Home » Berita Terkini

Kasus BKS Jiplakan, Pengakuan Tim Pengarah Beda

Jember | Surya-Indikasi Buku Kerja Siswa (BKS) Jember intelektual dan bermutu (Jitu) hasil jiplakan buku milik penerbit lain semakin menguat. Apalagi pengakuan anggota tim pengarah ternyata tidak sama.

Pembuatan BKS Jitu dilatar belakangi keinginan Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Jember, Ahmad Sudiyono yang menginginkan adanya buku murah yang bernuansa Jember tetapi bermutu. Itu terlontar saat hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) SD tahun 2008 jeblok dan berada di urutan 38 di Jatim.

Keinginan itu ditindaklanjuti oleh Gunayat Suryono, salah satu pengarah dari BKS Jitu yang juga Koordinator Unit Pelaksana Teknis (UPTD) Pendidikan Kabupaten Jember. “Beliau ingin memanfaatkan orang-orang pinter untuk membuat buku murah, namun bermutu. Dari sinyal itulah saya mengumpulkan teman-teman dan terbentuk tim itu,” ujar Gunayat, Rabu (25/2).

Keinginan itu disetujui Ahmad Sudiyono, Gunayat kemudian menggandeng Rahmadi, rekanan yang menjadi investor proyek BKS Jitu. Dalam proyek itu, Rahmadi bertindak tim manajernya, namun nama dan alamat penerbit tidak tertulis. “Penulisnya juga dari guru-guru yang ahli di bidangnya,” ujarnya.

Gunayat mengaku tidak tahu jika isi beberapa BKS Jitu ditengarai menjiplak dari buku terbitan penerbit lain. Dari penelusuran Surya ada dua mata pelajaran BKS Jitu yang diduga menjiplak. Sedangkan jumlah dari BKS Jitu sebanyak delapan mata pelajaran. “Saya juga marah ketika mendengar ada jiplakan. Kami bekerja profesional,” terangnya.

Sedangkan dua anggota tim pengarah yang lain, Jumari dan M Yasin, malah mengaku tidak tahu menahu pembuatan buku tersebut. “Selama pembuatan buku saya tidak tahu menahu, tiba-tiba sudah jadi, nama saya ada di urutan paling atas sebagai tim pengarah,” ujar Jumari yang juga Kepala Bidang Pendidikan TK/SD Dispendik Jember itu.

Terkait dugaan jiplakan, Gunayat akan mengonfirmasi kepada tim yang terdiri pengarah, konsultan, koordinator, penulis serta manajer. “Saya tidak bisa menjelaskan banyak karena belum ketemu tim,” ujarnya.
Gunayat membantah BKS Jitu wajib dibeli seluruh SD negeri di Jember. Pihaknya memberikan keringanan membayar dengan cara mencicil empat kali. Malahan saat ini belum ada sekolah yang membayar BKS Jitu.

Namun penelusuran Surya, sekolah mengaku membeli buku itu karena tidak ingin menanggung risiko. “Kami beli saja, sepertinya wajib. Jika tidak membeli, bantuan dana dari pusat seperti BOS nanti ruwet,” ungkap Kasek SD Negeri yang enggan disebut namanya.

Ia mengaku telah membayar Rp 8,6 juta untuk enam pak BKS Jitu dengan delapan mata pelajaran. “Kalau beli semua uang tidak cukup karena kita pakai dana BOS. Saya sudah bayar lunas Rp 8,6 juta,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Ahmad Sudiyono ketika dikonfirmasi melalui telepon berjanji segera menggelar konferensi pers dengan wartawan terkait kasus BKS Jitu yang diduga menjiplak. “Sekarang saya masih di Jakarta,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Komisi D DPRD Jember Miftahul Ulum menyayangkan terbitnya BKS Jitu yang ditengarai hasil jiplakan. “Seharusnya Dinas Pendidikan itu menjadi contoh yang baik,” tandasnya.
Seperti diberitakan Surya, proyek BKS Jitu Dispendik Jember diduga hasil jiplakan buku sejenis terbitan penerbit. Sejumlah guru yang namanya tertera sebagai penulis di BKS mengaku tidak merasa telah menulis buku, tapi hanya diminta mengedit naskah. st9

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "