Home » Nasional & Politik

Melihat Sisi Lain Sekolah Pinggiran di Kota Malang, Ke Sekolah Pakai Sandal Jepit dan Celana Jeans Lusuh


MALANG | SURYA-
Gembar-gembor Kota Malang menjadi kota pendidikan bertaraf internasional, ternyata masih jauh panggang dari api. Wajah bopeng pendidikan masih menyelimuti kota ini. Banyak lembaga pendidikan dasar, terutama madrasah ibtida’iyah (MI), di pinggiran kota kondisinya sangat memprihatinkan.

Lumpur yang membungkus sandal jepit milik Aris dan Edim, siang kemarin baru saja kering. Retakannya berserakan di lantai, hingga membuat seisi ruangan kelas VI tampak kotor. Memang tidak nyaman.
Tapi di sinilah para siswa itu belajar, menyerap ilmu dari para gurunya. “Kami tidak punya sepatu, Pak.

Orangtua saya belum punya uang untuk membeli,” ujar Robi memelas dalam logat Madura yang kental.
Aris, Edim dan Robi terpaksa pergi ke sekolah dengan sandal jepit. Satu-satunya sepatu milik mereka rusak. Ketiga anak ini sebenarnya sudah lama mendambakan punya sepatu baru untuk sekolah.

Namun apa daya, kondisi ekonomi orangtuanya membuat mereka harus menyimpan dalam-dalam keinginan itu.
Pemandangan memprihatinkan ini mudah ditemui di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Jabal Nur di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Meski masuk wilayah kota, lokasi sekolah ini tergolong terpencil.

Untuk mencapai sekolah yang berada di puncak Gunung Buring ini, harus memutar lewat Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Seperti film Laskar Pelangi, para siswa dan guru yang akan ke sekolah harus melewati jalan tanah sepanjang 500 meter yang becek.

Tapi bukan itu saja. Kondisi memprihatinkan juga terlihat dari seragam yang mereka kenakan. Banyak di antara mereka yang memakai seragam aneka warna, dan jeans lusuh seadanya. “Mereka yang tak bersepatu dan berseragam warna-warni itu karena terbentur ekonomi. Hampir separo warga Dusun Baran Tlogowaru ini bekerja sebagai buruh tani dan buruh pabrik,” ungkap Usman, salah seorang guru di MI Jabal Nur.

Kondisi memprihatinkan ini masih diperparah dengan ruang kelas yang tak memadai. Kurangnya ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) membuat satu ruang disekat dengan triplek menjadi dua ruang. Ini terjadi pada siswa kelas I dan kelas II yang berjumlah 19 orang. Mereka dicampur dan diajar satu guru.

Melihat ruangan ini, memang menyesakkan. Sejumlah perlengkapan kelas seperti papan tulis sudah terkelupas. Kursi guru pun jebol tak bisa dimanfaatkan. Namun demikian, semangat para guru dan siswa MI Jabal Nur luar biasa.

Pendiri MI Jabal Nur yang juga Ketua Yayasan, Basiri, mengungkapkan sejak berdiri 11 April 1979 lalu hingga 2009 ini, sekolah yang dirintisnya baru sekali mendapat bantuan renovasi gedung. “Untuk membangun sekolah ini, pengurus dan orangtua yang mampu bergotong royong. Mereka yang punya batu bata menyumbang batu bata, yang punya pohon menyumbang kayu, dan lainnya,” jelas Basiri.

Kakek bercucu tiga ini punya obsesi memajukan lembaga pendidikan yang dirintis mulai Raudlatul Atfhal (RA), Madrasah Diniyah/Ibtida’iyah, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Hanya saja, sampai sekarang belum ada seorangpun pejabat dari pemkot yang menengok sekolah ini, kecuali Kakandepag Kota Malang, Chomzin.

“Jangankan membangun, untuk menggaji guru dan operasional sekolah saja kami pusing. Siswa yang sekolah di sini gratis, sehingga untuk operasional sekolah kami hanya mengandalkan dana bantuan operasional sekolah (BOS),” ungkap Basiri. /EKO NURCAHYO

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "