Bogor | SURYA - Umat Islam di Indonesia perlu diingatkan agar menjadikan hari Jumat sebagai “hari idola”, sehingga tidak menyia-nyiakan kesempatan, khususnya bagi kaum muslimin untuk melaksanakan salat Jumat.
“Dengan menjadikan hari Jumat menjadi ‘hari idola’, maka kaum muslimin sekaligus bisa menjadikannya sebagai refleksi diri, apakah amalan selama sepekan itu lebih baik, sama seperti sebelumnya atau justru menurun,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, K.H. Adam Ibrahim di Bogor, Jumat.
Saat menjadi khatib pada khutbah Jumat di Masjid Jami Nurul Falah, Kota Bogor, ia mengemukakan untuk mengukur parameter sejauh mana fluktuasi keimanan seseorang, Islam telah memberikan tuntunan yang berasal dari Rasulullah Muhammad saw bahwa manusia hendaknya menjadi orang yang beruntung.
Ia merujuk pada tuntunan bahwa amalan seseorang itu baik bila pada hari atau pekan ini lebih baik dari sebelumnya, merugi bila sama
seperti hari atau pekan sebelumnya dan celaka bila hari atau pekan ini justru lebih buruk dari sebelumnya.
“Demikian pula dengan hari Jumat, bagi kaum muslimin bisa dijadikan alat ukur pribadi sejauh mana diri kita menjadi orang yang beruntung,” katanya.
Disampaikannya bahwa mesti diakui krisis multi-dimensi yang masih terjadi di Indonesia, dalam kacamata Islam adalah kian ditinggalkannya ajaran Islam, yang risalahnya berupa firman Allah swt telah didakwahkan Rasulullah Muhammad saw oleh umat manusia.
“Jangan orang lain, umat Islam sendiri banyak yang meninggalkan ajaran-Nya, sehingga ini menjadi otokritik semua pihak, termasuk kaum ulama untuk terus-menerus mengingatkan kepada umat Islam, agar kembali menjalankan ajaran Islam,” katanya.
Adam Ibrahim juga menyampaikan keheranannya, seolah-olah bila ada umat Islam menjalankan teladan Rasulullah Muhammad saw justru dipandang nista, namun bila budaya asing, khususnya dari barat justru menjadi ukuran kehebatan.
Padahal, kata dia, justru teladan dari perilaku yang diajarkan Rasulullah itu adalah rujukan dan tuntutan yang mesti dilaksanakan oleh umat Islam.
Fenomena menyekutukan Allah swt, seperti kejadian mengenai anggapan bahwa benda mati seperti batu, yang dipercayai bisa menyembuhkan penyakit seseorang juga diulasnya sebagai sebuah kondisi di mana ajaran Islam mengalami ujian mengenai masalah akhlak umat Islam.
Karena itulah, kata dia, Rasulullah Muhammad saw dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Imam Malik (HR Malik) menegaskan bahwa “Sesungguhnya Aku (Muhammad saw) diutus (oleh Allah swt) untuk menyempurnakan keluhuran akhlak manusia,”.
Dalam khutbah penutupnya, Adam Ibrahim menekankan perlunya seluruh komponen umat Islam, pada bulan “Rabiul Awal” –di mana umat Islam memperingati Maulid Nabi–kembali mempelajari sejarah dakwah Rasulullah Muhammad saw guna mengetahui kehebatan dakwah rasul, yang
kemudian menjadi ajaran yang dirujuk umat Islam.
“Tujuan perlunya kembali membaca dan mempelajari kehebatan perjuangan Rasulullah itu tidak lain agar umat Islam agar bisa menjadikan ajaran-ajaran Muhammad saw sebagai tuntunan, sebagai petunjuk bagi keselamatan umat Islam,” katanya. /ant
Editor : jps