JAKARTA | SURYA - PT Angkasa Pura II, pengelola Bandara Soekarno-Hatta, mengakui lalai menyiapkan buku panduan penanggulangan keadaan darurat. Mereka juga mengaku salah karena tidak menyiapkan sejumlah area penanggulangan, yang permanen dan memadai.
Meski demikian, badan usaha milik negara ini yakin mampu menanggulangi kecelakaan pesawat terbang sesuai standar pelayanan internasional. Airlines Operator Committee (AOC) meragukan kemampuan ini.
AOC juga menilai pintu keluar-masuk penerbangan internasional sangat rawan terorisme dan penyelundupan barang berbahaya.
Sehari sebelumnya, AOC menyatakan Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak siap menanggulangi keadaan darurat karena minim fasilitas. Buku panduan pun kedaluwarsa. Padahal, membaca buku ini menjadi langkah pertama menanggulangi keadaan darurat.
Sekretaris Jenderal AOC Jeanete M Gerung menyatakan prihatin melihat ruang penampungan dan perawatan sementara yang hanya dilengkapi 16 tempat tidur, tanpa AC.
Perubahan peruntukan
Menanggapi keluhan itu, Kepala Humas PT Angkasa Pura II Trisno Heryadi, Jumat (27/2), mengakui pihaknya lalai. ”Soal buku panduan kami lalai. Kami mengakui adanya sejumlah area penanggulangan yang dianggap kurang memadai dan ketinggalan,” ujarnya.
Tentang fasilitas ruang kerabat dan tamu korban yang dikeluhkan telah disulap menjadi gerai-gerai komersial, menurut Trisno, mungkin itu karena buku panduan kedaluwarsa sehingga terjadi perubahan peruntukan.
Namun, Trisno yakin, meskipun ada kendala terbatasnya ruang penanggulangan keadaan darurat, pengelola bandara masih mampu menanggulangi kecelakaan pesawat terbang dalam ukuran paling besar sekalipun.
Mengenai kekurangan itu, Kepala Polres Metro Bandara Komisaris Besar Guntur Setyanto kemarin mengatakan, fasilitas penanggulangan keadaan darurat di bandara sudah tidak layak lagi. ”Bahkan sudah 29 kali saya mengingatkan hal ini,” katanya.
Namun, Ketua AOC Arif Harsono meragukan pernyataan Trisno. Arif menjelaskan, menurut standar internasional, penanggulangan kondisi darurat dilakukan dalam tiga lapis atau tiga lingkaran.
Lapis pertama menyangkut pemadaman api dan pemotongan atau pemisahan bagian pesawat yang menjepit korban. Lapis kedua menyangkut evakuasi dan penyelamatan penumpang. Lapis ketiga menyangkut pelayanan keluarga korban.
”Saya memperkirakan pengelola di sini baru mampu melakukan penanggulangan di lapis pertama saja. Padahal, yang paling penting adalah penanganan lapis kedua yang menyangkut nasib penumpang,” tutur Arif.
Menurut Arif, persoalan utamanya bukan pada fasilitas atau ruang, tetapi pada sistem, adanya kepastian, dan kemampuan sumber daya manusianya.
Terorisme
Keraguan Arif bukan tanpa alasan. Menurut dia, sebagian besar maskapai negara-negara di Eropa memilih tidak memanfaatkan Bandara Soekarno-Hatta karena alasan keamanan.
”Bukan hanya soal penanggulangan keadaan darurat, tetapi juga soal kemungkinan serangan teroris,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, awal Februari lalu petugas Bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menangkap seorang penumpang pesawat terbang yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Saat memeriksa tas si penumpang, petugas menemukan enam peluru kaliber 77.
”Bagaimana jadinya jika si penumpang mengeluarkan senjata rakitan di tengah penerbangan dan membajak pesawat?” ujar Arif.
Patrick Hennessey dari Subkomite Keamanan dan Keselamatan AOC mengatakan, barang-barang berbahaya dengan mudah keluar-masuk Bandara Soekarno-Hatta. WIN/Kompas
Editor : jps