Home » Jawa

Yongki, Bocah yang Diselamatkan Pohon

Semoga Mama Masuk Surga Ya …

Mata bocah berusia sembilan tahun itu masih berkaca-kaca ketika ditanya mengenai ibunya, Sarinah Aca, 35, warga Cirendeu yang menjadi korban tragedi Situ Gintung, Jumat (27/3) dini hari lalu. Tampak bekas air mata yang mengering di wajahnya. Sesaat, Yongki, nama bocah itu, mulai menceritakan detik-detik kejadian yang mungkin tak akan dilupakannya seumur hidup.

Air tanggul Situ Gintung yang jebol sekitar pukul 04.00 WIB dini hari membuat dirinya, almarhumah Sarinah, ayahnya, Aca, 37, dan sepupunya, terbangun. Dalam sekejap, air sudah memenuhi rumah kontrakan mereka di RT 04 RW 08, Cirendeu, Ciputat, Kota Tangerang, Banten.

Panik, Sarinah langsung meraih Yongki, sedangkan Aca meraih keponakannya. Air tanggul yang jebol kemudian memisahkan pasangan asal Indramayu tersebut. Sementara Aca menjebol atap rumah kontrakan yang baru ditinggalinya selama tiga bulan, Sarinah yang mendekap anak semata wayangnya tersebut hanyut terbawa arus.

Naas, setelah beberapa saat terseret arus tanggul, Yongki akhirnya terlepas dari dekapan ibunya. Setelah itu, anak putus sekolah tersebut mengaku tidak mengetahui nasib ibunya tersebut. “Saya sudah minta-minta tolong, tapi enggak ditolongin. Setelah terlepas, saya terputer-puter di kali. Pas ada pohon, saya langsung pegangan dan manjat pohon itu,” ujar Yongki lirih, Sabtu (28/3).

Setelah dua jam bertahan di atas pohon, sekitar pukul 06.00 WIB, Yongki baru mendapat pertolongan dari tim sukarelawan Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan dibawa ke rumah Ketua RT 04. Kemudian, Aca menemukan Yongki sekitar pukul 12.00 WIB. Keduanya datang ke Posko UMJ, dan diinformasikan bahwa Sarinah telah ditemukan tewas dan dibawa ke RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan.

Dengan berlinangan air mata, mereka berdua pun bergegas menuju rumah sakit tersebut. Setibanya di Instalasi Forensik dan Perawatan Jenazah RSUP Fatmawati, Aca, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang gorengan, itu terlihat berusaha untuk tegar menyaksikan istrinya terbujur kaku dengan wajah bengkak-bengkak. Namun akhirnya Aca tak kuasa juga menahan tangisnya.

Beberapa saat, Aca mulai dapat menguasai diri. Sedangkan Yongki dengan suara lirih mengaku memiliki harapan untuk ibunya. “Semoga mama masuk surga, ya,” ujarnya.

Firasat Bagus
Lain lagi kisah nyawa ayah yang terselamatkan oleh firasat ayahnya. Mata Diding, 38, terus berkaca kaca. Tatapannya jauh dan sesekali mengusap kepalanya yang mulai ditumbuhi uban. Usaha tahu Sumedang yang baru didirikannya sebulan lalu hancur dan rata dengan tanah akibat disapu air dari jebolnya Situ Gintung.

“Untung saya masih bisa hidup, seandainya malam itu saya tidur di pondok di bawah, nggak tahu lagi bagaimana,” katanya, Sabtu (28/3).

Menurutnya, sebelum kejadian memang sudah ada firasat. Tetapi firasat itu datang dari Bagus, 5, anaknya. Malam sebelum kejadian dia masih membuka warung tahu Sumedang miliknya hingga pukul 22.30 WIB. Saat itu anak bungsunya yang masih berusia lima tahun itu menangis terus sejak sore. Bahkan Bagus tak mau tidur, kecuali dipeluk ayahnya. Biasanya Diding tidur sekaligus menjaga warung.

“Pas saya tutup warung kan mau tidur di warung saja sekalian jaga, eh ni si bocah tidak mau tidur dan bolak-balik dari rumah kontrakan saya di atas dan turun ke warung,” kata Diding.

Menurutnya, anaknya tersebut memaksa hendak tidur bersamanya. Karena di warung keadaan lebih dingin dan saat itu hujan deras, maka dia pun memutuskan mengikuti keinginan anaknya untuk tidur di rumah kontrakannya yang terletak di atas.

Saat subuh dia pun terbangun dan mendengar kejadian jebolnya Situ Gintung. Dia pun mengucap syukur kepada Allah karena dirinya masih selamat dan bisa berkumpul dengan anak dan keluarganya. kcm/cw6

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "