JOGJAKARTA | SURYA Online - Bicara soal Merapi, pikiran pasti langsung tertuju pada sosok Mbah Maridjan. Itu lho, juru kunci Gunung Merapi yang menjadi bintang iklan bersama Chris John. Tujuan wisata Minggu ini memang Gunung Merapi, tapi kita tidak akan mampir di rumah Mbah Maridjan.
Ada obyek wisata baru yang letaknya tak jauh dari puncak Merapi (2.911 m dpl/meter dari permukaan laut) dan diapit dua gunung, Merapi dan Merbabu. Dibilang tak jauh karena lokasi wisata ini jaraknya hanya 2 km dari puncak Garuda, salah satu titik tertinggi Merapi. Namanya adalah Ketep Pass (celah Ketep). Disebut pass karena bukit ini merupakan titik terendah sebuah gunung sehingga bisa dilintasi dengan mudah.
Ketep Pass dikembangkan sebagai wisata baru dalam rangkaian kawasan wisata SSB (Solo, Selo, Borobudur) dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Wisata Ketep boleh dibilang tak kalah dengan wisata Gunung api Etna di Catania, Italia atau Gunung Mauna Kea di Hawaii. Jika di Mauna Kea, wisatawan bisa melihat lelehan lava yang bergerak lambat, di Merapi bisa disaksikan guguran lava pijar dari bukit ini. Tapi itu dengan satu syarat mutlak, tidak ada awan yang menutupi Merapi.
Ini kali ketiga saya mengunjungi Ketep. Tempat ini bisa dituju dari dua jurusan, Sawangan, Magelang atau dari Boyolali. Namun jalur favorit menuju Ketep biasanya adalah dari Sawangan karena menyambung dengan tempat wisata lain seperti candi Borobudur (30 km) atau Kopeng (32 km). Sawangan juga dilewati jalur transportasi utama Semarang – Jogja. Dari Jogja, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit, sedang dari Semarang sekitar 1 jam 30 menit.
Jika menggunakan kendaraan umum, mintalah turun di pabrik kertas Blabak. Dari sini, menyeberanglah karena angkutan yang akan membawa ke puncak Ketep sudah menanti. Harap sedikit bersabar karena angkutan jurusan Magelang - Selo - Boyolali ini tak begitu banyak.
Jika menggunakan kendaraan pribadi, dari arah Jogja sesampainya di pabrik kertas Blabak Anda bisa belok kanan, terus lurus sampai ke Ketep Pass. Jalan menuju Ketep Pass dari arah Sawangan, Magelang tak berkelok-kelok dan lebih banyak lurus. Berbeda dari arah Boyolali yang lebih banyak kelokannya.
Ketep Pass terletak di ketinggian 1.200 m dpl. Sesampainya di tempat ini, Anda bisa memandang puncak Merapi secara langsung. Jika beruntung, Anda bisa melihat guguran lava pijar. Di kunjungan ketiga ini saya kurang beruntung karena cuaca sedikit mendung sehingga puncak Merapi tertutup kabut. Maklum, bulan lalu wilayah Magelang dan Jogja sudah masuk musim penghujan.
Meski bisa melihat puncak Merapi secara langsung, pengelola tempat wisata ini tetap membangun dua gazebo besar dengan sisi sepanjang 5 m untuk pengunjung. Lokasi kedua gazebo ini sangat strategis karena berada di tepi jurang sehingga tidak ada pepohonan yang menghalangi. Dari sini, Anda juga bisa menikmati hamparan pertanian yang ada di bawahnya.
Sebagian besar pengunjung malah lebih suka menikmati pemandangan puncak Merapi dari udara terbuka, sekaligus merasakan dinginnya udara di ketinggian 1 km dari permukaan laut. Gazebo sendiri biasanya digunakan oleh rombongan besar untuk makan bersama.
Lebih Jelas dengan Teropong
Jika mata sudah tak awas lagi, dua buah teropong disediakan pengelola, tentunya Anda harus membayar. Satu di sisi timur dan satu lagi di sisi barat lokasi wisata ini. Dengan uang Rp 3.000, Anda bisa menikmati longsoran lava pijar dari jarak lebih dekat selama 15 menit. Ada juga teropong yang disewakan oleh anak-anak. Berbeda dengan milik pengelola, teropong yang disewakan anak-anak ini durasinya ‘bisa diatur’ dan tarif normalnya Rp 2.500 untuk 15 menit. “Kalau sampai 20an menit juga tidak apa-apa,”
sebut Roni yang menyewakan lima teropong bersama temannya, Agus.
Oh ya…Anda bisa melihat lima puncak gunung dari tempat ini. Selain puncak Merapi, puncak-puncak yang bisa dilihat dari sini adalah puncak Merbabu (3.142 m dpl), Sindoro (3.135 m dpl), Sumbing (3.321 m dpl), serta puncak Gunung Slamet (3.428 m dpl).
Jika puncak Merapi diselimuti kabut seperti ketika saya datang, cobalah Volcano Theater untuk mengobati keingintahuan Anda akan Gunung api paling aktif di dunia ini.
Tiket masuknya Rp 5.000 dan Anda akan disuguhi film dokumenter mengenai aktivitas Gunung Merapi selama 30 menit. Bioskop ini memiliki 78 kursi dan filmnya menceritakan tentang jalur-jalur pendakian, penelitian yang dilakukan di puncak Garuda serta letusan dahsyat Merapi, termasuk di antaranya ‘wedhus gembel’.
Saya sampai bergidik melihat keganasan Merapi ini. Embusan awan panasnya mampu merusak puluhan desa dengan jarak luncur 2 km sehingga sampai di kakinya. Letusan dahsyat terakhir tahun 2006 juga ada di film ini, termasuk runtuhnya dinding kawah.
Belum puas dengan film dokumenter tadi? Bolehlah Anda melanjutkannya dengan mengunjungi Merapi secara langsung, meski hanya miniaturnya.
Di bawah theater ini memang ada museum Merapi dengan miniatur gunungnya. Bentuknya persis dengan Merapi sebelum tahun 2006. Di tempat ini, Anda juga bisa melihat berbagai gambar aktivitas Merapi.
Pemandangan terbaik Merapi sebenarnya ada di daerah Selo, sekitar 2 km dari Ketep ke arah Boyolali. Di sepanjang jalan daerah pertanian ini, pasir di lereng Merapi terlihat seperti bergeser sendiri.
Sengatan Wedang Ronde & Kupat Tahu
Lelah memandangi Merapi? Anda bisa menemukan deretan penjual jagung bakar di sekitar Ketep Pass. Jika merasa ini makanan yang umum dijual di daerah dingin, Anda bisa turun ke Sawangan lagi, tepatnya depan pabrik kertas Blabak untuk menjumpai warung kupat tahu. Dinamakan warung karena memang tempat ini lebih mirip warung tenda pinggir jalan walau menggunakan teras rumah. Meski demikian, warung kupat tahu Asih ini termasuk legendaris di Magelang karena pemiliknya telah berjualan sejak lebih dari 30 tahun lalu. Dari awal berjualan, warung kupat tahu Asih ini lokasinya tetap di depan pabrik kertas Blabak.
Seperti kebanyakan makanan ‘berat’ di Jawa Tengah, kupat tahu atau tahu kupat, juga beraroma manis. Bahan utamanya adalah kupat, tahu, dan bakwan (di Surabaya disebut ote-ote) dengan sayuran taoge dan kubis. Tahunya tidak digoreng sampai kering tapi cukup setengah matang dengan kulit luarnya terlihat kecokelatan. Rosi, pengelola tahu kupat Asih ini menyebut kalau bagian dalam tahunya tetap matang.
Tahu, kupat dan bakwan ini kemudian diiris seukuran jari orang dewasa atau tergantung selera konsumen. Tidak seperti tahu lontong yang ditaburi taoge banyak, kupat tahu cukup diberi taoge satu jumput, sangat sedikit. Nah…ini yang membedakan kupat tahu Magelang dengan kupat tahu lain.
Kubis tidak diiris dalam keadaan segar, melainkan digoreng lembaran. Tapi tidak perlu lama-lama, cukup lima menit. Setelah itu baru dipotong-potong dan disatukan dengan tahu, kupat, dan bakwan sebelum ditaburi sedikit taoge. Setelah itu disiram air gula merah. Gula merah yang dipakai bukan sembarang gula merah, tetapi menggunakan gula aren. “Rasanya sedikit berbeda, lebih enak menggunakan gula aren,” sebut Rosi.
Setelah menyantap tahu kupat asli Magelang, Anda bolehlah meluncur ke kota Magelang yang jaraknya hanya 10 menit dari Sawangan. Di sana Anda bisa menemukan banyak penjual wedang ronde, tapi yang paling terkenal ada di daerah Tugu Wolu, dekat pasar besar. Ronde Magelang ini rasanya lebih pedas dari pada yang dijual di daerah lain. Rahasianya ada pada jahe. Meski berukuran kecil, jahe Magelang terkenal pedas sehingga sangat cocok untuk dijadikan penghangat. ravianto
Dibaca: 2325 kali
muhsin
keteb pancen apik
andri sulaksono
ketep pas memang bagus, baik dari lokasi yg strategis untuk melihat beberapa puncak gunung, alam sekitarnya juga indah. jalan munuju kesana jg enak tapi tetap menuntut kewaspadaan. menurut pengalaman saya dari ketep pas menuju boyolali lewat selo terdapat banyak sekali tikungan2 tajam yg mungkin tidak ada duanya di jawa. kalau lagi jalan malam hari sempatkan berhenti sejenak untuk melihat keindahan kota yg terlihat dari atas….bagus banget, spt melihat kota las vegas di malam hari
Nadya Zahra
Aslm wrwb,
Ooii,… aku sekeluarga belum lama ini ke Ketep Pas, kebetulan rumah Eyangku di sekitar Blabak,,so nggak begitu jauh dari situ. Brrr, .! Lumayan dingin udaranya, namun Viewnya bolehlah. Aku rekomendasikan buat kalian, luangkan waktu untuk transit,bener..nggak nyesel deh! Kulinernya… patut dicoba, selain yang dah disebutin di atas, ada lagi tongseng dan gule di Nggulon serta soto Pak Muh di Jl. Tambakan Muntilan. Wslm
kuswardono
mohon informasi contact person rumah makan di ketep pass