KEDIRI | SURYA – Bupati Kediri Sutrisno tetap ngotot ingin membangun bandara di wilayahnya. Sebelum jabatannya berakhir pada 2010 mendatang. Bahkan bupati dua periode ini malah sudah menyiapkan pembangunan runway (landasan pacu).
Orang nomor satu di Kabupaten Kediri ini tak peduli dengan kecaman beberapa kalangan atas keinginannya tersebut. Saat dicegat Surya di kantornya Jumat (27/3), Sutrisno bahkan mengklaim sudah mendapat restu dari pusat.
“Bandara harus dibangun untuk menunjang sektor pariwisata kita yang besar,” kata bupati asli Kandat ini. Sutrisno memberikan gambaran wisata Gunung Kelud setiap minggu dipadati ribuan pengunjung. Belum lagi Air Terjun Dolo dan tempat wisata lainnya.
Menurutnya, bandara akan menjadi sarana penunjang utama untuk menarik wisatawan. Dengan jarak tempuh yang semakin singkat akan mendorong wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang ke Kediri. Perjalanan darat selama ini diakui sangat memakan waktu.
Tidak hanya itu, Bandara Kediri akan memberi nilai tambah secara ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat. Seluruh warga Jatim bagian barat, mulai dari Pacitan, Ponorogo, Madiun, Blitar, Tulungagung, dan Nganjuk yang hendak terbang akan berbondong-bondong ke bandara ini.
Sayang, Sutrisno enggan menyebutkan tempat pesisnya dimana lokasi bandara itu akan dibangun. Sebab, kalau disebutkan sekarang, harga tanah di tempat yang dimaksudkan akan melambung. Namun isunya ada dua wilayah yang akan dipertimbangkan dipilih menjadi tempat bandara, yakni di Plosoklaten dan Wates.
Keinginan Sutrisno ini tentu saja mendapat tentangan anggota dewan. Anggota Komisi B (Ekonomi dan Keuangan), Abdul Rachman, siap ‘menghadang’ rencana tersebut. “Lebih baik membangun jembatan Mojo-Ngadiluwih yang terpisah Kali Brantas ketimbang membangun bandara,” kata Rachman, Sabtu (28/3). k2
Editor : Sugeng Wibowo