Jakarta | Surya-Mengalami lesu permintaan sejak akhir 2008 sebagai imbas dari krisis ekonomi, produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) kini bisa sedikit tersenyum. Gebyar pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu), mulai mendongkrak produksi mereka di pasar lokal.
Pengusaha TPT mengaku saat ini memperoleh pesanan terkait Pemilu senilai Rp 1,2 triliun. Bahkan, kemungkinan nilainya akan lebih besar lagi. Pesanan produk TPT yang paling banyak antara lain, bahan untuk spanduk, jaket, kaus dan atribut berbahan baku lainnya.
“Dengan banyaknya caleg dari daerah ikut mendongkrak pesanan kami. Berbeda dengan konsep Pemilu dulu,” kata Ade Sudrajat, Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), kepada Kontan, kemarin.
Perubahan sistem Pemilu yang terbagi dalam dua konsep, yakni Pemilu Legislatif dan Presiden, juga memberikan imbas baik. Sebab, pesanan produk TPT menjadi semakin luas. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi industri TPT di Indonesia.
Seperti negara lain, dampak krisis ekonomi global sangat terasa. Di pasar ekspor misalnya, permintaan dari negara maju seperti AS dan Eropa turun tajam. Di pasar domestik, selain permintaan lesu, para produsen juga mesti bersaing dengan produk impor yang masuk legal dan ilegal seperti dari China.
Selain Pemilu, Ade mengatakan, produsen TPT juga bakal memperoleh tambahan pesanan dengan adanya kebijakan Instruksi Presiden (Inpres) No 2/2009 tentang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Namun, pengusaha belum dapat memperkirakan nilai perolehan terkait kebijakan yang satu ini. “Dua hal ini yang sangat berdampak positif bagi industri TPT,” katanya.
Menurut Direktur Industri Tekstil Direktorat Jenderal Industri Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Aryanto Sagala, sektor industri TPT tahun ini bakal mengalami penurunan produksi maupun penjualan. Tanda-tanda penurunan sudah terlihat sejak kuartal pertama. “Kami belum mempunyai angka-angkanya, tapi yang pasti ada penurunan,” kata Aryanto.
Kain Impor Drop
Sementara itu, sejumlah pedagang kain di Surabaya mengaku, penjualan kain mengalami penurunan hingga 50 persen sejak akhir tahun, terutama untuk kain impor yang drop hingga 70 persen. Penurunan permintaan itu, menurut beberapa pedagang, sebagai imbas kenaikan harga kain seiring kenaikan tarif bea cukai terhadap produk impor.
“Pasca krisis, pemerintah semakin ketat terhadap barang-barang impor. Peningkatan tarif bea cukai itu mungkin salah satu strategi menekan arus produk impor,” jelas Suresh, Store Manager toko kain Altamoda di Plasa Tunjungan, kemarin.
Menurut Suresh, di tokonya yang banyak menjual kain impor, bisa dipastikan permintaan akan terus turun dengan adanya pencanangan gerakan pemakaian kain nasional, sebagai salah satu bentuk proteksi industri dalam negeri.
Hal senada dilontarkan Jimmy Chandra, pemilik Toko Chandra Jaya di Jembatan Merah Plaza (JMP). “Permintaan saat ini sedang sepi, terlebih kain impor yang turun sampai 70 persen. Importir yang memasok kain ke kita juga mengeluh karena dibatasi, selain bea masuk yang semakin tinggi,” ujarnya.
Jika sebelumnya ia menjual 50 meter per hari, sejak awal tahun hanya 10-20 meter saja. Karena itu, Jimmy mengungkapkan, bila kondisi ini berkepanjangan pihaknya berniat beralih menjual produk lokal. “Kita wait and see sampai 2010. Kalau tidak ada perubahan, terpaksa kita jual punya lokal,” imbuhnya.
Terkait harga, kata Jimmy, pihaknya tidak bisa serta merta menaikkan atau menurunkan.
“Sejak daya beli masyarakat turun, margin terpaksa diperkecil dan hanya tersisa 10 persen agar produk tetap laku,” jelas dia, yang memprediksi penjualan kain kembali stabil dan bergairah pada akhir triwulan 2009. ame
Dibaca: 277 kali