobil di garasi rumahnya di Pasuruan. Kasus tersebut sudah dia laporkan ke polres setempat, namun hingga kini belum tertangkap pelakunya
Saat ini Adeng aktif di LSM Garis Hitam Society Movement (GHSM). Sebelumnya, dia pernah mengetuai LSM Aliansi Peduli Pendidikan dan Lingkungan dan kerap mendukung aksi LSM Lira serta LSM Fosil Maharana di Probolinggo.

Namun, Adeng juga punya catatan hitam. Pada pertengahan 2007, dia ditangkap polisi dan akhirnya divonis 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kraksaan karena menyimpan ganja seberat 1,7 gram.
Sekeluar dari penjara, Adeng masih terus berkegiatan di dunia LSM. Dia gencar menggalang gerakan antikorupsi, tidak hanya di Kabupaten dan Kota Probolinggo tetapi juga di Pasuruan.

Belakangan ini, Adeng turut mendesak pengusutan dugaan kasus korupsi Kas Daerah (Kasda) Pemkab Pasuruan. “Adeng memang masih sering beraktifitas bersama kami untuk mendorong penuntasan sejumlah kasus korupsi,” terang salah satu rekan Adeng di sebuah LSM, yang enggan diungkap namanya, Minggu (29/3).

Sebelum menikahi Dian Prayuni bulan Mei 2008 lalu, Adeng sudah memiliki istri, yang biasa disapa Ana. Dari hasil pernikahannya dengan Ana, mereka dikarunia tiga orang anak. Pasca pernikahan Adeng dengan Dian Prayuni, Ana bersama tiga anaknya masih tinggal bersama mertuanya di Pajarakan. Sedangkan Adeng lebih banyak tinggal di Pasuruan.

Sementara itu, setelah semalam dirawat di ruang ICU RSSA Malang, kondisi Adeng mulai membaik. Dari keterangan Hj Dian Prayuni, diketahui Adeng sudah bisa berkomunikasi dengan lancar dan sempat menuturkan insiden penembakan terhadap dirinya.

Dian mengungkapkan, dirinya memang menghendaki Adeng dirawat di RSSA Malang guna mencari suasana yang lebih tenang. Apalagi, keluarga besar Dian tinggal di Malang.

Mengutip keterangan dokter, Dian mengatakan bahwa suaminya masih akan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah dia akan dioperasi atau tidak. Namun diketahui bahwa proyektil yang menembus pipinya tidak bersarang di kepalanya.

“Meski sudah sadar, suami saya mengaku tidak mengenal siapa penembaknya. Suara penembak yang sempat didengar, juga asing bagi dia,” kata Dian pada Surya di RSAA.

“Saya tidak mau berburuk sangka tentang siapa pelakunya. Semoga yang menyakiti suami saya diampuni oleh Allah,’ ujar Dian, yang mantan suaminya adalah salah satu kepala daerah di Jawa Timur. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama Adeng dirawat di RSSA, Polresta Malang menyiagakan anggotanya di sekitar tempat korban dirawat. Setiap pengunjung yang membesuk korban diwajibkan absen terlebih dahulu. st4/st5

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "