TERUS tergerusnya mata uang rupiah terhadap dolar berakibat buruk pada Badan Usaha Milik Negara. Perusahaan-perusahaan pelat merah itu mengalami kerugian hingga Rp 12 triliun dalam beberapa bulan terakhir.
Sekretaris Menteri Negara BUMN Said Didu mengatakan, akibat kerugian tersebut, pihaknya terpaksa merevisi target laba bersih perusahaan BUMN 2008 dari sebelumnya Rp 87 triliun menjadi Rp 75 triliun dalam Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah (RKAP).
“Saat dibuka 1 Januari 2008, kurs Rp 9.300 per dolar AS dan ketika ditutup (akhir Desember), Rp 11.900 per dolar AS. Selisih itu yang dipakai dalam akutansi lalu dikalikan terhadap beban utang. Kalau tidak ada utang, ya, tidak ada masalah,” kata Didu di Jakarta, Jumat (27/2).
Pergerakan kurs itu mengakibatkan target laba bersih BUMN pada 2009 bisa lebih kecil dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. “Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat mempengaruhi kinerja keuangan BUMN,” paparnya.
Beberapa BUMN yang mengalami kerugian besar akibat selisih kurs ini diantaranya PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) sekitar Rp 2 triliun dan PT Pupuk Kujang Rp 1 triliun.
Sebelumnya Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil telah memanggil sejumlah petinggi BUMN ke kantornya. Pemanggilan itu diduga terkait dengan masalah nilai tukar dan penggunaan valas yang merugikan perseroan. Sebab, selama ini, banyak BUMN melakukan pembelian luar negeri atau international shoping serta pinjaman luar negeri.
Penggunaan valas di BUMN ini mendapat perhatian serius Bank Indonesia dan pemerintah karena penggunaannya terbilang besar dan sering memengaruhi pergerakan rupiah saat mereka memborong rolar di pasar untuk melakukan pembelian atau membayar utang jatuh tempo.
Tidak heran bila Menkeu Sri Mulyani dua hari lalu mewajibkan BUMN menggunakan produk lokal untuk bahan baku dan peralatan BUMN. (persda network/aco)
Editor : jps