LITTLEHAMPTON | SURYA -Lucy Yates, 20, tidak pernah menyangka masih bisa menikmati hidup setelah mengalami tragedi yang nyaris merenggut nyawanya. Kedua paru-parunya tidak berfungsi, hatinya bocor dan luka dalam yang serius akibat 27 tusukan di tubuhnya.
Bahkan, jantungnya sempat berhenti berdetak tiga kali, yang membuat tim medis berpikir nyawanya telah melayang. Kini ia bersyukur atas keajaiban yang dialaminya. “Sungguh sebuah keajaiban saya masih hidup. Saya pikir saya mati. Keinginan terakhir waktu itu adalah bertemu kekasih saya,” kenang Yates, Selasa (28/1) ketika mengenang insiden 18 September 2008 itu.
Sehari sebelumnya, Yates baru saja pindah ke flat baru bersama kekasihnya, Peter John, 20. Untuk memperingati malam pertama tinggal di flat baru, Yates pergi ke supermarket di kawasan Somerfield, Littlehampton. Ia tidak sadar bila dikuntit Samuel Reid-Wentworth, 22, pasien rumah sakit jiwa yang berobat jalan. Saat melihat Yates, Reid-Wentworth yakin, perempuan berambut pirang ini akan membawanya kembali ke rumah sakit jiwa.
Beberapa menit kemudian, kala Yates sedang memilih cokelat untuk John, Reid-Wentworth menyerangnya dari belakang. Ia memiting leher Yates dan menusuknya dari belakang. Meski Yates telah ambruk ke lantai, Reid-Wentworth tak melepasnya begitu saja. Ia membungkuk dan melanjutkan menikam gadis tanpa berdaya itu.
Seorang pembeli sempat menarik kaki Yates, tapi gertakan Reid-Wentworth menciutkan nyalinya. “Saya psikopat. Saya akan kembali dan menikammu bila tak melepaskannya,” ancam pria itu.
Beruntung ada pria bersuara aneh menghampiri mereka. “Saya ingat, suaranya terdengar aneh dan ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. Si pelaku langsung berhenti menyerang saya, waktu ia berteriak, ‘Sudah cukup Nak. Itu sudah cukup,” tiru Yates.
Gadis itu langsung dilarikan ke rumah sakit Worthing dengan luka sangat parah. Butuh ratusan jahitan dan istirahat dua bulan sebelum Yates boleh pulang ke Pulborough, Sussex Barat.
Tim dokter menjelaskan, korban bisa bertahan karena masih muda. Jika usianya lebih tua lima tahun, sel-sel dalam tubuhnya tidak akan mampu membantu penyembuhan.
“Banyak orang mengatakan saya telah memaafkan si pelaku. Tapi tidak. Saya sangat marah. Saya tidak pernah melihat wajahnya saat menyerang saya, dan saya tidak ingin melihatnya sampai saat ini. Saya tidak ingin ia menghantui mimpi-mimpi saya,” tegas Yates.
Yates juga memutuskan untuk tidak tinggal lagi di flat tersebut karena kenangan pahit yang dialaminya. Reid-Wentworth sendiri tengah menjalani proses pengadilan dan menghadapi tuntutan karena melakukan percobaan pembunuhan. mail/tis
Editor : jps