SURABAYA | SURYA Online - Dok, anak saya, lelaki kini berumur 3 tahun. Terlahir sehat, normal, lincah, bicara dan perilakunya juga wajar sesuai umurnya. Namun, memasuki usia 2 tahun, ia mulai menunjukkan perilaku yang berbeda. Susah bicara, acuh tak acuh, mendadak lupa mengenali dirinya, hiperaktif, dan merusakkan barang-barang. Dokter yang memeriksa meyakinkan saya bahwa itu adalah perilaku yang wajar pada anak seumurnya. Namun kok perilakunya kian menjadi-jadi saja. Akhirnya dokter yang lain mendiagnosa jika anak saya menderita autis. Apakah penyakit autis itu? Mengapa dari kondisi yang normal mendadak divonis autis?Bagaimana perawatannya dan apakah bisa disembuhkan dok?
PENYEBAB autis sampai sekarang belum diketahui secara pasti, namun sejumlah pakar meyakini jika autis dipicu oleh beragam faktor. Mulai dari faktor genetik/keturunan, gangguan metabolisme, nutrisi, obat-obatan, virus, jamur, lingkungan/polusi, hingga vaksinasi yang masih menjadi kontroversi.
Faktor genetik misalnya, autis bisa diturunkan dan dibawa si bayi sejak dari kandungan. Termasuk jika itu bayi dari satu sel telur, peluangnya bisa 90 persen mengidap autis. Atau, jika di dalam keluarga ada riwayat autis, peluang si anak mengidap autis mencapai lima persen. Kelainan genetik yang dibawa bayi sejak ia dilahirkan ini dibawa oleh kromosom ke-15.
Penyebab lain disumbang oleh gangguan metabolisme dengan beragam faktor. Salah satunya metaloionine. Yaitu, zat yang berfungsi mendeteksi racun dari logam-logam berat yang ada di dalam tubuh. Atau penyebab lainnya, tubuh kekurangan zinc, kekurangan protein, tubuh terpapar logam berat secara berlebihan.
Bahkan obat-obatan yang disuntikkan ke ibu hamil yang berfungsi untuk mengurangi pendarahan dan membuat rahim kuat, diduga juga menyumbang ‘bakat’ autis pada bayi. Infeksi yang disebabkan oleh virus (rubella) dan jamur (candida) pun juga ditengarai memberi dampak serupa.
Kondisi alergi ibu pada makanan/minuman tertentu juga memberi andil yang sama pada janin yang dikandungnya. Faktor lingkungan yang terpapar polusi (udara, air, makanan, minuman, obat-obatan) pun menambah parah kondisi si bayi.
Autis sendiri dikenali ada dua macam. Yakni: autisme yang didapat sejak bayi ada di dalam kandungan dan autis regresif yang biasanya bayi terlahir normal namun dalam perkembangannya baru menunjukkan positif autis.
Untuk perawatan anak penderita autis tentunya tergantung pada berat ringannya kasus yang diidapnya. Juga seluruh lingkungan dan semua pihak harus mendukung perawatannya. Bukan hanya orangtua, lingkungan sekolah, kerja, lingkungan sosial, dokter, harus seiring sejalan mengupayakan perawatannya yang terukur.
Autis (dalam bahasa Yunani artinya sendiri) ditemukan oleh psikiater Leo Corner di tahun 1943 mengindikasikan bahwa perilaku sosial penderita autis yang paling susah dikendalikan. Itu sebabnya, penanganan dan perawatannya tidak bisa dibebankan hanya pada orangtua semata.
Tidak kalah pentingnya adalah memiliki rekaman ‘perjalanan’ si anak mulai dari usia 0 tahun hingga 18 bulan dan hingga usia 24 bulan. Rekaman ini akan sangat membantu menangani jika anak ‘mendadak’ divonis autis. Dr Agus Harianto SpA(K)
Dibaca: 304 kali