Home » Jawa

Disambar Baling-baling, 2 Teknisi Tewas, Terjadi Saat Mesin Helikopter Dipanaskan

Jakarta | SURYA-Helikopter Super Puma milik Pelita Air Service (PAS) terguling saat dilakukan pemanasan mesin di hanggar Lapangan Terbang Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang, Banten, Kamis (29/1) sekitar pukul 09.40 WIB. Insiden ini menyebabkan dua teknisi yang sedang berada di dekat heli tersebut tersambar baling-baling hingga tewas seketika dengan kondisi tubuh terpotong-potong.

Kedua korban tewas adalah Sri Setiabudi alias Budi, 44, dan Ahmad Subardja, 52, sedangkan pilot Kapten Abdurrahman dan teknisi Hawari yang berada di dalam helikopter hanya mengalami luka.

“Begitu ground up, mesin hidup, helikopter tiba-tiba terguling menyamping ke kiri dan baling-balingnya menyambar dua teknisi yang ada di sekitar heli,” kata Bambang S Ervan, Kepala Puskom Publik Departemen Perhubungan. Pernyataan sama dikemukakan Direktur Komersial Pelita Air Karin secara terpisah.

Kata Bambang, pagi itu Kapten Abdurrahman dan teknisi Hawari bermaksud melakukan maintenance heli, karena helikopter jenis rotary wing itu pada Februari mendatang akan dicarter sebuah perusahaan di Jawa Timur.
Sementara Abdurrahman dan Hawari ada di dalam heli, dua teknisi lainnya berada di samping kiri heli. Begitu mesin dihidupkan, baling-baling utama berputar, sementara baling-baling di bagian belakang tidak berfungsi. Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba heli terguling lalu terbalik ke arah kiri.

Pada saat terguling itulah, baling-balingnya menyambar dua teknisi yang sedang menyiapkan peralatan di hanggar. Karena kerasnya benturan, kata sejumlah saksi mata, heli yang semula menghadap ke timur, berubah 180 derajat menjadi menghadap ke barat.

Kondisi heli juga parah. Seluruh baling-baling patah, kaca kiri dan kaca depan hancur berkeping-keping. Kondisi heli itu diketahui setelah evakuasi bangkai pesawat dilakukan sekitar pukul 12.30 WIB..
Sementara itu kondisi dua korban tewas sangat mengenaskan. Beberapa saat setelah insiden, kedua jenazah langsung dilarikan ke RS Fatmawati.

Pantauan di RS Fatmawati, mayat teknisi Sri Setiabudi, warga perumahan Bumi Pelita Kencana Blok A, Pondok Cabe, terlihat bagian dadanya terbelah. Sedangkan teknisi Ahmad Subardja, warga kampung Gondrong, Cipondoh, Tangerang, kondisi tubuhnya terpotong-potong. Hingga pukul 12.00 WIB, Tim Forensik dari RS Fatmawati masih berusaha menyambungkan potongan tubuh mayat Sri Setiabudi.

Hingga kemarin sore, Pilot Abdurrahman masih belum dimintai keterangan oleh polisi. “Kami belum minta keterangan saksi pilot karena masih syok,” ujar Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Chairul Anwar di lokasi, Pamulang, Tangerang, Banten.

Chairul mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan lembaga terkait untuk menyelidik penyebab tergulingnya heli yang menewaskan dua teknisi tersebut.

Corporate Secretary Pelita Air Servise (PAS) Guntur Winarko menduga kecelakaan itu akibat tidak seimbangnya baling-baling. “Posisinya mesin lagi dihidupkan. Mungkin baling-balingnya tidak seimbang lantas terbalik,” ujar Guntur Winarko.

Guntur Winarko sendiri menegaskan heli tersebut masih layak terbang. “Kondisinya layak terbang, terakhir terbang tanggal 27 kemarin,” ujar Guntur di kantor Pelita Air.

Secara terpisah, pihak KNKT mengatakan masih menyelidiki penyebab tergulingnya helikopter tersebut. “Hasil penyelidikan KNKT membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengetahui penyebabnya,” kata ketua KNKT Tatang Kurniadi.
Tatang menyatakan, setelah penyebabnya diketahui maka KNKT akan memberikan rekomendasi ke Dephub. “Nanti hasilnya juga akan kita umumkan ke masyarakat,” katanya.

Isak Tangis
Sementara itu, Kamis sore, pecah isak tangis di RS Fatmawati ketika pihak keluarga hendak membawa jenazah Ahmad Subardja. Sekitar 5 saudara almarhum datang, tiga di antaranya perempuan berkerudung. “Astaghfirullah ..astaghfirullah,” ujar mereka sambil terisak.
Pintu ruang jenazah pun seketika ditutup dari dalam, karena pihak keluarga tidak bersedia peristiwa itu diliput media.

Sementara jenazah Sri Setiabudi sudah disiapkan peti untuk diantarkan ke keluarganya di Pondok Cabe, Tangerang. “Kita akan antarkan langsung ke keluarganya,” ujar rekan Sri di Pelita Air Service, Aryo Bekti.
“Ini harus dimakamkan segera, karena kata dokter, urat-uratnya sudah putus. Jadi formalin nggak bisa berfungsi,” ujar Aryo.

Sementara itu Pihak Pelita Air menjanjikan akan memenuhi asuransi Jamsostek yang disediakan bagi karyawannya yang mengalami kecelakaan kerja. “Setiap karyawan kami asuransikan Jamsostek, tapi untuk kedua korban, kami belum bisa pastikan besaran nilai asuransinya berapa, karena kejadiannya juga baru tadi pagi,” kata Corporate Secretary Pelita Air Guntur Winarko. esy/kcm

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "