Home » Bisnis

Target Beras Tak Tercapai, Optimistis Pengadaan Tak Terimbas Banjir

Jakarta | Surya-Bulog memastikan tidak bisa mencapai target pengadaan beras awal tahun. Meski demikian, pengadaan beras pada awal tahun ini secara keseluruhan masih lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Direktur Utama Bulog Mustafa Abubakar mengatakan, sampai dengan 26 Februari 2009, total pengadaan beras Bulog mencapai 147.900 ton, padahal target hingga akhir Februari 352.000 ton, dengan jumlah total kontrak yang ada saat ini 201.000 ton
“Tercapai 50 persen saja tidak apa-apa, nominalnya sudah menggembirakan. Nanti kekurangan itu dirapel bulan Maret, April, Mei,” ujar Mustafa, di Jakarta, Kamis (26/2).

Menurutnya, target yang cukup tinggi itu telah dipertimbangkan Bulog, berdasarkan pandangan Ditjen Tanaman Pangan Deptan yang memprediksi panen beras lebih cepat dari tahun sebelumnya.

“Meski ada banjir maupun hujan lebat, hal itu tidak mengganggu pengadaan beras dalam negeri sebesar 3,8 juta ton pada tahun ini,” kata Mustafa, ketika menyampaikan hasil pertemuan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) di Roma, 18 Februari 2009.

Menyinggung target pengadaan beras dalam negeri 2009, Mustafa optimistis hal itu akan tercapai karena hingga Mei 2009 masih akan terjadi panen raya dengan puncaknya pada April. “Pada Juli hingga Agustus juga masih akan terjadi panen, meskipun jumlahnya sudah menurun,” katanya.
Potensi Anjlok

Di sisi lain, Perum Bulog mewaspadai potensi anjloknya harga beras internasional di kwartal ketiga tahun ini. Padahal, saat itu Indonesia berencana melakukan ekspor beras jenis medium.
Potensi turunnya harga beras internasional bisa dipicu adanya kelebihan stok atau fluktuasi harga beras di beberapa negara produsen beras di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Vietnam, yang akan berdampak pada harga beras Indonesia lebih mahal dari harga internasional.
“Kita khawatir kalau terjadi surplus di kwartal ke tiga atau akhir di 2009, kalau betul-betul surplus harga Indonesia lebih mahal dari Vietnam dan Thailand, kita khawatir tidak bisa jual keluar,” kata Mustafa.

Ia menjelaskan, saat ini harga beras sulit diprediksi, karena harga beras internasional sangat fluktuatif. Bahkan, ia juga tidak bisa memastikan berapa harga beras medium yang akan dijual Indonesia pada saat ekspor nanti. Meski sudah ada informasi yang menyebutkan bahwa harga beras medium ekspor Indonesia berada di kisaran 400-500 dolar AS per ton.

Untuk itu, Mustafa mengharapkan wacana ekspor beras medium jangan terlebih dahulu menjadi fokus. Tetapi saat ini Bulog memilih fokus pada ekspor beras super yang dampaknya tidak akan menggangu ketahanan, meski dilakukan ekspor awal tahun dengan jumlah total 100.000 ton.

Pada kesempatan itu, ia mengungkapkan bahwa dalam forum IFAD, kinerja Bulog mendapat apresiasi karena berhasil mengamankan stok dan harga beras di dalam negeri hingga akhirnya Indonesia bisa swasembada beras. “Bahkan, perwakilan sejumlah negara berencana belajar dari pengalaman Bulog dalam penanganan beras. Indonesia diminta berbagi pengalaman menjaga stabilitas pangan,” tuturnya.

Sementara itu, pakar bidang pangan Husein Sawit mengatakan, masalah stabilitas harga menjadi isu penting bagi banyak negara di dunia. Hal ini karena potensi instabilitas harga komoditas ke depannya diperkirakan masih akan terjadi. ant/dtf

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "