Blitar | Surya-Selama sekitar 8 tahun terakhir, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Blitar mencatat setidaknya ada 6 aliran kepercayaan atau sekte menyimpang yang bermunculan di Blitar.
Meskipun sekte-sekte itu telah dinyatakan sesat oleh MUI setempat dan diperintahkan bubar, namun diduga sejumlah pengikutnya masih aktif berkegiatan.
“Meski telah dibubarkan, kami terus memantau sekte-sekte itu,” kata Sekretaris MUI Kabupaten Blitar, Ahmad Su’udi, kepada wartawan, Jumat (13/2).
Menurut Su`udi, sebuah aliran dinyatakan menyimpang atau sesat jika ajaran-ajaran atau tata cara ibadahnya (ritualnya) menyempal dari ajaran dan ritual lazim yang sudah digariskan oleh agama -terutama agama-agama resmi yang diakui pemerintah.
“Keputusan membubarkan dilakukan setelah MUI mengkaji secara mendalam, dengan dasar ajaran agama,” kata Su’udi.
Dijelaskannya, ajaran-ajaran sesat itu mulai terdeteksi MUI Kabupaten Blitar sekitar pertengahan tahun 2001 silam. Di antaranya Aliran Purbokayun di Desa Bendosewu Kecamatan Talun dengan ritual dzikir perdukunan;
Aliran Podo Bongso di Desa Pagerwojo Kecamatan Kesamben, dengan ritual salat boleh menghadap ke mana saja; kemudian Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah di Desa/Kecamatan Kademangan yang menabikan Ahmad Muzadek (pemimpinnya); satu aliran tanpa nama di Desa/Kecamatan Wonotirto dengan ritual salat menghadap ke timur dan hubungan seks bebas sesama pengikut; serta aliran tanpa nama di Desa Bangsari Kecamatan Nglegok, dengan ritual boleh salat sambil melakukan kegiatan lain (seperti salat Jumat sendirian di sela kesibukan kerja atau mencangkul di sawah).
“Yang keenam adalah Aliran Safaatus Sholawat di Desa Ngembul Kecamatan Binangun, dengan ajaran menyembah Jibril atau roh kudus. Semua ajaran menyimpang ini sudah kami tertibkan,” jelasnya.
Sedangkan yang terakhir akan didekati MUI adalah aliran Tiket Masuk Surga (TMS) yang diketahui muncul di Desa Jajar Kecamatan Talun, sejak awal Januari 2009 lalu. Pihak MUI akan segera mendatangi Suliani warga RT2/RW1 Desa Jajar yang menjadi pemimpin aliran TMS, untuk meminta penjelasan.
“Kita rencanakan pada Selasa (17/2) depan kita akan membahas aliran ini dalam rapat MUI. Nanti akan ditentukan kapan kita akan datang ke sana bersama dengan pengurus, dan tokoh-tokoh agama lain,” tutur Su’udi.
Ia menambahkan, dari keterangan awal sejumlah anggota aliran TMS, terlihat bahwa aliran itu menyimpang dari ajaran agama-agama. Misalnya, pengikutnya dibebaskan dari salat namun tetap dinyatakan akan masuk surga asalkan membayar `sedekah` berupa uang yang besarnya ditentukan oleh pemimpin aliran TMS.
Namun demikian, kepada wartawan, Suliani, 62, mengatakan siap mempertanggungjawabkan semua ajarannya. Dia mengaku ajarannya hanya bertujuan mencari ketentraman hati.
Ditemui di rumahnya, Suliani menegaskan bahwa dogma lima perkara (begitu ia memberi nama ajarannya) tidak ada sangkut pautnya dengan syariat agama mana pun. Hal inilah yang membuat ajarannya banyak diminati. Para pengikutnya berasal dari umat Islam, Nasrani hingga aliran kepercayaan.
“Saya tidak pernah menyalahi syariat agama apa pun. Jika MUI menganggap apa yang saya lakukan ini salah, silakan ke sini. Kita bisa bermusyawarah dan saya siap menjelaskan,” ujar Suliani.
Dogma lima perkara kehidupan yang diajarkannya sejak 1987 di antaranya mengajarkan bagaimana manusia berhak mengambil hak derajat. Kemudian mengambil hak ikhlas, mengambil hak ilmu, memerangi rasa kesedihan, dan ketidaktentraman, serta memerangi rasa kesombongan.
Suliani menyebutnya sebagai ilmu kalam. Ia mengaku memperoleh ajaran itu setelah melakukan pengembaraan hidup dari satu pondok pesantren ke pesantren lain.
Selain berguru di Ponpes Gontor Ponorogo, ia juga menyebut nama almarhum Kiai Dimyati asal Blitar sebagai salah satu guru spiritualnya.
Agar anggotanya bisa mengikuti kemampuan yang sudah dimilikinya, Suliyani mewajibkan setiap anggota mengeluarkan uang Rp 4 juta. Kakek satu cucu ini mengistilahkan imbalan tersebut sebagai mahar atau sedekah, yakni bentuk kompensasi karena memberi arahan sekaligus doa kepada anggota yang memiliki masalah hidup.
Ia menampik sedekah tersebut sebagai syarat penghapus dosa demi tujuan mendapat surga. Karenanya ia juga menyangkal jika ajaranya disebut aliran Tiket Masuk Surga.ais
Dibaca: 279 kali