Home » Surabaya Metro

Tabrak Lari Kapal, Dua ABK Hilang, Insiden Dipicu Tebalnya Kabut

GRESIK | SURYA-Kapal Layar Motor (KLM) Jaya Mulia I tenggelam di perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), sekitar tiga mil dari Pelabuhan Gresik, Rabu (25/2) malam. Kapal barang ini diduga tenggelam setelah bertabrakan dengan Kapal Motor (KM) Savira Nusantara rute Surabaya-Balikpapan.

Dua awak kapal Jaya Mulia I, Kamarudin, 35, (nakhoda); dan Vanalar, 60 (juru mudi), dinyatakan hilang dan hingga Kamis (26/2) malam belum ditemukan. Sedangkan delapan ABK lainnya selamat setelah terapung di perairan selama dua jam. Para ABK itu kini dimintai keterangan petugas Satpol Air dan Administratur Pelabuhan (Adpel) Gresik.

KLM Jaya Mulia I semula berangkat ke Kotabaru, Kalimantan mengangkut 400 ton pupuk. Kapal berangkat dari Pelabuhan Gresik, Rabu (25/2) pukul 04.00 WIB. Namun setelah berlayar hingga lima mil sebelum perairan Pulau Karang Jamuang, nakhoda kapal, Kamarudin, memutuskan kembali ke Pelabuhan Gresik karena cuaca buruk.

Di tengah perjalanan pulang itulah, tabrakan terjadi sekitar pukul 19. 25 WIB. Saat itu, kapal tengah menyusuri perairan APBS, sekitar tiga mil dari Pelabuhan Gresik. “Saat itu cuaca buruk dan kabut sangat tebal sehingga jarak pandang terbatas,“ kata Faishol, 37, Kepala Kamar Mesin (KKM), salah satu ABK yang selamat, Kamis (26/2).

Karena kabut tebal itulah, para awak KLM Jaya Mulia I tidak mengetahui ada kapal lain yang melaju dari arah berlawanan. Para awak kapal pun kaget, tahu-tahu mendengar deru mesin kapal melaju mendekati kapal yang mereka tumpangi. “Samar-samar kami melihat kapal lain menuju ke arah kapal Jaya Mulia. Kami sudah berusaha mundur, namun kapal tetap bertabrakan,“ kata Firman, juru mudi, ABK lainnya yang selamat.

Sontak, anjungan sisi kanan KLM Jaya Mulia I bertabrakan dengan anjungan sisi kiri kapal tersebut. Tabrakan dua kapal itu menyebabkan benturan hebat. Vanalar, yang kebetulan bertugas memegang kemudi, jari tangan kirinya putus akibat terjepit kemudi. Pelipis kanan Vanalar juga robek akibat terbentur panel kapal.

Air laut langsung masuk ke dalam kapal berbobot mati 125 gross ton (GT) itu. Tak lebih dari 15 menit, kapal buatan tahun 2001 itu pun tenggelam setelah buritan kapal perlahan ambles ke dalam perairan sedalam sekitar 15 meter.

Saat kapal mulai tenggelam itu, semua awak panik dan berlompatan ke laut. Ada yang sempat menyambar jaket pelampung. Namun di antara ABK ada yang hanya memegangi balok kayu tangga kapal untuk pegangan.

Para awak kapal yang selamat mengaku tak ingat apakah dua rekan mereka, nakhoda Kamarudin dan juru mudi Vanalar, ikut meloncat sebelum kapal tenggelam. Mereka sempat melihat keduanya memegangi tangga kapal yang terbuat dari kayu. “Saya bertemu terakhir Pak Kamarudin sedang memegangi tangga kapal,“ kata Firman lirih.

Kasatpol Air Gresik Iptu Bintara mengatakan, awak kapal yang selamat ditolong kapal Tugboat Bingo Sejati yang melintas di kawasan perairan itu. Setelah menyelamatkan para awak kapal tersebut, tugboat Bingo Sejati menghubungi Adpel Gresik dan Satpol Air Gresik. “Untuk sementara, para awak yang selamat ada di kantor Satpol Air dan sebagian di Adpel Gresik,“ ujar Iptu Bintara, Kamis (26/2).

Setelah menerima informasi jika ada dua awak kapal yang masih hilang, Satpol Air berusaha menyisir perairan tersebut. Tiga kapal patroli (KP) Satpol Air Gresik dikerahkan dengan personil tim SAR Pol Air Gresik sebanyak delapan orang. Kapal tersebut, KP 018, KP 102, dan KP 008.

Namun penyisiran yang dilakukan sejak kejadian hingga Kamis (26/2) malam, dua awak kapal barang itu belum ditemukan. “Kami belum bisa memastikan, korban selamat atau tidak. Selain bisa saja diselamatkan kapal lainnya, bisa jadi korban masih terjebak di dalam kapal yang tenggelam,“ duga Iptu Bintara.

Kendati belum menyebut pasti identitas kapal yang diduga melarikan diri setelah menabrak, namun Satpol Air Gresik menduga kapal tersebut adalah KM Savira Nusantara, kapal penumpang dan barang yang hendak berlayar ke Samarinda.

Dugaan itu setelah ada informasi pihak Pelabuhan Tanjung Perak, jika kapal yang dimaksud berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, pada Rabu (25/2) pukul 18.25 WIB.
Dugaan jika KM Savira Nusantara yang bertabrakan dengan KLM Jaya Mulia I, diperkuat dengan kesaksian sejumlah ABK KLM Jaya Mulia I yang selamat. Mereka menyatakan melihat ciri kapal tersebut, termasuk adanya logo tulisan KM Savira Nusantara. “Untuk memastikannya, kami masih berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk meminta Pol Air Samarinda untuk mengecek fisik kapal kedatangan dari Surabaya. Apakah ada bekas tabrakan atau tidak, “ ungkap Iptu Bintara.

Apakah insiden itu bisa dikategorikan tabrak lari ? Iptu Bintara tak menampiknya. Sebab, semestinya, berdasarkan aturan di laut, setiap kapal yang melintas dan mengetahui ada awak kapal lain yang terkatung-katung di lautan, berkewajiban memberikan pertolongan. Apalagi jika ternyata kapal itulah yang bertabrakan dengan KLM Jaya Mulia I. Semestinya, kapal tersebut berhenti dahulu untuk memberikan pertolongan pada awak kapal yang tenggelam. “Guna memastikannya, kami masih menunggu hasil penyelidikan yang masih berjalan,“ tambah Iptu Bintara.

Bangkai kapal yang tenggelam, berada di kawasan perairan Pelabuhan PT Maspion Manyar, sekitar enam mil dari Pelabuhan Gresik, pada Kamis (26/2) siang. Kapal itu terseret arus sepanjang tiga mil dari lokasi tabrakan. Bangkai kapal tampak dari tiang layar kapal setinggi dua meter di permukaan air.

Humas Adpel Gresik Pudiasto Nugroho menyatakan masih meminta keterangan delapan awak KLM Jaya Mulia I yang selamat. Adpel Gresik hanya berwenang memeriksa keterangan para ABK dan mengirim hasil keterangan itu ke Mahkamah Pelayaran di Jakarta. “Siapakah pihak yang harus bertanggung jawab, akan diputuskan dalam sidang di Mahkamah Pelayaran,” tegas Tedy, panggilan Pudiasto Nugroho.

Dirut PT Jaya Mulia Yusuf, Umar Hasan Aidit, pemilik KLM Jaya Mulia I mengatakan, masih berkoordinasi dengan pihak terkait guna mencari awak kapal yang belum ditemukan.

Akibat kejadian itu, Yusuf menaksir kerugian hampir Rp 1, 2 miliar. Jumlah itu terinci dari kerugian akibat kapal tenggelam senilai Rp 800 juta dan sisanya taksiran kerugian karena muatan pupuk sebanyak 400 ton yang ikut tenggelam. st3

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "