Jombang | Surya-Muhammad Ponari, 10, dukun cilik yang dengan batu ajaibnya diyakini banyak orang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, ternyata tidak mampu mengobati dirinya sendiri. Buktinya, bocah kelas III SD warga Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang itu harus dilarikan ke Klinik Bhayangkara Jombang, karena sakit, Selasa (10/2) kemarin.
Ponari dibawa ke Klinik Bhayangkara sekitar pukul 10.00 WIB oleh beberapa petugas Polres Jombang, yang merasa khawatir atas kondisi kesehatan Ponari yang terus mengalami penurunan.
Sejak Senin (9/2) kemarin, suhu tubuh Ponari lumayan tinggi. Selain itu, Ponari juga sempat muntah-muntah. “Atas perintah kapolres (AKBP Mohammat Khosim, Red), Ponari kita bawa ke sini,” kata seorang petugas.
Sesampai di klinik, Ponari mendapat perawatan dari dr Gunawan, yang didampingi sejumlah tenaga paramedis. Usai melakukan pemeriksaan dan perawatan terhadap Ponari, dr Gunawan mengungkapkan, kondisi fisik Ponari memang tidak sehat karena kelelahan fisik setelah melayani ribuan pasien.
“Dia memerlukan istirahat untuk memulihkan kondisinya,” kata Gunawan. Tapi Gunawan tidak bisa menentukan sampai kapan dukun tiban itu harus istirahat, karena hal itu tergantung dari perkembangan kondisi fisik .
Tapi sekitar pukul 11.41 WIB Ponari sudah digendong keluar dari klinik oleh seorang anggota Koramil (Komando Rayon Militer) Megaluh. Selanjutnya, Ponari yang memakai sweater (baju hangat) warna biru lengkap dengan penutup kepala, dinaikkan mobil Isuzu Panther dan meninggalkan Klinik Bhayangkara.
Tidak diketahui ke mana Ponari dibawa. Saat itu, wartawan yang mengira Ponari dibawa ke Polres Jombang, harus kecele karena di sana tidak ada tanda-tanda keberadaan Ponari. Di markas Polres saat itu memang sedang dilalukan rapat Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) Jombang guna menyikapi kasus membanjirnya pengunjung Ponari, sehingga menyebabkan empat orang tewas dalam antrean. Tapi saat itu keberadaan Ponari tidak di Polres.
“Pokoknya Ponari kita minta untuk istirahat total. Soal tempatnya kita rahasiakan. Yang jelas dia aman,” kata AKBP Moh Khosim, Kapolres Jombang, usai rapat. Selama beberapa jam, para wartawan sempat kehilangan jejak keberadaan Ponari.
Tapi sore hari, Ponari ternyata sudah berada di rumah dinas Bupati Jombang Suyanto. Ponari rupanya memang sengaja dihadirkan dalam rapat lajutan Muspida, yang di sana juga hadir keluarga Ponari serta Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Megaluh.
Tapi sebelum ke rumah dinas bupati, yakni selama beberapa jam sejak dibawa keluar dari Klinik Bhayangkara, Ponari ternyata hanya diajak jalan-jalan oleh anggota Koramil Megaluh dengan naik mobil Panther.
“Saya ajak keliling kota, saya tunjukkan nama-nama kantor pemerintah, dan kantor-kantor lainnya,” kata anggota Koramil Megaluh yang enggan disebut namanya. Tindakan mengajak jalan-jalan Ponari itu, kata anggota Koramil Megaluh ini, selain guna menghindari liputan puluhan wartawan, juga agar Ponari tidak jenuh.
Praktik Ditutup
Menyusul tewasnya empat orang akibat mengantre pengobatan Ponari, praktik dukun cilik yang berlangsung sejak 17 Januari lalu itu, akhirnya dipastikan ditutup untuk waktu tidak terbatas sejak Selasa (10/2) kemarin.
Kepastian itu terungkap dalam lanjutan pertemuan muspida di rumah dinas Bupati Suyanto, yang berlangsung hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Dalam pertemuan itu, selain Bupati Suyanto dan unsur muspida, juga hadir unsur Muspika Megaluh, Kepala Desa Balongsari Nila Nurcahyani, serta keluarga Ponari, yang diwakili Paeno (paman Ponari) dan Mukharomah (ibunda Ponari). Juga dihadirkan Ponari sendiri.
Dalam pertemuan yang berlangsung santai itu, pihak perwakilan keluarga setuju menutup praktik pengobatan Ponari. Persetujuan keluarga Ponari itu diwujudkan dalam bentuk surat pernyataan, ditandatangani Mukharomah dan Paeno, serta sejumlah saksi.
Di antara saksi-saksi yang ikut tanda tangan itu adalah Camat Megaluh Adi Santoso, Kapolsek AKP Sutikno, dan Kades Balongsari Nila Nurcahyani. Bupati sendiri tidak ikut tanda tangan.
Ada empat poin alasan yang mendasari ditutupnya praktik Ponari. Di antaranya, Ponari harus memulihkan kesehatannya, kemudian Ponari yang masih anak-anak sehingga harus sekolah dan bermain, serta pihak keluarga tidak ingin mengganggu lingkungan sosial.
Ponari sendiri yang sempat ditanya Surya apakah masih ingin mengobati, tidak menjawab dengan ucapan, melainkan hanya menggelengkan kepala. Artinya, dia memang tidak berkeinginan mengobati lagi. Demikian pula, kata Ponari, makhluk gaib yang menghuni batu ajaib temuannya.
Sebelumnya, pihak keluarga sempat ragu-ragu untuk menghentikan pengobatan karena khawatir Ponari akan ngotot tetap mengobati pasien, sebab sudah mendapat perintah dari makhluk gaib penghuni batu ajaib miliknya.
“Kalau Ponari sudah setuju tidak melakukan pengobatan, berari makhluk gaib yang momong dia juga sudah setuju berhenti mengobati. Tapi itu sampai kapan kami tidak tahu,” kata Paeno, seusai pertemuan.
Menurutnya, batu ajaib itu ditunggu dua makhluk gaib, laki-laki dan perempuan bernama Rono dan Rani. Dua makhluk gaib itulah yang selama ini, kata Paeno, yang memberikan amanat kepada Ponari menolong orang sakit, melalui batu yang ditemukan pertengahan Januari lalu.
Kisah penemuan batu sebesar kepalan tangan anak-anak berwarna coklat kemerahan itu, cukup dramatis dan bernuansa mistis. Ponari dalam ceritanya beberapa waktu lalu mengungkapkan, batu itu ditemukan secara tidak sengaja, yakni saat hujan deras mengguyur desanya.
Sebagaimana bocah-bocah seusianya, Ponari bermain-main di bawah guyuran hujan lebat, yang sesekali diiringi suara geledek. Pada saat itu, bersamaan suara petir yang menggelegar, kepalanya seperti dilempar benda keras.
Sejurus kemudian, Ponari merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bersamaan itu, Ponari merasakan ada batu berada di bawah kakinya. Batu tersebut mengeluarkan sinar warna merah. Karena penasaran, batu itu dibawa pulang, dan diletakkan di meja.
Mendengar cerita Ponari, Kasim (ayahnya) menganggapnya hanya bualan. Bahkan neneknya, Mbok Legi membuang batu tersebut di rumpun bambu. Namun aneh, ketika sang nenek kembali ke rumah, batu itu sudah berada di tempat semula. Padahal lokasi rumpun bambu itu berjarak sekitar 100 meter dari rumah.
Beberapa hari kemudian, tetangga mereka mengalami sakit panas dan muntah-muntah. Tanpa ada yang meminta, Ponari membawa batu ajaib dan memasukkannya ke segelas air putih, kemudian diminumkan pada tetangga yang sakit. Ajaib, beberapa jam kemudian, tetangga tadi sembuh total.
Bermula dari sinilah, kemudian kabar tentang Ponari dan batu ajaibnya cepat beredar dari mulut ke mulut, dan akhirnya setiap hari rumah keluarga Ponari didatangi ribuan pengunjung.
Dengan ditutupnya praktik pengobatan Ponari, otomatis Ponari akan aktif lagi ke sekolah di SD Balogsari. Itu sebabnya, Bupati Suyanto seusai pertemuan kemarin sempat memberikan bekal kepada Ponari berupa peralatan sekolah. Meliputi tas, buku tulis, sepasang sepatu, serta sandal.
Bupati sempat bertanya kepada Ponari, keinginannya setelah dewasa ingin jadi apa. Ponari sepontan menjawab, ‘menjadi tentara’. Mendengar itu, Suyanto dan seluruh yang hadir tertawa.
Sementara itu, kendati praktik dukun cilik Ponari dihentikan, ribuan warga tetap memenuhi lokasi rumah Ponari. Mereka sebagian besar mengaku tidak mengetahui praktik pengobatan ditutup. Mereka yang umumnya berasal dari luar kota, tentu saja merasa kecewa. Syakim, 50, yang jauh-jauh datang dari Kerawang, Jawa Barat, dengan membawa mobil pribadi, harus gigit jari.
Syakim mengaku datang ke Ponari untuk mendapatkan kesembuhan bagi ibundanya, Asih, 80, yang menderita tumor rahim.
“Sudah saya bawa ke rumah sakit, tapi mereka tidak sanggup usia ibu sudah lanjut yang kalau dioperasi bisa membahayakan jiwa,” kata Syakim. Syakim mengaku akan melihat perkembangan, untuk menentukan secepatnya pulang atau menunggu beberapa hari.
Supandi, warga Desa/Kecamatan Sukolilo, Madiun juga mengaku kecewa. Dirinya yang datang pagi buta kemarin tak bisa berbuat banyak ketika diberitahu praktik Ponari dihentikan.
“Apa boleh buat, saya pulang dulu. Nanti saya simak beritanya saja, kalau sudah buka lagi baru kemari,” kata Supandi, yang mengaku hendak mengobatkan istrinya yang terkena asam urat.
Terkait masih banyaknya warga yang datang itu, Kades Balongsari, Nila Nurcahyani mengaku tak akan bosan untuk memberikan pengertian agar mereka tidak lagi datang ke rumah Ponari, karena pengobatan sudah dihentikan.
“Pengumuman akan dilakukan lewat berbagai cara, mulai lewat pengeras suara di rumah Ponari, lewat papan pengumuman di tempat-tempat umum serta masjid dan balai desa, serta tempat-tempat strategis,” jelas Nila.st8
Dibaca: 537 kali
Virus
[...] 22:15 dia udah pernah sakit khan? SURYA Online | Dukun Cilik Tak Bisa Obati Diri Sendiri, Kemarin Sakit, Dibawa ke Dokter sex is like math: you add the bed, subtract the clothes, divide the legs and pray you dont [...]
Gaya Pengobatan Ponari Makin Aneh ... - Page 7 - Gamexeon Forum
[...] 22:15 dia udah pernah sakit khan? SURYA Online | Dukun Cilik Tak Bisa Obati Diri Sendiri, Kemarin Sakit, Dibawa ke Dokter sex is like math: you add the bed, subtract the clothes, divide the legs and pray you dont [...]